Perjuangan Perempuan Indonesia dari Masa ke Masa

Perjuangan Perempuan Indonesia dari Masa ke Masa
info gambar utama

“Laki-laki dan Perempoean haroes misti sama-sama majoe”

(Anonim, dalam surat kabar Poetri Mahardika 16 Januari 1917)

Perempuan Indonesia telah mengambil peran penting dalam perjuangan perjalanan bangsa. Hal ini dapat digambarkan dalam kutipan surat kabar Poetri Mahardika tersebut, bahwa kemajuan sudah menjadi impian para perempuan sejak awal abad ke-20.

Gerakan perempuan Indonesia “Poetri Mahardika” di abad ke-20 ini telah menjadi awal majunya kesadaran perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya. Namun, apakah Kawan GNFI tahu bagaimana perjuangan perempuan Indonesia pada masa itu?

Berikut perjalanan gerakan perempuan Indonesia, dalam memperjuangkan hak-hak mereka.

Periode Melek Pengetahuan – Melawan Adat

Pada tahun 900-an, sebagai tanda awalnya nasionalisme di Asia, kebijakan etis membuka sekolah perempuan modern yang tersebar di daerah, dekat dengan lahan perkebunan kolonial, seperti Minahasa, Sumatera, Medan dan Jawa.

Hal ini dikarenakan pemerintah kolonial butuh pekerja kerani (juru tulis) di perkebunan atau perkantoran. Tak hanya itu, mereka juga butuh membangun keluarga “Boemi poetra kolonial” dengan nona pribumi yang pandai merajut, memasak, berdandan, dan bisa baca tulis.

Namun, seiring perkembangannya, setelah perempuan menjadi melek huruf, perempuan menjadi lebih kritis dalam melakukan perlawanan pertama mengenai adat kawin cerai yang merendahkan kedudukan perempuan pada saat itu dalam keluarga.

Dalam hal ini, perempuan menjadi lebih berkembang dan mempunyai pergaulan yang melampaui desanya. Mereka mampu membangun relasi dengan aktivis laki-laki terpelajar yang berguna untuk berdiskusi mengenai kesadaran perempuan, dan dapat menambah ilmu nasional.

Periode Melek Nasional - Terbentuknya Kongres Perempuan I

Kongres Perempuan Indonesia | strategi.id
info gambar

Periode ini terjadi setelah Soempah Pemoeda. Pada saat itu, Siti Soendari seorang aktivis perempuan, wartawan sekaligus pendiri buletin Perempuan Suara Pacitan mendapat kesempatan untuk berpidato di Kongres Sumpah Pemuda.

Setelah peristiwa penting itu terjadi, organisasi-organisasi perempuan Hindia-Belanda menyelenggarakan Kongres Perempuan I. Ketika itu, tema besar yang mereka bahas ialah mengonsolidasi perjuangan khusus perempuan dalam perjuangan lebih besar, yaitu memerdekakan Indonesia.

Kencenderungan perjuangan periodisasi ini merupakan gerakan perempuan memasukkan agenda hak perempuan untuk menjadi kebijakan sebagai negara kolonial. Dalam kongres ini dibentuk pula Persatoean Perempoean Indonesia (PPI), yang menggunakan federasi-federasi perempuan Indonesia. Di tahun berikutnya nama federasi tersebut diubah menjadi Perikatan Perhimpoenan Istri Indonesia (PPI).

Periode Koncowingking – Mengikuti Suami

Tumbuhnya kesadaran perempuan di tahun 1954 menjadikan organisasi perempuan yang awalnya bernama GERWIS (Gerakan Wanita Sedar) berubah menjadi GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia).

Saat itu, isu yang diperjuangkan ialah kesataraan dan pemberantasan buta huruf. Hanya saja, pada saat pasca peralihan kepemimpinan orde lama ke orde baru menjadikan gerakan perempuan dimusnahkan.

Sejak orde baru memimpin, gerakan perempuan melawan adat dan imperialisme tidak diperbolehkan. Yang diperbolehkan hanyalah menjalankan program nasional, yakni Keluarga Berencana dan menjadi anggota organisasi istri yang disebut Dharma Wanita (untuk istri PNS), dan Dharma Pertiwi (untuk istri ABRI).

Sedangkan untuk perempuan yang bukan istri dari PNS dan ABRI, akan diarahkan untuk aktif pemberdayaan kesejahteraan keluarga, Posyandu, atau menjadi penyuluh keluarga berencana.

Panca Dharma Wanita ialah sebuah ideologi peran agar perempuan tidak melanggar aturan, dan mereka dikontrol oleh suami atau pejabat negara dari lokal hingga pusat. Di sini, perempuan dijadikan alat mobilisasi politik rezim militer. Perempuan menjadi pasar bagi industri kosmetik, busana, dan alat kontrasepsi, sehingga realitasnya tetaplah koncowingking.

Periode Melek Demokrasi Melawan Otoritarisme Politik

Awal tahun 1980-an dipengaruhi oleh dekade perempuan Internasional 1975-1985. Sehingga, tumbuhlah organisasi baru yang berjuang merebut kembali hak perempuan karena dihancurkan. Organisasi tersebut ialah LSM Perempuan.

Kegiatannya mulai dari pengembangan ekonomi, advokasi, kekerasan terhadap perempuan, hingga mengangkat kembali hak dipilih bagi perempuan untuk menjadi wakil di parlemen.

Setelah dekade 1900-an, perjuangan merebut hak perempuan bergerak ke isu kekerasan perempuan yang memusatkan seksualitas, dan gender sebagai penindasan militerisme negara. Sehingga, Feminisme dan HAM komplementer membangun gerakan yang membongkar kekerasan negara terhadap perempuan sejak tahun 1965.

Selama periode ini, perjuangan merebut hak perempuan terwujud ke dalam isu-isu perempuan guna memobilisasi perlawanan terhadap otoritarisme orde baru. Dengan begitu, gerakan perempuan mendeklarasikan affirmative action (tindakan khusus sementara) diterima, dan dicantumkan ke dalam UU pemilu sekalipun masih ada catatan kelemahan.

Komisi nasional anti kekerasan terhadap perempuan juga telah dibentuk atas keputusan Presiden Habibie, sehingga perempuan mulai mendapatkan akses-akses dalam memperjuangkan haknya.

Setelah melewati periode-periode di atas, kedudukan perempuan Indonesia saat ini jauh lebih baik. Hal ini didasari karena telah banyak regulasi yang mengatur pengakuan tentang hak-hak perempuan. Bahkan hak perempuan dalam berkesempatan menjadi pemimpin, dan berpolitik juga terbuka dan terus berkembang di Indonesia.*

Sumber : Indoprogress.com | researchgate.net | jurnalperempuan.org | nasional.sidonews.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini