Mengenal Berbagai Sifat Manusia melalui Wayang Topeng Malang

Mengenal Berbagai Sifat Manusia melalui Wayang Topeng Malang
info gambar utama

Malang adalah salah satu kota terbesar kedua setelah Surabaya di wilayah Provinsi Jawa Timur, yang memiliki luas 145,28 km. Selain dikenal sebagai daerah yang kaya akan tempat pariwisata, kota Malang juga memiliki salah satu kesenian yang khas yaitu Wayang Topeng Malang.

Wayang Topeng Malang ini sudah ada sejak abad 8 M saat masa kepemimpinan raja Gajayana. Awalnya, Wayang Topeng Malang ini biasa dilakukan di Candi Badut oleh para petinggi atau raja sebagai media pendidikan dengan mempertontonkan cerita yang mengikuti pola pikir India seperti menceritakan kisah Mahabarata dan Ramayana. Namun, semenjak kerajaan Singosari berkuasa, cerita Wayang Topeng Malang diganti dengan masa kepemimpinan Raden Panji, yang menceritakan tentang kepahlawanan, kebesaran kesatria-kesatria Jawa Jenggala dan Kediri serta kisah asmara Raden Panji Asmoro Bangun sendiri dengan Putri Sekartaji.

Dalam hidup setiap manusia pasti memiliki berbagai macam situasi yang berbeda. Hal ini telah tergambar pada Topeng Malang yang memiliki beragam model serta 5 warna dasar yaitu warna merah, hitam, putih, kuning dan hijau.

Topeng Malang di Kampung Wisata Topeng, photo by malangstrudel.com

Dimana masing-masing warna tersebut memiliki simbol dari karakter tokoh topeng yang akan diperankan. Warna merah berarti menggambarkan sifat pemarah, murka, licik ataupun pemberani. Hitam menggambarkan sifat kebijaksanaan. Putih menggambarkan sifat kejujuran, suci dan memiliki budi pekerti yang luhur. Kuning memiliki arti sifat kemuliaan, sedangkan Hijau menggambarkan watak damai.

Biasanya, tarian Wayang Topeng Malang ini dimainkan dalam beberapa sesi, pada sesi yang pertama yaitu sesi yang diiringi musik gamelan atau biasa disebut dengan gendang giro yang dijadikan sebagai penunjuk bahwa acara segera dimulai.

Sesi yang kedua, dijadikan sebagai salam pembuka yaitu untuk menyapa para penonton dan menyampaikan sinopsis cerita yang akan dibawakan dalam pertunjukan.

Sesi yang ketiga, adalah ritual sesajen yang dipercaya sebagai pemberi keselamatan bagi penonton dan para pemain agar acara dapat berjalan dengan lancar. Dan yang terakhir, merupakan inti acara yaitu pementasan tari topeng Malangan.

Tari Topeng Malang ini diperuntukkan sebagai pagelaran budaya baik dalam acara penyambutan tamu maupun acara pernikahan dan tentunya kebudayaan ini masih terus berkembang hingga saat ini khususnya di kota Malang.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini