Aikido dari Cianjur, Maenpo dari Jepang

Aikido dari Cianjur, Maenpo dari Jepang
info gambar utama

Jepang dikenal sebagai negara yang kaya olahraga bela diri. Selama ini yang populer adalah karate atau sumo. Namun, ada satu cabang bela diri yang makin populer di Indonesia, yaitu aikido. Aikido merupakan bela diri asal negeri sakura yang menekankan pada prinsip kelembutan dan cara untuk mengasihi serta membimbing lawan.

Prinsip itu diterapkan pada gerakan-gerakannya yang tidak menangkis serangan lawan atau melawan kekuatan dengan kekuatan. Namun, jurus-jurusnya mengarahkan serangan lawan untuk kemudian menaklukkannya tanpa ada niat untuk mencederai.

Ternyata di Indonesia terdapat sebuah ilmu bela diri yang memiliki prinsip mirip dengan aikido. Membela diri bukan untuk mencelakakan lawan, tetapi berusaha tidak menyakiti, malah bermaksud menyelamatkan lawannya.

Bela diri khas tanah air tersebut berasal dari daerah Cikalong, Cianjur, Jawa Barat. Pertama kali ditemukan oleh seseorang dari kalangan menak (bangsawan) di Cianjur bernama Raden Jayaperbata pada 1816.

Jayaperbata muda memang sangat menggemari ilmu silat. “Diriwayatkan, lebih dari 17 pendekar silat di wilayah Cianjur dan sekitarnya pernah menjadi gurunya,” tulis R.H. Azis Asy’arie, dalam buku Silat Tradisional Maenpo Cikalong Gan Uweh: Kaidah Madi, Sabandar, Kari.

Meski begitu, dia tetap merasa ilmunya masih belum cukup, sehingga memutuskan kembali berguru kepada empat orang guru yang berasal dari daerah Batavia – sebutan Jakarta saat itu.

“Empat guru itu adalah Raden Ateng Alimudin—kakak iparnya sendiri—dari Kampung Baru Jatinegara, Abang Ma’ruf dari Kampung Karet, Abang Madi dari Gang Tengah, dan Abang Kari dari Kampung Benteng, Tangerang,” tutur Abah, sapaan akrab Azis Asy’arie.

Semua hasil berguru tersebut kemudian menjadi bahan perenungan untuknya. Dia merasakan suatu kegundahan, sebab semua ilmu bela diri yang dia kuasai berakhir dengan mencelakakan lawan.

Tambah lagi, dia juga semakin mendalami ilmu agama, serta menunaikan ibadah haji dan mengubah namanya menjadi Raden Haji Ibrahim. “Hal itu dirasa bertentangan dengan inti ajaran Islam dan tasawuf yang beliau dalami,” tulis Guru Besar Silat Tradisional Maenpo Cikalong aliran Gan Uweh tersebut.

Karena kegundahan hatinya itu, dia memutuskan untuk melakukan khalwat (perenungan) selama 40 hari 40 malam di sebuah gua kecil di Kampung Jelebud, pinggir Sungai Cikundul Leutik, Cikalong Kulon.

Dalam perenungannya, dia mendapat petunjuk dari Allah Swt. Petunjuk itu berupa ilham untuk menciptakan ilmu silat yang bukan berorientasi untuk mencederai lawan, tapi membuatnya tak berdaya tanpa merasa sakit. Ilmu silat itu diberi nama “Maenpo Cikalong”.

Ilustrasi latihan Maenpo Cikalong dengan prinsip
info gambar

Nama “Cikalong” disematkan sebagai penanda di mana ilmu silat ini ditemukan. Sementara “Maenpo” semakna dengan “silat” dalam bahasa Sunda khas Cianjur. Saat ini Maenpo Cikalong terbagi menjadi beberapa aliran. Abah Azis merupakan penerus Maenpo Cikalong aliran Gan Uweh.

Dari kampung halamannya di Cianjur, Jawa Barat, Abah Azis mengembangkan sebuah padepokan yang bernama Maenpo Cikalong Pancer Bumi dan menyebarkan ilmunya ke berbagai daerah di Indonesia seperti Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta.

Serangan yang Menyelamatkan

Setiap ilmu silat atau bela diri memiliki ciri khas masing-masing yang membedakannya dari aliran atau perguruan lain. Ciri khas atau karakter itu terkait dengan strategi bertarung, konstruksi anatomi, penekanan atau fokus pada teknik-teknik kaidah tertentu, dan nilai-nilai filosofis yang menjadi acuan aliran silat tersebut.

Sebagai contoh, ada ilmu silat yang mengutamakan kuncian dan bantingan. Ada yang mengandalkan kedahsyatan pukulannya. Ada juga yang terinspirasi dari gerakan-gerakan hewan seperti harimau: mengandalkan cakaran dan cengkeramannya.

Sedangkan yang membedakan Maenpo Cikalong dengan bela diri lain, adalah olah geraknya yang mengutamakan kepekaan rasa. Meski bela diri identik dengan kekuatan fisik dan kecepatan, Maenpo Cikalong lebih mengutamakan pada kepekaan rasa praktisinya guna memantau gerakan dan maksud lawan. Kemudian mengontrol situasi pertarungan sehingga pergerakan lawan dapat dikuasai.

Abah Azis sedang memberikan penjelasan tentang prinsip dasar jurus Maenpo Cikalong. | Google Image/Maenpocikalongdibandung.blogspot.com.
info gambar

Selain itu, pertarungan jarak dekat dengan menempelkan anggota tubuh ke badan lawan menjadi orientasi pesilat Cikalong. Hal itu dimaksudkan untuk memantau langkah atau gerakan selanjutnya yang akan dilakukan lawan dengan cara merasakannya.

Puncaknya, yang menjadi prinsip dasar dari Maenpo Cikalong ialah untuk menyelamatkan diri tanpa mencelakakan lawan. Dalam latihan tingkat lanjut, yang dilatih sudah bukan lagi sekedar olah gerak saja, tetapi bagaimana membuat lawan tidak berdaya tanpa merasa sakit hingga tak mampu meneruskan niatnya bertarung.

Di kalangan praktisi Maenpo Cikalong, dikenal istilah dalam bahasa Sunda yang berbunyi: Lamun masih keneh nyilakakeun batur, wayahna kudu diajarkan deui. Artinya kira-kira, “jika masih mengalahkan lawan dengan cara mencelakakan, berarti belum pandai dan masih harus belajar lagi,” tulis Abah Azis.

Tidak jauh beda dengan prinsip bela diri aikido yang menyelamatkan diri sendiri bukan dengan cara mencelakai. Maenpo Cikalong juga mengajarkan, bahwa lawan bukan untuk dicelakai tapi mesti diselamatkan.


(Sumber: Buku Silat Tradisional Maenpo Cikalong Aliran Gan Uweh: Kaidah Madi, Sabandar, Kari)

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini