Tweet Gedung Putih dan 'Hilangnya' Peran Sebuah Bangsa

Tweet Gedung Putih dan 'Hilangnya' Peran Sebuah Bangsa
info gambar utama

Pada tanggal 9 Mei 2020, sebuah tweet diposting oleh Gedung Putih. Nama akunnya adalah @Whitehouse. Inilah akun resmi kepresidenan Amerika Serikat. Tweet ini, memicu perdebatan dan sinisme dari begitu banyak orang.

Kebanyakan, responnya adalah mempertanyakan mengapa Gedung Putih justru menghilangkan peran sebuah negara yang perannya justru paling besar dalam mengalahkan Nazi Jerman. Yakni Rusia (dahulu Uni Soviet).

Di hari itu, tiba-tiba begitu banyak orang yang memposting gambar yang sangat ikonik, saat Yevgeny Khaldei, seorang tentara Soviet mengibarkan bendera Uni Soviet di atas reruntuhan Reichstag (mungkin mirip Gedung DPR) di ibukota Jerman, Berlin.

Begitu banyaknya foto-foto ini tersebar di sosial media (bahkan disebarkan bukan oleh orang-orang Rusia), hingga Facebook pun melarang penyebaran foto hasil recoloring tersebut.

Aneh memang. Peran sentral Soviet dalam mengalahkan Nazi Jerman seolah 'sengaja' dihilangkan dari memori kolektif banyak orang. Tak begitu banyak orang, atau media, atau produser film dunia, atau penulis buku, atau pembuat dokumenter, yang tertarik mengulas betapa besar pengorbanan Soviet dan jasa besarnya menggulingkan pemerintahan Nazi Jerman. Hal ini terjadi sejak begitu lama. Apakah ada unsur kesengajaan. Entahlah, tapi ada satu studi yang menggambarkan satu hal yang begitu menarik.

Studi ini dilakukan terhadap masyarakat Prancis (salah satu negara yang diduduki Nazi Jerman di awal Perang Dunia II), tentang siapa yang paling berkontribusi dalam mengalahkan Nazi Jerman pada 1945. Pada 1945, 57% rakyat Prancis menyatakan bahwa Sovietlah yang paling besar kontribusinya. Pandangan ini lambat laun berubah drastis.

Jika kita ditanya, siapa yang memenangkan Perang Dunia II di Eropa, banyak dari kita yang akan menjawab Amerika Serikat. Media barat sejak lama menggambarkan betapa heroiknya tentara-tentara Amerika, Inggris, Kanada, Australia, menggempur Nazi Jerman hingga bertekuk lutut dan menyerah.

Dalam imajinasi Hollywood, Perang Dunia II seringkali (hampir selalu) digambarkan dalam berbagai pertempuran heroik, di mana tentara-tentara Amerika Serikat (dan Sekutunya) begitu hebatnya, tak terkalahkan, dan menjadi pahlawan penyelamat dunia. Dalam berbagai buku, artikel, film dokumenter, pemimpin-pemimpin kemenangan tentara sekutu adalah Jenderal Dwight D. Eisenhower dari AS, juga Perdana Menteri Inggris Winston Churchill.

Narasi-narasi ini akan bergeser secara dramatis kalau kita pergi atau bertemu dengan orang Rusia. Di negara tersebut, Perang Dunia II melawan invasi Nazi Jerman disebut sebagai Great Patriotic War, dan selalu diingat dalam perspektif yang berbeda dibandingkan dengan orang-orang dari barat, atau kebanyakan dari kita.

Bisa jadi, tak pernah kita bayangkan juga, dimulai pada tahun 1941, Uni Soviet (kini Rusia dan beberapa negara tetangganya) harus menanggung beban begitu beratnya, ketika mesin-mesin perang Jerman tanpa ampun merangsek dari berbagai arah ke negeri Beruang Merah kala itu. Soviet yang pada dasarnya tak begitu bersiap diri, harus melakukan banyak hal untuk menghadapi bencana tersebut, mulai dari mengorganisir angkatan perangnya yang kocar-kacir, mengungsikan warganya yang diserbu Jerman, meningkatkan produksi mesin perang, hingga yang paling penting adalah mengusir tentara-tentara Nazi Jerman (dan sekutunya) dari tanah-tanah Soviet yang mereka duduki.

Uni Soviet adalah negara yang menanggung kerugian dan korban paling besar di Eropa akibat serbuan Jerman. Hampir 4 juta tentara Jerman menyerbu secara mendadak, dengan kecepatan yang luar biasa, gabungan angkatan darat dan udaranya yang terkenal menakutkan. Dalam sebuah pertempuran yang dikenal sebagai Pertempuran Stalingrad, titik keseimbangan mulai terjadi, di mana tentara-tentara Soviet mulai bisa mengimbangi kemampuan tentara Jerman yang mulai kelelahan dan diserang musim dingin yang hebat. Inilah titik balik Perang Dunia II.

Tentara Soviet dalam serangan balik di Stalingrad | RIAN archive 44732
info gambar

Pertempuran Stalingrad jauh lebih brutal, lebih mengerikan, dan jauh lebih menentukan jalannya Perang Dunia II dibanding pertempuran manapun di Perang Dunia II. Pertempuran tunggal ini memakan waktu selama 5 bulan, dengan kemenangan silih berganti antara pihak penyerbu (Jerman), dan pihak yang diserbu (Sovyet), begitu sengitnya, pertempuran ini memakan korban lebih dari 3 juta orang tentara, jumlah yang sangat besar dan tidak terbayangkan ( bayangkan jumlah total tentara Indonesia 'hanya' sekitar 400 ribu personel), belum lagi korban penduduk sipil.

Pertempuran Stalingrad adalah pemicu awal kekalahan Nazi dalam perang dunia II, setelah perang tersebut, pasukan tempur Jerman hanya bisa bertahan lalu mundur, tak pernah lagi mengambil inisiatif serangan.

Seorang sejarawan dan jurnalis Inggris Max Hastings dalam "Inferno: The World at War, 1939-1945" menulis bahwa Tentara Merah(Uni Soviet) adalah "mesin utama penghancur (utama) Nazisme," Uni Soviet membayar harga paling mahal akibat Perang Dunia II. Diperkirakan sekitar 26 juta warga Soviet tewas selama Perang Dunia II, termasuk di dalamnya sebanyak 11 juta tentara. Pada saat yang sama, ¾ kerugian dan kematian Angkatan Perang Nazi Jerman di seluruh Perang Dunia II diakibatkan karena perang mereka melawan Uni Soviet.

Hastings menambahkan "Sebuah keberuntungan besar Amerika Serikat dan Sekutu Baratnya bahwa Rusia lah, yang paling bersusah payah mengalahkan Nazi Jerman. Dalam Aliansi Besar (Grand Alliance) antara Amerika Serikat – Inggris – Soviet, 95% korban berasal dari tentara Soviet”. Bayangkan, untuk setiap prajurit Amerika yang terbunuh dalam pertempuran melawan Jerman, 80 tentara Soviet tewas dalam melakukan hal yang sama.

Eisenhower dan Zhukov | https://www.brookdalecc.edu/
info gambar

Dalam memoirnya, Eisenhower yang terbang ke Soviet pasca perang mengatakan bahwa dia tidak melihat satupun bangunan yang utuh dari saat memasuki wilayah Soviet di barat, hingga masuk ke dekat Moscow. Eisenhower juga menceritakan bahwa Jenderal Zukhov dari Soviet mengatakan padanya bahwa begitu banyak anak-anak, wanita, dan orang-orang tua yang dibunuh oleh Jerman, hingga Zukhov mengakui begitu mustahilnya memperkirakan jumlah korban keseluruhan di pihaknya.

Lalu mengapa Perang Dunia II yang terjadi di front timur (Jerman vs Sovyet) sedikit kita pelajari, sedikit diberitakan, dan jarang dibuat filmnya? Jangan lupa, di front barat, Jerman dikeroyok banyak negara, sedangkan di timur, musuh Jerman dalam pertempuran hanya satu, yakni Tentara Merah Sovyet. Sekali lagi, mengapa seolah peran Sovyet dalam kemenangan ‘dunia’ atas Nazi tidak selalu dimunculkan ? Kenapa lebih banyak orang yang memahami bahwa kekalahan Jerman adalah karena kekuatan tempur AS dan sekutunya yang jauh lebih superior?

Jawabannya hanya satu. Peran propaganda di media. Media barat yang kuat, kekuatan industri filmnya yang menggenggam dunia, adalah alat propaganda yang hingga saat ini tidak punya lawan seimbang. Apalagi, Sovyet waktu itu sedikitpun tidak memiliki kekuatan media seperti yang dipunyai negara-negara barat, sehingga praktis selama perang dingin (perang tanpa pertempuran fisik pasca Perang Dunia II), Sovyet menjadi ‘bulan-bulanan’ media barat. Dan hingga kini, sisa-sisa dari hasil propaganda barat tersebut belum sepenuhnya hilang. Ada ribuan film, buku, dan dokumenter yang ‘mengagungkan’ kehebatan dan kepahlawanan sekutu dalam mengalahkan Nazi, namun saya belum melihat ada satupun film yang cukup berarrti dalam mengangkat peran sangat sentral Sovyet dalam mengalahkan Jerman secara total. Inilah kekuatan media.

Bulan ini, Rusia memperingati kemenangannya atas Nazi yang ke 75 tahun. Sebuah angka psikologis. Namun tahun ini, karena wabah Covid-19, parade pasukan yang setiap tahunnya begitu gegap gempita, tak terjadi. Dan lagi-lagi, hanya sedikit media dunia yang mengabarkannya.

==

Russia's role in WWII isn't 'part of our collective memory'. (n.d.). Retrieved from https://www.pri.org/stories/2019-05-09/russia-s-role-wwii-isn-t-part-our-collective-memoryTharoor, I. (2015, May 8).

Don't forget how the Soviet Union saved the world from Hitler. Retrieved from https://www.washingtonpost.com/news/worldviews/wp/2015/05/08/dont-forget-how-the-soviet-union-saved-the-world-from-hitler/

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini