Kisah Rombongan Presiden Soekarno Menuju Yogyakarta dengan Kereta Luar Biasa

Kisah Rombongan Presiden Soekarno Menuju Yogyakarta dengan Kereta Luar Biasa
info gambar utama

Selama masa pandemi Covid-19, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengoperasikan Kereta Luar Biasa (KLB) untuk melayani masyarakat yang memiliki kebutuhan mendesak untuk bepergian ke daerah tujuan tertentu.

PT KAI menetapkan syarat bagi masyarakat yang ingin menggunakan kereta tersebut, yaitu dapat menunjukkan hasil tes PCR atau rapid test yang hasilnya negatif dan masih berlaku. Kereta Luar Biasa merupakan kereta api yang jadwal berangkatnya berada di luar jadwal kereta api reguler, dan dijalankan karena kebutuhan yang bersifat penting atau sangat mendesak seperti yang ditulis Majalah Kereta Api edisi Juni 2015.

Kereta Api Luar Biasa beroperasi sejak 12 Mei hingga 11 Juni 2020. Dilansir dari situs resmi PT KAI, kereta reguler secara bertahap akan mulai dioperasikan kembali mulai tanggal 12 Juni 2020 dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang telah diatur.

Tidak hanya di masa pandemi Covid-19, ada beberapa KLB lain yang pernah dioperasikan oleh PT KAI. Salah satunya adalah KLB yang mengangkut Presiden Soekarno pada 3 Januari 1946 silam.

Semenjak NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) datang ke Indonesia pada September 1945, kondisi Jakarta sebagai ibu kota menjadi kurang kondusif. Banyak gangguan yang dilakukan oleh NICA untuk mengganggu kehidupan politik di Jakarta kala itu.

Sudah tentu gangguan-gangguan tersebut membuat pejabat-pejabat negara tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008), awal 1946 ulah tentara-tentara NICA di Jakarta dianggap sudah terlalu jauh.

Kondisi itu akhirnya membuat Soekarno memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke daerah yang lebih aman. Yogyakarta dipilih menjadi daerah untuk menjadi pusat pemerintahan Indonesia untuk sementara waktu. Dipilihnya Yogyakarta juga tidak terlepas dari kesanggupan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang siap mendukung secara politik dan materi, seperti yang ditulis J.B. Soedarmanta dalam Jejak-jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia (2007).

Di tengah kondisi Jakarta yang kurang aman, para pegawai kereta api langsung mencari dan menyiapkan gerbong-gerbong yang masih bagus dan layak dipergunakan untuk membawa rombongan presiden.

Kereta api dipilih untuk mengantar rombongan menuju Yogyakarta karena dianggap lebih aman daripada menggunakan kendaraan lain. Menurut Budi Gundawan dalam skripsinya di Program Studi Ilmu Sejarah FIB UI, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kehidupan Sosialnya Pada Masa Perang Kemerdekaan (1945-1949) kereta yang sudah disiapkan sengaja diletakkan dekat dengan kediaman presiden Soekarno di Pegangsaan Timur yang berada di pinggir rel kereta api.

Rangkaian KLB terdiri atas delapan gerbong dan ditarik dengan lokomotif uap C2849. Gerbong bernomor IL.7 dan IL.8 yang diisi oleh presiden dan rombongan sengaja diletakkan dibagian paling belakang rangkaian KLB. Gerbong ini telah dilengkapi dengan sistem pendingin udara dengan menggunakan es balok yang dihembuskan ke dalam gerbong.

Dalam kegelapan malam, kereta mulai berjalan perlahan meninggalkan Jakarta. Lampu-lampu KLB sengaja dimatikan untuk menghindari kecurigaan dan baru dinyalakan setelah memasuki Stasiun Klender, seperti yang ditulis oleh Peter Kasenda dalam Bung Karno Panglima Revolusi (2014).

Kereta mulai berjalan cepat ketika sudah melewati wilayah Jakarta. Saat tiba di stasiun-stasiun, seperti Cikampek, Cirebon, Prupuk, Purwokerto, dan Gombong, pemuda kereta api akan bergantian mengawal kereta api sampai Yogyakarta.

Seperti yang dijelaskan oleh Budi Kurnia dalam skripsinya di Program Studi Ilmu Sejarah FIB UI Peranan Pemuda Kereta Api dalam Pengambilalihan Kekuasaan Kereta Api dan Pengawalan Perjalanan Presiden RI ke Yogyakarta (1945-1947).

Meskipun keberangkatannya dirahasiakan, tiap KLB berhenti di stasiun selalu disambut oleh rakyat. Dalam buku Takhta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX (2011), dijelaskan jika tiap KLB berhenti di stasiun, ribuan rakyat menunggu seraya memekikan “merdeka, merdeka ...”. Perjalanan Jakarta – Yogyakarta memakan waktu sekitar 13 jam. Dari Jakarta berangkat pukul 19.00 malam dan tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta pada pukul 10.00 pagi.

Setelah tiba di Stasiun Tugu rombongan presiden langsung dijemput oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII. Para rombongan kemudian menuju ke Pura Pakualaman. Di Pura Pakualaman, Presiden Soekarno untuk sementara tinggal di Bangsal Parangkarsa seperti yang ditulis dalam Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I (1996).

KLB dan peranan para pegawai kereta api ini dianggap penting oleh Presiden Soekarno. Dalam suatu pidato di hari dwidasawarsa PNKA (Perusahaan Nasional Kereta Api) 28 September 1965 di Istora Senayan. Presiden Soekarno di depan para pegawai kereta api menegaskan bagaimana peranan KLB yang berhasil menyelamatkan presiden sekaligus negara.

“Saya merasa terharu jika mengingat kejadian magrib 4 Januari 1946. Saudara tahu Pegangsaan Timur No. 56 itu adalah di tepi jalan kereta api. Saudara Anwir ini magrib-magrib membawa kereta api di belakang rumah saya itu. Pada waktu sudah mulai gelap, saya dimasukkan dalam kereta api itu dan terus diangkut ke Yogyakarta. Dan dari Yogyakartalah revolusi dipimpin terus, revolusi mendapat pimpinan terus. Sampai saudara-suadara mengetahui sejarah Yogyakarta. Kemudian kembali ke Jakarta, sampai sekarang alhamdulillah revolusi selamat... Siapa bilang saya dari Tegal, saya dari Majalengka. Siapa bilang revolusi kita gagal? sebab kita punya PNKA...”

(Pidato Presiden No. 811, 28 September 1965. Arsip Nasional Republik Indonesia)

Kini, dua dari delapan gerbong Kereta Luar Biasa itu tersimpan rapi di Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah. Patut disayangkan kondisinya tidak lagi utuh delapan gerbong seperti saat mengantarkan rombongan presiden menuju Yogyakarta.

Namun, setidaknya sebagai generasi penerus bangsa kita masih dapat melihat gerbong bersejarah ini.*

Referensi: Atmakusumah, "Takhta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX" | I.G.N Anom, "Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I" | J.B. Soedarmanta, "Jejak-jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia" | M.C. Ricklefs, "Sejarah Indonesia Modern 1200 - 2008" | Peter Kasenda, "Bung Karno Pahlawan Revolusi"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini