Bukti-bukti Bahwa Sejak Jaman Sriwijaya, Orang Indonesia Sudah Rajin Cuci Tangan

Bukti-bukti Bahwa Sejak Jaman Sriwijaya, Orang Indonesia Sudah Rajin Cuci Tangan

Ilustrasi © Shutterstock.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Virus corona [COVID-19] yang melanda dunia, membuat setiap warga negara, termasuk Indonesia, sesuai protokol kesehatan, diminta rajin mencuci tangan. Menggunakan masker, mengonsumsi makanan sehat, serta menjaga lingkungan yang sehat juga dilakukan agar tidak tertular corona.

Berdasarkan buku Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Lautan Selatan karya Yi Jing [It-sing] yang diterjemahkan dari A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelaho oleh J. Takakusu, B.A., Ph.D, digambarkan bagaimana tata cara hidup sehat masyarakat Nusantara. Ini berdasarkan ajaran Buddha, yang dilakukan para biksu di India maupun di Sriwijaya.

Tata cara hidup sehat, kemungkinan besar juga dilakukan masyarakat biasa. Sebab, mereka [penganut ajaran Budha] percaya tubuh yang sehat akan lebih mudah menuju kesucian jiwa.

Sumber : Goodreads.com

Beberapa catatan Yi Jing mengenai cara hidup sehat antara lain Pembersihan Setelah Bersantap, Dua Kendi untuk Menyimpan Air, Penggunaan Kayu Pembersih Gigi, Tentang Buang Air Besar, Aturan Tidur dan Istirahat, Manfaat Olahraga yang Tepat untuk Kesehatan, Gejala-Gejala Penyakit Fisik, Aturan Dalam Memberi Obat, serta Pengobatan yang Merugikan Hendaknya Tidak Dipraktikan.

Beberapa pemikiran penting dari catatan tersebut adalah misalnya mencuci tangan. Ini dilakukan bukan hanya sebelum makan, juga sesudahnya. Bukan hanya tangan yang dicuci dan dibersihkan, juga mulutnya.

Pembersihan setelah buang air besar, bukan hanya menggunakan air, juga bubuk batu bata, serta tangan kiri yang digunakan untuk membersihkan juga disterilkan berulangkali.

Olahraga yang sering dilakukan yakni berjalan pagi hari [sebelum pukul sebelas] dan sore hari. Olahraga berupa jalan di taman sangat membantu kesehatan.

Disebutkan Yin Jing, setiap orang adalah raja tabib bagi dirinya. Jika seseorang mengalami sakit, hendaklah dia berpantang makan [puasa] selama beberapa hari. Pasien diperbolehkan minum, seperti air panas yang dicampur dengan jahe kering. Kemudian menggunakan minyak hangat atau menyelimuti tubuh. “Berpuasa adalah pengobatan yang efektif,” tulis Yin Jing.

Dicatat Yin Jing, makanan seperti sayuran dan ikan sebaiknya dimakan setelah dimasak matang dan dicampur dengan minyak samin, minyak atau bumbu.

Bukan hanya Sriwijaya

“Saya percaya hidup sehat itu bukan hanya berlaku bagi kalangan biksu, juga di masyarakat umum. Para biksu ini mengajarkan hal-hal baik bagi masyarakat,” kata Dr. Husni Tamrin, budayawan Palembang, yang fokus pada kebudayaan melayu Sriwijaya.

“Jadi kebiasaan mencuci tangan, membersihkan diri, dan mengonsumsi makanan sehat, juga dipraktikkan sebagian besar masyarakat di masa Kedatuan Sriwijaya. Biksu adalah orang yang dihormati, sehingga ajaran dari mereka pasti banyak yang mengikutinya, terutama yang beragama Buddha,” kata Husni.

Sebenarnya, kata Husni, perilaku hidup sehat dijalankan masyarakat di Nusantara, bukan hanya di masa Kedatuan Sriwijaya. Juga, di masa Kerajaan Majapahit dan sejumlah kesultanan.

Tasriani, petani di Desa Muara Danau yang juga menjaga kelestarian sumber mata air di desanya. Foto Nopri: Ismi/Mongabay Indonesia

Semua ajaran agama, selain Buddha, seperti Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan lainnya, juga mengajarkan hidup sehat. “Bahkan dalam ajaran Islam, soal mencuci tangan atau anggota tubuh dalam satu hari minimal lima kali dilakukan, yakni saat berwudhu,” ujarnya.

Budaya mencuci tangan, merawat tubuh, membersihkan diri setelah membuang hajat, berolahraga, berpakaian bersih, serta mengonsumsi makanan sehat, hampir menjadi bagian penting dari setiap kelompok masyarakat.

Buktinya kita memiliki berbagai aktivitas olaraga, seperti bela diri, lomba perahu, dan sebagainya. Kita juga mengenal banyak ramuan obat, jamu, serta kuliner yang sangat baik bagi tubuh.

Yusuf Bahtimi, peneliti dari CIFOR, mengatakan lingkungan Indonesia di masa lalu memang sangat mendukung perilaku hidup sehat.

“Hutan yang masih lestari membuat air bersih melimpah, sehingga mencuci tangan, mandi, mudah dilakukan. Tidak seperti di berbagai wilayah lainnya di dunia. Tapi, saat ini kondisi Indonesia memprihatinkan. Masih banyak orang Indonesia yang kesulitan mengakses air bersih karena perubahan bentang alam, terutama gundulnya hutan. Banyak kota juga sanitasinya buruk,” kata Yusuf.

Keberadaan hutan juga mampu menghasilkan udara sehat, sehingga imunitas tubuh manusia terjaga baik.

“Coba kalau hutan dan sungai di Indonesia masih baik, mungkin pendemi COVID-19 tidak mengkhawatirkan seperti saat ini,” katanya.

Kembali ke alam

Guna hidup sehat, kata Husni, bangsa Indonesia tidak harus belajar dengan kebudayaan asing. Kembalilah pada akar budaya Indonesia. Reformasi budaya ini mencakup banyak hal, mulai dari cara hidup, makanan, serta obat-obatan.

“Tapi guna mereformasi budaya ini, memang syaratnya cukup sulit, sebab alam harus dikembalikan menjadi baik seperti masa lalu. Sebab, semua sumber kehidupan sehat bangsa Indonesia selama ini bergantung pada alam. Hutan, sungai, danau dan laut harus dilestarikan dan dijaga, baru bangsa ini akan hidup sehat seperti dulu,” katanya.

Hikmah dari pendemi corona, kata Yusuf, Pemerintah Indonesia harus menata ulang lingkungan atau alam di Indonesia. “Jika tidak dilakukan, berbagai pendemi virus baru akan menyerang negara ini di masa mendatang,” ujarnya.

“Prinsipnya hidup sehat harus didukung lingkungan sehat. Lingkungan yang sehat akan mengembalikan budaya bangsa Indonesia yang sehat. Pemerintah harus mengembalikan hutan, sungai, laut menjadi lebih baik, dan memperlakukannya secara arif jika terkait kepentingan ekonomi,” katanya.

Berbagai industri yang merusak hutan, sungai dan laut, harus segera dihentikan. “Harus dicari industri yang lebih arif terhadap lingkungan,” paparnya

==

Artikel ini adalah dipublikasikan kembali oleh GNFI atas MoU dengan Mongabay Indonesia, dengan judul asli "Refleksi COVID-19: Sejak Dulu Bangsa Indonesia Rajin Mencuci Tangan"

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Secercah Harapan Badak Jawa, Mari Menapaki Jejak Hewan yang Hampir Punah Ini Sebelummnya

Secercah Harapan Badak Jawa, Mari Menapaki Jejak Hewan yang Hampir Punah Ini

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Akhyari Hananto

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.