Makin Diminati, Garam Piramid Masuk yang Termahal di Dunia

Makin Diminati, Garam Piramid Masuk yang Termahal di Dunia
info gambar utama

Belum banyak orang yang tahu, kalau garam dari Bali ternyata memiliki kualitas sangat tinggi. Saking bagusnya, peminat garam ini ternyata makin bertambah di mancanegara. Sehingga dapat dikategorikan sebagai salah satu garam yang mahal di dunia.

Garam yang satu ini juga punya bentuk yang unik seperti piramid. Spesialnya lagi, bentuk piramid ini adalah bentuk alamiah yang dihasilkan oleh garam itu sendiri, tanpa melalui proses penyetakan. Di Indonesia, garam ini diketahui hanya ditemukan di Selat Bali.

Javara merupakan salah satu perusahaan yang hingga kini bertahan untuk memasarkan garam ini ke luar negeri. Bahkan tak jarang permintaan yang ada sering tidak dapat terpenuhi karena keterbatasan produksi.

CEO Javara Harlianti Hilman mengatakan, proses produksi garam ini masih sangat tradisional. Bukan tanpa alasan, proses tradisional ini masih tetap dipertahankan karena tidak ingin menghilangkan karakteristik garam piramid ini.

“Bukan kita yang produksi, kita hanya rediscover potensi di daerah. Kita sifatnya menguatkan tradisi yang ada, kuatkan lagi dengan koneksi ke pasar dengan uji lab dan lainnya,” jelas Herlianti seperti dikutip Detik.com.

Untuk harganya sendiri, garam piramid yang berkualitas premium ini dibandrol dengan harga Rp 120.000 per 100 gram.

Sumber Daya Alam Eksotis dari Buleleng

Sebenarnya garam piramid ini memang sudah lama menjadi salah satu sumber daya alam di Kabupaten Buleleng. Tepatnya di Kecamatan Tejakula, wilayah Buleleng Timur. Sebelumnya, harga garam ini masih cukup terjangkau. Hanya saja ketika permintaan semakin naik, kenaikan harga pun tidak bisa dihindarkan.

Bali Post pernah menyiarkan berita tentang garam piramid dari Kecamatan Tejakula ini. Saat itu, tahun 2017, harga garam piramid masih berada di kisaran Rp 26.000 saja per 100 gramnya. Semakin kesini ternyata semakin banyak yang menyadari akan keeksotisan garam ini. Sehingga permintaan terus naik.

Masih mengutip sumber yang sama, Herlianti mengatakan, “Ada orang-orang yang biasanya foodie (penggila kuliner) sangat apresiasi ingredients. Enggak cuman makan enak saja, tapi tergoda dengan yang mereka anggap eksotis. Di setiap negara selalu ada komunitas begitu. Kita suplai ke Australia juga masuk ke chef yang terkenal (di sana).”

Selain menjadi sumber daya alam yang eksotis, Pemerintah Kabupaten Buleleng sebenarnya sudah mengembangkan industri garam piramid sebagai destinasi wisata baru di sana. Proses pembuatan garam piramid yang akhirnya dikemas menjadi atraksi wisata, diharapkan dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Buleleng. Terutama wisatawan yang berasal dari Asia Pasifik, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat.

Mengutip dari laman Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Buleleng, garam istimewa ini hanya ditemukan di Buleleng. Meski Herlianti menyebutkan ada satu daerah lagi di dunia untuk dapat menemukan garam piramid ini, yaitu di Siprus. Hanya saja literasi tentang garam piramid di Siprus sangat terbatas.

Seorang petani yang sedang memanen garam laut di Tejakula, Buleleng, Bali
info gambar

Calon Warisan Tak Benda Dunia

GNFI juga pernah menyiarkan berita tentang istimewanya garam piramid ini pada tahun 2016 lalu. Saat itu ternyata pemerintah setempat sudah mengambil langkah untuk mendaftarkan garam piramid Bali menjadi Agricultural World Heritage atau Warisan Tak Benda Dunia yang berbasis pangan di organisasi pangan dunia, yaitu United Nations Food and Agriculture Organization (FAO). Pengajuan ini dilakukan melalui Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI.

Langkah itu juga diambil setelah para petani garam piramid mendapatkan penghargaan Adi Bhakti Minabahari dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Desember 2015 lalu. Namun hingga artikel ini diterbitkan, belum ada lagi kabar baru mengenai ini.

Salah satu alasan mengapa garam piramid pantas menjadi “calon” warisan tak benda dunia adalah teknik produksinya yang berbeda dengan produksi garam lainnya. Tidak seperti garam pada umumnya yang menggunakan petak tambak. Teknik spesial ini disebut dengan teknik "palungan" yang menggunakan kayu kelapa.

Proses produksinya yaitu dengan meratakan tanah yang dicampur air laut menggunakan tulud di tambak garamnya. Setelah mengering, lapisan permukaan tanah bagian atas dikeruk dan dinaikkan ke atas alat bernama tinjung. Air yang menetes dari dalam tinjung selanjutnya dijemur di dalam palung hingga garam mengkristal dan menghasilkan bentuk seperti piramid.

Belakangan, teknik tersebut dimodifikasi dengan teknologi green house atau rumah kaca. Caranya dengan melarutkan garam palungan yang sudah jadi dengan air tawar. Lalu larutan garam tersebut kemudian dimasukkan ke dalam green house atau rumah kaca untuk proses pengeringan. Jika cuaca cerah, dalam rentang 2-3 hari, garam piramid sudah bisa di panen.

Sayangnya, jika cuaca tidak mendukung maka pengkristalan atau pembentukan secara alami untuk memperoleh bentuk piramid akan tidak sempurna. Kalau sudah begitu, garam tidak bisa layak jual untuk konsumen yang memang khusus mencari garam piramid.

Karena proses pembuatannya yang sangat alami, maka garam piramid ini memang tidak mengandung bahan pemutih, pengawet, atau bahan kimia lainnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini