Filosofi Ulee Balang, Pakaian Adat Serambi Mekkah

Filosofi Ulee Balang, Pakaian Adat Serambi Mekkah
info gambar utama

Selain bahasa daerah, pakaian adat juga merupakan identitas kebanggaan nasional atau jati diri suatu daerah. Maka tak heran, jika pakaian adat sering digunakan dalam acara-acara penting dengan tujuan mewakili budaya atau identitas suku bangsa tertentu, seperti halnya kota Serambi Mekkah, Aceh.

Suku yang berada di ujung pulau Sumatera ini memang memiliki pakaian adat khas yang unik. Pakaian yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Islam ini juga biasa digunakan di kala upacara perkawinan, atau pertunjukan kesenian daerah seperti tarian adat.

Membahas mengenai pakaian adat Aceh, perlu Kawan GNFI ketahui bahwa pakaian adat Ulee Balang pada mulanya hanya dipakai oleh keluarga raja. Namun kini, busana tersebut dijadikan sebagai pakaian adat tradisional Aceh.

Terdapat dua nama atau istilah dalam pakaian adat Ulee Balang, yaitu Linto Baro untuk pakaian adat laki-laki dan Daro Baro untuk pakaian perempuan.

Berikut ulasan pakaian adat Aceh Daro Baro dan Linto Baro beserta filosofisnya.

Pakaian Adat Pria (Linto Baro)

Jalani Prosesi Adat Aceh, penampilan Roger | Foto: @brillio.net
info gambar

Pakaian Adat Aceh yang disebut dengan Linto Baro merupakan pakaian adat khusus digunakan oleh kaum pria. Pakaian ini biasa digunakan saat ada kegiatan pemerintahan dan upacara adat sejak zaman kerajaan Samudera Pasai dan Perlak. Dalam pakaian Linto Baro melingkupi tiga bagian, yaitu atas, tengah, dan bawah dengan dilengkapi senjata tradisional sebagai pelengkap penampilan.

Pada bagian atas terdapat meukeutop yang berfungsi sebagai penutup kepala atau mahkota kaum pria di Aceh berbentuk lonjong ke atas. Meukeutop dilengkapi dengan lilitan berbahan dasar kain sutera dan memiliki pola berbentuk bintang persegi delapan yang terbuat dari kuningan atau emas. Lilitan ini biasa disebut dengan tengkulok.

Terdapat lima warna yang dipadukan dalam desain meukeutop, yaitu merah yang melambangkan kepahlawanan, warna hijau yang mencerminkan agama Islam, warna kuning yang berarti kesultanan, warna hitam yang berarti ketegasan, dan warna putih yang melambangkan kesucian.

Lalu untuk bagian tengah, yaitu meukasah. Bagian yang paling penting ini dibuat menggunakan benang sutera yang ditenun. Baju meukasah biasanya berwarna hitam, simbol kebesaran menurut masyarakat Aceh.

Baju ini tertutup pada bagian kerah dan memiliki sulaman yang dijahit menggunakan benang emas. Meskipun Aceh didominasi dengan budaya Melayu dan Islam yang kuat, di dalam baju ini juga terdapat sedikit sentuhan budaya Cina, yang mana negara tersebut dahulu sempat menjadikan Aceh sebagai lintas perdagangan mereka.

Selanjutnya ialah, sileuweu dikenal dengan istilah celana cekak musangnya para pria. Sileuweu merupakan celana panjang berwarna hitam terbuat dari kain katun yang ditenun, dibagian bawahnya juga dilengkapi dengan hiasan pola terbuat dari benang emas.

Sileuweu juga dilengkapi dengan sarung songket sutera. Kain yang dikenal dengan nama Ija Lamgugap ini nantinya dikenakan pada bagian pinggang dengan panjang rata-rata di atas lutut. Kain ini wajib digunakan para pria sebagai pelengkap sileuweu, dengan tujuan agar dapat menambah kewibawaan pemakainya.

Tak lupa juga menggunakan pelengkap senjata tradisional Rencong. Senjata ini perlu dilibatkan dalam pakaian Linto Baro. Konon dahulu senjata ini biasa dipakai oleh para sultan dan pembesar.

Pakaian Adat Perempuan (Daro Baro)

Bertema Adat Aceh Pernikahan Roger Danuarta & Cut Meyriska | Foto: @linetoday

Pakaian Adat Daro Baro atau Peukayan Daro Baro merupakan pakaian adat yang khusus dikenakan oleh wanita. Berbeda tentunya dengan linto baro, kalau pakaian adat pria didominasi dengan warna hitam, Daro Baro justru memiliki pakaian adat dengan warna yang beragam, seperti hijau, kuning, merah, dan ungu.

Selain itu, Daro Baro juga memiliki banyak aksesoris berupa perhiasan sebagai pelengkap pakaian adatnya. Pertama, yaitu baju kurung. Desain baju yang dipengaruhi oleh budaya Arab, Melayu, dan Cina ini tak heran jika bajunya terlihat longgar yang bertujuan untuk menutupi bagian lekuk tubuh wanita.

Baju kurung berbahan dasar sama dengan Linto Baro, yaitu terbuat dari tenunan benan sutera dengan motif yang dibuat dari benang emas. Penggunaan baju kurung nantinya juga dilengkapi dengan sarung songket berfungsi untuk menutupi bagian pinggul wanita.

Songket itu nantinya akan diikat menggunakan tali pinggang yang terbuat dari perak atau emas, yaitu Taloe Ki leng Patah Sikureueng. Sedangkan untuk dibagian leher atau kerah dikenakan perhiasan wanita khas Aceh yang bernama Boh Dokma.

Para wanita juga menggunakan celana cekak musang atau Sileuweu. Hanya saja bedanya celana milik wanita lebih beragam warnanya dibanding milik pria.

Selanjutnya yaitu, perhiasan. Dalam pakaian adat Aceh para wanita menggunakan perhiasan yang cukup beragam, seperti Patam Dhoe yang merupakan perhiasan berbentuk mahkota, Subang atau anting-anting, dan Taloe Tokoe Bieung Meuih yang merupakan perhiasan berupa kalung.

Patam Dhoe merupakan mahkota yang memiliki keunikan tersendiri, yaitu pada bagian tengah terdapat tulisan kaligrafi bertuliskan lafadz Allah dan Muhammad yang dikelilingi dengan motif bunga dan bulatan-bulatan atau masyarakat Aceh menyebut kombinasi tersebut dengan Bungoh Kalimah. Mahkota ini menjadi bukti wanita tersebut telah menikah dan telah menjadi tanggung jawab suaminya.

Tak hanya mahkota saja, Taloe Tokoe Bieung Meuih atau perhiasan berupa kalung juga memiliki keunikan berupa kalung emas yang memiliki enam batu berbentuk hati dan satu berbentuk kepiting.

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa pakaian adat untuk pria Aceh memanglah lebih sederhana namun tetap terkesan berwibawa. Sedangkan pakaian adat untuk wanita lebih menyeluruh yang kaya akan keindahan serta pesona bagi pemakainya.*

Sumber : indozone.id | cleanipedia.com | moondoggiesmusic.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini