Sisi Lain Dr. Cipto Mangunkusumo, Berani Protes dengan Cara Jenaka

Sisi Lain Dr. Cipto Mangunkusumo, Berani Protes dengan Cara Jenaka
info gambar utama

Kali ini, GNFI akan mengajak kawan-kawan untuk mengenali sisi lain dari dr. Cipto Mangunkusumo. Sudah banyak sumber yang menceritakan kronologi tentang perjuangannya sebagai tokoh pergerakan nasional.

Namun, belum banyak yang secara khusus menyoroti kisah-kisah teladan tentang kepribadiannya yang unik dan kerap mengundang decak kagum. Malah terkadang sambil sedikit tersenyum akibat ulahnya. Penasaran dengan kisahnya? Yuk kita simak sama-sama.

Oleh teman-temannya, ia akrab disapa dengan panggilan "Onze Tjip" atau "Cip Kita". Sebagian masyarakat yang pernah ditolongnya, memberi julukan "dokter rakyat". Sementara, oleh sebagiannya lagi, ia juga dikenal dengan sebutan "wong pinter" atau orang pintar.

Semua julukan dan nama panggilannya itu tidak lepas dari kiprahnya dalam perjuangan melawan kolonialisme dan feodalisme yang menindas rakyat kecil.

Ia adalah dr. Cipto Mangunkusumo. Anak sulung dari Mangunkusumo, seorang priayi golongan rendah dalam struktur masyarakat Jawa. Ayahnya, Mangunkusumo, adalah seorang kepala sekolah dasar di Semarang, Jawa Tengah, yang kemudian menjadi pembantu administratur pemerintah kolonial Hindia Belanda di kota itu. Sementara ibunya, merupakan anak dari seorang tuan tanah di daerah Mayong, Jepara.

Ada dua versi berkaitan dengan tempat dan waktu Cipto dilahirkan. Dikutip dari Tirto.id, versi pertama hanya menyebutkan bahwa ia lahir di desa bernama Pecangakan. Tanpa dijelaskan di mana lokasi desa itu berada. Sumbenya berasal dari karya Akira Nagazumi (1989) yang berjudul Bangkitya Nasionalisme Indonesia.

Ki Hajar Dewantara, E. Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo. Tiga Serangkai pendiri Indische Partij | Google Image
info gambar

Menurut Achmad Baidowi & Dalimun Sentono (1979) dalam buku berjudul Tiga Serangkai, desa yang dimaksud berada di dekat Ambarawa, Jawa Tengah.

Sedangkan sumber kedua, berasal dari buku terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1977) berjudul Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Pembela Rakyat, Perintis Kemerdekaan, Pahlawan Nasional. Buku itu menuliskan bahwa Pecangakan adalah nama desa di Jepara.

Berkenaan dengan kesimpangsiuran tersebut, Tirto.id menegaskan, “Agaknya versi Ambarawa yang benar, karena Tjipto pun dikebumikan di sana.”

Begitu pula dengan waktu kelahirannya. Ada referensi yang menyebut Cipto Mangunkusumo lahir pada 1883. Namun ada pula yang meyakini bahwa Cipto dilahirkan pada 4 Maret 1886. Meski terdapat perbedaan dalam sumber-sumber tersebut. Yang dapat dipastikan adalah, dr. Cipto merupakan seorang pahlawan di masa pergerakan nasional yang berasal dari Jawa Tengah.

Protes dengan Cara Nyeleneh

Sejak masa mudanya Cipto memang dikenal sangat anti terhadap feodalisme dan kolonialisme. Hal itu terlihat saat dia menolak tawaran untuk menjadi pangreh praja atau pegawai pemerintah yang bertugas membantu pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Padahal, ketika itu, menjadi pangreh praja merupakan sesuatu yang sangat dihormati masyarakat pribumi pada umumnya. Kehidupan pun terjamin, asal selalu mematuhi segala perintah kaum kolonial, tanpa boleh mempertanyakannya.

Alih-alih jadi pegawai pemerintah, Cipto malah meminta izin pada ayahnya untuk melanjutkan pendidikan ke School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), sekolah kedokteran bumiputera pada waktu itu. Alasannya, ia ingin lebih dekat dengan rakyat yang tertindas akibat penjajahan.

Di STOVIA, aa mendapat julukan "een begaafd leerling' yang artinya "murid yang berbakat", dari guru dan teman-temannya. Kegemarannya belajar tampak dari semboyan yang sering Ia katakan, yaitu, “kewajiban pelajar ialah belajar, belajar, sekali lagi belajar”.

Di saat teman-temannya hobi berpesta dan bersenang-senang. Cipto malah lebih memilih menghadiri ceramah-ceramah, banyak membaca buku, bermain catur dan menikmati rokok. Karena itu, oleh teman-temannya, Cipto identik dengan blangkon, surjan, buku, rokok, dan permainan catur.

Berkaitan dengan blangkon dan surjan hitam yang identik dengan dirinya, itu ermula dari ketidaksetujuannya terhadap sebuah peraturan yang ada di STOVIA. Kala itu, di STOVIA ada peraturan yang menyebutkan bahwa pelajar dari Jawa dan Sumatera yang tidak beragama Kristen wajib mengenakan pakaian tradisional daerahnya. Pakaian ala barat, hanya untuk orang yang berasal dari keluarga dengan jabatan administrasi kolonial, atau pribumi dengan jabatan bupati.

Peraturan bernada diskriminasi tersebut membuat Cipto geram. Ia melayangkan protes dengan berpakaian surjan hitam serta ikat kepala yang biasa dikenakan petani dan rakyat jelata. Kemudian, dengan lantang ia mengatakan, “aku adalah anak rakyat, anak si kronis!”

Julukan "Onze Tjip" atau "Cipt kita" merupakan buah dari keberaniannya menentang peraturan yang diskriminatif itu. Baginya, peraturan diskriminatif tersebut adalah praktik politik kolonial yang arogan.

STOVIA, Sekolah kedokteran pertama di Pulau Jawa| Google Image/Okezone.com
info gambar

Di lain kesempatan Cipto juga kerap memprotes berbagai aturan yang dianggapnya berat sebelah. Diceritakan, setelah lulus dari STOVIA pada 1905, Cip wajib menjalani masa dinas pemerintah.

Aksi protesnya yang kerap bernada meledek sering membuat pemerintah kolonial gerah. Karena itu, Cipto sering dipindah tugaskan. Mulai dari Glodok, ke Amuntai, lalu ke Banjarmasin, dan terakhir di Demak.

Pada saat berada di Demak ini, ia kembali berulah dengan cara yang nyeleneh. Ia menyindir kebiasaan pemerintah Belanda dan kaum ningrat di Demak, dengan sebuah aksi menggunakan bendi.

Tanpa merasa takut, Cipto meniru kebiasaan mereka berkeliling kota naik bendi (kereta kuda) dengan kap terbuka. Tak pelak aksinya tersebut membuat kaum bangsawan di Demak dan pemerintah kolonial geleng-geleng kepala.

Cipto memang selalu punya cara jenaka untuk memprotes beragam diskriminasi dan penindasan. Suatu hari ia membeli sebuah karcis kereta. Kemudian ia memberikan karcis itu kepada seorang pengemis yang berpakaian compang-camping. Dimintanya pengemis tersebut naik ke dalam kereta yang isinya khusus orang-orang kulit putih.

Pengemis itu menurut saja apa maunya Cipto. Begitu sampai di dalam kereta, sontak seluruh penumpang berkulit putih itu dibuat gaduh karena ulah jahilnya. “Para penumpang ‘spesial’ kereta khusus itu berteriak-teriak dan berhamburan keluar karena jijik melihat si pengemis di dalam kereta khusus tersebut,” dikutip dari Kemendikbud.go.id.

Begitulah Cipto Mangunkusumo, sosok yang selalu berani menyuarakan protesnya terhadap kesombongan kaum penjajah, lewat aksi-aksi jenakanya. Dan masih banyak lagi aksi "nakal"-nya yang penuh humor serta mengundang decak kagum saat melawan berbagai bentuk penindasan di masa kolonialisme.

Meski sering membuat geram pemerintah kolonial, tapi sering pula Belanda bersikap melunak kepadanya agar Cipto lebih kompromis dan tidak banyak tingkah.

"Ndableg" tapi Murah Hati dan Penuh Kasih Sayang

Selepas dari ikatan dinasnya, dia membuka praktik dokter partikelir di Solo. Karena kemurahan hatinya pada rakyat kecil. Cipto langsung dikenal dengan sebutan "dokter rakyat".

Julukannya itu ia dapatkan karena kerelaannya masuk ke kampung-kampung naik sepeda untuk mengobati rakyat kecil dan tidak meminta bayaran. Namun, ketika didatangi pasien dari golongan kaya, ia akan mengenakan tarif yang berbeda pada pasiennya itu.

Walau ia telah dijuluki "dokter rakyat", masih banyak masyarakat di Solo yang lebih mengenalnya sebagai "wong pinter". Sebabnya, dulu istilah dokter masih asing didengar dan dokter pun masih jarang ditemukan. Cipto disangka dukun walau ia mengenakan alat-alat kedokteran saat mengobati pasiennya.

Saat jadi dokter di Solo pun Cipto tidak mengendurkan semangatnya melawan ketidakadilan. Dan bukan Cipto namanya, jika tidak punya cara jenaka untuk menyampaikan protesnya.

Saat hari sudah sore, selepas praktik sebagai dokter, ia sering kali jalan-jalan ke alun-alun. Kadang-kadang ia menggunakan bendi kesayangannya. Sama seperti ketika di Demak, Cipto menunjukkan jiwa anti feodalismenya lagi melalui suatu tindakan, yang oleh orang Jawa disebut "ndableg".

Solo tempo dulu | Google Image/Tumpi.id
info gambar

Ia sengaja meledek peraturan yang melarang bendi untuk lewat di depan keraton. Cipto dengan santainya memutari alun-alun dan keraton Sunan Pakubuwono X. Walau sudah beberapa kali mendapat teguran, tetap saja Cipto mengulangi perbuatannya itu. Sematan "ndableg" dalam arti positif, rasanya memang cocok untuk menggambarkan sikap keras kepala Cipto.

Namun, di balik sikapnya yang tegas dan jenaka, Cipto juga dikenal sebagai seorang yang humanis dan penuh kasih sayang.

Penghargaan Ratu Ditaruh di Bokong

Pada 1910, terjadi wabah penyakit pes di Malang. Wabah yang berasal dari kutu tikus itu merenggut ribuan nyawa masyarakat. Wabah pes juga sangat mudah menyebar karena pada waktu itu belum ada sarana kesehatan dan obat yang memadai.

Keadaan juga diperparah karena banyak dokter Belanda yang tidak mau turun tangan membantu dengan berbagai alasan. Geram akan hal itu, tanpa tedeng aling-aling, Cipto langsung berangkat menuju ke Malang.

Wabah pes pernah terjadi di Malang, jawa Timur pada tahun 1910 | Google Image/Ngalam.co
info gambar

Dengan telaten ia mengobati masyarakat yang terjangkit wabah mematikan itu. Bahkan ia juga menolong seorang anak yang hampir dibakar masyarakat karena dianggap membawa wabah penyakit pes. Ironisnya, orang tua si anak sudah meninggal karena terinfeksi penyakit pes.

Cipto mengangkat anak itu dari rumahnya yang sudah setengah terbakar. Tanpa rasa takut ia menggendongnya keluar rumah. Karena ayah-ibunya sudah meninggal, anak tersebut kemudian Ia adopsi dan diberi nama Pestiati. Cipto sangat menyayangi Pestiati dan memberi pendidikan dengan layak.

Karena jasanya memberantas wabah penyakit pes di Malang, Cipto dianugerahi bintang jasa Ridder in de Orde van Oranje Nassau dari Ratu Wilhelmina pada 1912. Namun, tidak sampai setahun bintang jasa itu digenggamnya, sudah dikembalikannya lagi.

Hal itu dilakukannya karena tidak diizinkan menangani wabah pes yang terjadi di Solo waktu itu. Tambah lagi, ia tidak sudi menerima penghargaan dari kaum penjajah.

Lagi-lagi dengan cara nyeleneh Ia mengungkapkan ketidaksukaannya. “Cipto pergi ke Batavia untuk mengembalikan penghargaan tersebut kepada yang memberikannya,” dikutip dari Tirto.id.

Di Batavia, Cipto menyematkan "si bintang emas" itu di kantong belakang celananya. Jadi, bila ada serdadu yang harus hormat pada anugerah Ratu Wilhelmina tersebut, serdadu itu harus hormat kepada bokong Cipto. Sungguh suatu tindakan nyeleneh yang mungkin dilakukan oleh orang bernyali besar, mengingat penghargaan itu berasal dari Ratu Wilhemina.

***

Masih banyak lagi kisah-kisah kepahlawanan yang menceritakan keberanian Cipto dalam melawan berbagai bentuk diskriminasi di masa kolonial. Bila diceritakan semuanya, tidak akan cukup dalam satu artikel pendek ini.

Yang terpenting dari kisah-kisahnya, Cipto telah mengajarkan kita untuk berani bersuara dan mengambil tindakan, jika ada sesuatu yang dapat merugikan banyak orang.

Hingga akhir hayatnya pada 8 Maret 1943, Cipto sudah berulang kali keluar masuk pengasingan akibat kata-kata dan sikap kerasnya terhadap pemerintahan kolonial. Meskipun begitu, Cipto tetap tidak pernah kapok dalam melawan berbagai bentuk penjajahan di Tanah Airnya. Justru dia bangga dan sangat bersyukur dengan ungkapan yang sudah disampaikan jauh-jauh hari sebelum meninggalnya.

“Kalau nanti aku harus menanggung segala akibat dari kata-kata keras yang kukeluarkan dari jiwa yang pedih, aku akan bersyukur kepada Allah untuk keadilan-Nya yang memberikan kenikmatan padaku dalam hukuman: kenikmatan bahwa aku dapat berbuat jasa bagi bangsaku. Tuntutlah aku, siksalah aku, aku tiada gentar!”

Sebagai generasi yang mewarisi hasil perjuangan Dr. Cipto Mangunkusumo, semoga kita dapat meneruskan semangat dan teladan baik yang telah dicontohkannya.

Sumber: Kemendikbud.go.id | Tirto.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PH
YF
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini