Santapan Istimewa Konferensi Asia Afrika dan Ritual Colenak

Santapan Istimewa Konferensi Asia Afrika dan Ritual Colenak
info gambar utama

Hari ini, 24 April 65 tahun lalu, konferensi tingkat tinggi yang dihadiri oleh 109 pemimpin negara se-Asia Afrika telah berakhir. Konferensi yang melahirkan Gerakan Non-Blok kala itu merupakan salah satu warisan Indonesia untuk perdamaian dunia.

Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung jadi saksi bisunya.

Namun ada hal lain yang sampai saat ini menjadi ikon dari penutupan KAA saat itu. Soal kudapan terakhir yang juga selama konferensi berlangsung selalu tersedia di meja para delegasi. Yaitu, Colenak.

Dicocol enak”. Begitulah nama makanan itu terbentuk. Kudapan berbahan dasar peuyeum atau singkong fermentasi atau tape singkong itu cara memakannya memang harus dicocol ke saus khusus. Yaitu saus gula aren.

Hingga kini, colenak yang disantap oleh para delegasi itu masih eksis. Menambah deretan nama saksi bisu tentang akbarnya konferensi 109 negara dunia itu.

Colenak Murdi Putra adalah merek colenak yang sampai kini masih ada. Bahkan sudah dipegang oleh generasi ketiga dari Murdi, pemilik Murdi Putra.

Padahal jauh sebelum perhelatan itu dilaksanakan, Colenak Murdi sudah ada sejak tahun 1930.

Tentang Colenak Murdi Putra dan “Ritual” Khusus Agar Tetap Eksis

Masih terkenang dalam ingatan Sopiah, anak Murdi, ayahnya membawa kabar gembira kalau panitia KAA akan memesan colenak mereka. Saat itu usia Sopiah masih 16 tahun.

Setiap hari dari tanggal 18–24 April selalu datang dua orang utusan panitia KAA yang datang mengambil pesanan colenak buatan Murdi di kawasan Cicadas, Bandung.

Sejak saat itu, kedai colenak ayahnya semakin ramai dikunjungi. Tidak jarang para delegasi yang penasaran dengan kudapan unik itu, datang langsung ke kedai.

Ditambah dengan banyaknya media massa lokal dan asing juga turut meliput colenak Murdi.

Delegasi Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 Sedang Mengambil Kudapan yang Disediakan
info gambar

Setelah Murdi meninggal pada 1966, Sopiah selalu mengenang kebanggaan ayahnya itu kepada anaknya, Betty Nuraety (43) yang kini menjadi generasi ketiga pemegang bisnis Colenak Murdi Putra.

“Waktu itu penyelenggara KAA datang ke tempat jualannya kakek (Murdi). Kakek diundang penyelenggara ke Hotel Homann. Ya kakek kaget sekaligus bangga karena colenak jadi sajian untuk pimpinan negara saat KAA,” ungkap Betty dikutip Detikcom.

Bukan tanpa alasan Sopiah menceritakan hal tersebut kepada anaknya. Sepenggal sejarah itu punya maksud bahwa Murdi hanya ingin makanan legendarisnya itu diteruskan turun temurun oleh anak cucunya.

“Setelah menerima pesanan colenak untuk acara KAA, kakek nggak melibatkan orang lain. Pembuatan colenak dikerjakan kakek dan nenek bersama anak-anaknya,” kenang Betty.

Betty juga pernah mengungkapkan bahwa dirinya tidak takut dan tidak pernah ragu kalau makanan legendaris racikan kakeknya ini terancam bangkrut. Seiring mulai berubahnya budaya makan orang Bandung itu sendiri.

Sejauh ini penerusnya--yaitu Sopiah lalu diturunkan lagi kepada Betty dan kedua kakaknya--selalu menjaga beberapa pantangan wasiat Murdi. Yaitu, tidak memunggungi pembeli dan tidak sambil berdagang bakso.

“Karena bakso itu bukan makanan tradisional Sunda. Jadi tidak boleh bercampur dengan colenak,” ungkap Sopiah dalam Tempo.

Kenapa Harus Colenak?

Pakar Wisata Warisan Budaya Gastronomi Indonesia, Dewi Turgarini, mengungkapkan bukan tanpa alasan colenak dipilih menjadi kudapan dan makanan penutup ratusan delegasi saat KAA 1955.

“Selain karena kesiapan menyiapkan makanannya, (para penyelenggara) juga memperhatikan tentang higienitas dan simplifikasinya,” ungkap Dewi kepada GNFI (22/04/2020).

Colenak dinilai tidak mudah basi dan cara penyajiannya pun sederhana.

Terlihat dari bahan baku peuyeum atau tape singkongnya yang pada dasarnya memang tidak mudah basi karena sudah melalui proses fermentasi. Lalu untuk dijadikan sajian colenak, peuyeum itu harus dibakar terlebih dahulu.

Setelah itu saus gula merah atau gula aren yang sudah dicairkan juga tidak mudah basi. Karena sausnya tersebut bisa dipanaskan sehingga mengurangi risiko basi. Tinggal penyajian terakhirnya ditaburi parutan kelapa untuk menetralisir paduan rasa asam dari peuyeum dan giung (terlalu manis) alami dari gula aren.

Satu hal lagi yang membuat colenak dikatakan sebagai kudapan spesial pada KAA 1955 adalah ada pada bahan baku gula arennya.

Dewi mengungkapkan bahwa pohon aren merupakan jenis tanaman yang sulit dibudidayakan di wilayah lain selain di tanah Bandung.

''Saya sampai hari ini tidak melihat adanya perkebunan pohon aren. Di Bandung (saja) saya temukan sedikit di daerah Dago dan Ciumbuleuit,'' katanya.

Pohon aren memang hanya bisa dibudidayakan secara alami dengan kultur iklim yang bagus. Sehingga hal inilah yang membuat istimewa gula aren menjadi bahan baku yang memperindah kudapan konferensi tingkat tinggi itu.

''Kalau menurut saya, gula aren itu barang mahal. Barang mewah. Karena itu tidak mudah (membudidayakannya),'' lanjut Dewi.

Dan satu lagi, hanya di Indonesia, khususnya di tanah Sunda, yang terpikirkan untuk bisa melakukan fermentasi pada singkong sehingga menjadi sebuah kudapan istimewa, yaitu peuyeum.

''Jadi, ada filosofi-filosofi yang kental dari colenak. Ketekunan orang Sunda dalam mengolah bahan baku, kemudian itu punya nilai manfaat yang tinggi di masyarakat Sunda,” pungkasnya.

--

Sumber: Tempo | Detik.com | Republika | Beritabaik.id

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini