Takjil Favorit Masyarakat Muslim Tambrauw, Papua Barat

Takjil Favorit Masyarakat Muslim Tambrauw, Papua Barat
info gambar utama

Masyarakat Kabupaten Tambrauw memang didominasi oleh masyarakat pemeluk agama Kristen dan Katolik. Namun karena mulai banyaknya perantau dari Sulawesi Selatan, yang bersuku Bugis atau Bajo (Bajau), keberagaman pun terbentuk di Tambrauw. Ini karena masuknya agama Islam di wilayah pesisir Tambrauw.

Seperti ada sebuah garis yang membagi antara Selatan dan Utara Tambrauw. Di Utara, masyarakat Kristen yang mendominasi. Di Selatan, masyarakat Muslim banyak bermukim di sana.

Kurang lebih ada sekitar 10 persen masyarakat Tambrauw yang memeluk agama Islam dan banyak tinggal di bagian Selatan Tambrauw.

Meski begitu, hingga saat ini mereka tetap bisa hidup berdampingan. Tidak pernah terprovokasi dengan berbagai isu yang berkembang maupun aksi-aksi yang hendak memecah-belah persatuan dan kerukunan di sana.

Setiap tahunnya ada sebuah kebiasaan di Tambrauw, bahwa umat Kristen akan menjadi panitia Idul Fitri, dan umat Islam akan menjadi panitia Natal.

Bahkan tidak jarang, mayoritas masyarakat Kabupaten Tambrauw turut meramaikan suasana Ramadan. Salah satunya dengan banyaknya pedagang yang menyediakan makanan khas Papua Barat yang menjadi kudapan atau takjil favorit para penganut agama Islam.

Seperti di pusat pasar tradisional Kampung Emaus, di dekat pesisir pantai utara Tambrauw, Distrik Sausapor. Wilayah ini bisa ditempuh sekitar 10 jam perjalanan darat dari Manokwari, ibu kota Papua Barat.

Di sana banyak pedagang yang akan menjajakan menu-menu jajanan pasar untuk buka puasa. Sedikitnya ada tiga jenis kudapan yang paling banyak dicari. Konon, jajanan pasar ini merupakan campuran antara resep khas Bugis dan pesisir Papua Barat.

Setiap kali Ramadan tiba, aktivitas pasar di Kampung Emaus menjadi meningkat. Waktu berjualan akan selalu ramai di pagi hari dan sore hari. Pada pagi hari pasar akan ramai dikunjungi oleh masyarakat non muslim yang mencari sarapan.

Sedangkan pada sore hari pasar ramai dikunjungi masyarakat Muslim yang mencari tiga jajanan ini sebagai sajian buka puasa. Tak jarang masyarakat non muslim pun turut meramaikan suasana. Karena pada dasarnya tiga makanan ini juga merupakan makanan favorit mayoritas masyarakat Kampung Emaus, Kabupaten Tambrauw.

Berikut tiga jenis kudapan favorit khas Tambrauw untuk takjil buka puasa

Cantik-Manis

Kue Cantik-Manis Papua Barat
info gambar

Cantik-Manis merupakan jenis makanan yang paling sering dan banyak diburu oleh masyarakat muslim Tambrauw. Tak heran kalau jajanan ini selalu cepat habis.

Nama makanan ini memang menggambarkan penampakannya yang dianggap cantik. Tampilannya mirip kue putu ayu dengan warna hijau dan merah muda yang dominan. Hanya saja tidak menggunakan kelapa parut di atasnya.

Bahan dasar kue ini adalah tepung terigu yang dicampur dengan gula, santan, telur, perasan pandan, dan vanili. Itulah sebabnya “manis” dibubuhkan menjadi nama makanan ini.

Cantik-manis akan sangat pas jika disajikan dengan teh atau kopi saat berbuka puasa.

Kue Susu atau Kue Lontar

Banyak yang menyebut kalau kue lontar ini adalah pie susu khas Papua. Bukan hanya makanan khas di Papua Barat, Kabupaten Tambrauw. Hanya saja, beberapa masyarakat kerap menambahkan susu coklat pada adonan tepung, gula halus, dan minyak kelapa.

Kue lontar biasanya berbentuk bulat, ini karena nama makanan ini berasal dari bahasa Belanda, londart. Yang artinya kue yang berbentuk bulat.

Kue Lontar Khas Papua
info gambar

Jika kue lontar khas Papua kebanyakan berbentuk bulat, kue susu yang biasa dijual di pasar tradisional Kampung Emaus ini cenderung berbentuk kotak-kotak. Lalu dipanggang dengan oven manual.

Kue susu ini rasanya akan lebih manis dibanding cantik-manis. Jadi sangat cocok disajikan dengan teh pahit atau kopi pahit.

Kue Pia

Sekilas, kue pia khas Tambrauw mirip dengan kue pia yang sering kita temui di Jawa Tengah atau Bali. Pia Tambrauw juga terbuat dari campuran gula merah, tepung, dan kacang hijau.

Yang membuat pia ini khas Tambrauw karena ada campuran minyak kelapa pada adonannya. Minyak kelapa ini yang membuat pia khas Tambrauw terasa lebih renyah dibandingkan pia dari daerah lainnya.

Tidak seperti pia pada umumnya, pia khas Tambrauw rasanya tidak didominasi rasa manis. Melainkan rasa gurih. Cara memasaknya juga dengan cara dibakar sehingga wujud makanannya memang terlihat agak gosong.

Kue Pia Khas Papua Barat
info gambar

Memasak dengan cara dibakar ini bukan hanya sekedar kebiasaan. Melainkan Tambrauw merupakan wilayah yang penyebaran aliran listrik nya tidak merata. Sehingga masih banyak cara tradisional yang dilakukan.

Berbeda dengan dua kudapan favorit lainnya, kue pia ini tampaknya menjadi favorit masyarakat Tambrauw yang tidak terlalu menyukai makanan manis.

Diketahui semua jajanan pasar tersebut hanya dibanderol dengan harga Rp1.000 per buah. Pasar tradisional Kampung Emaus akan mencapai puncak keramaian pukul 18.00 WIT karena banyaknya umat Islam yang memburu jajanan ini untuk takjil.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini