Sejarah Hari Ini (26 April 1909) - Listrik ANIEM Aliri Jawa

Sejarah Hari Ini (26 April 1909) - Listrik ANIEM Aliri Jawa
info gambar utama

Pada 26 April 1909 di Surabaya, perusahaan gas Nederlandsche Indische Gas Maatschappij (NIGM) mendirikan anak perusahaan yang fokus pada aliran suplai tenaga listrik, yaitu Algemeene Nederlandsch Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM).

Perusahaan ANIEM dikelola swasta yang berada di bawah naungan NV Handlesvennotschap yang sebelumnya bernama Maintz & Co dan telah berdiri sejak 1897.

Induk perusahaan ANIEM sendiri berada di Amsterdam, ibu kota Belanda.

Tidak butuh waktu lama, ANIEM berkembang menjadi perusahaan listrik swasta terbesar di Indonesia dan menguasai sekitar 40 persen dari kebutuhan listrik di dalam negeri (Hindia Belanda).

Di sejumlah kota di pulau Jawa, beberapa sektor industri dan pusat pemerintahan mulai bergantung dengan aliran listrik ANIEM.

Contohnya, munculnya ANIEM di Surabaya memicu Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS) melakukan pengajuan pengoperasian trem listrik pada 31 Desember 1910.

Sementara itu di kota Yogyakarta, ANIEM mendapatkan hak mengusahakan jaringan listrik mulai Februari 1914.

Empat tahun kemudian, ANIEM merampungkan infrastruktur dasar kelistrikan dan siap beroperasi secara optimal.

Bangunan gardu ANIEM di Yogyakarta.
info gambar

Sejumlah gardu ANIEM (atau orang Jawa menyebutnya dengan sebutan babon ANIEM) berdiri di beberapa tempat di pusat kota Yogya, seperti sekitar benteng Baluwarti Keraton, Danurejan Malioboro, Pengok, Pingit, Kotabaru, dan Kotagede.

Seluruh wilayah kota Yogyakarta telah teraliri listrik pada 1922.

Setelahnya, ekspansi ANIEM terus berlanjut sampai luar pulau Jawa.

Menurut Madjalah Merdeka (1950), pada 1937 wilayah yang dialiri listrik ANIEM meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan.

Referensi: Kebudayaan.kemedikbud.go.id | Madjalah Merdeka | Prita Ayu Kusumawardhani, "Kereta Api di Surabaya 1910-1930" | Samidi, "Surabaya sebagai Kota Kolonial Modern pada Akhir Abad ke-19: Industri, Transportasi, Permukiman, dan Kemajemukan Masyarakat"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini