Apakah TNI Perlu Membeli Pesawat Canggih V-22 Osprey ini?

Apakah TNI Perlu Membeli Pesawat Canggih V-22 Osprey ini?
info gambar utama

Para military enthusiast di Indonesia minggu-minggu cukup dibuat heboh dengan beredarnya render V-22 Osprey dengan camo khas Puspenerbad TNI AD.

Entah siapa yang pertama kali membagikanya di forum-forum militer Indonesia, kontan saja perdebatan mengenai benarkah TNI akan membeli pesawat tersebut cukup sengit. Ada juga mendukung, dan tentu saja ada pula yang menyangsikan kabar tersebut.

Sumber : bellflight.com
info gambar
Sumber : Bellflight.com
info gambar


Bell Boeing V-22 Osprey sendiri merupakan sebuah pesawat terbang militer tiltrotor sayap tinggi (high wing) dengan kemampuan vertical takeoff and landing (VTOL) dan short takeoff and landing (STOL). Rancangan baling-balingnya unik. Baling-balingnya bisa diubah menghadap keatas atau kedepan.

Pesawat ini didesain dengan menggabungkan kelebihan fungsionalitas dari helikopter konvensional dengan performa jarak jauh dari pesawat terbang turboprop (berbaling-baling). V-22 Osprey dibuat oleh Amerika Serikat melalui program Defense Joint-service Vertical take-off/landing Experimental (JVX), yang dimulai pada tahun 1981.

Pabrikan Bell Helicopter dan Boeing helicopter mendapatkan kontrak pembuatan V-22 Osprey pada tahun 1983. Pabrikan helikopter Bell dan Boeing akhirnya memproduksi pesawat ini bersama-sama.

Saat take off dan landing, pesawat ini biasanya dioperasikan dalam mode helikopter dengan nasel vertikal dan rotor horizontal. Setelah terbang, nasel dirotasikan 90 derajat kedepan untuk melakukan penerbangan horizontal, menjadikan pesawat dalam mode turboprop konvensional yang lebih efisien dan cepat.

Artinya, V-22 memiliki kelebihan karena pesawat sayap tetap ini mampu terbang diam layaknya helikopter.

Sekarang pertanyaannya adalah, benarkah TNI AD akan membeli pesawat canggih tersebut?

Jika pertanyaannya, adalah 'apakah militer Indonesia memerlukan pesawat seperti ini?", mungkin jawabannya PASTI perlu.

Di Indonesia, teknologi dan sistem operasional pesawat seperti ini akan sangat cocok mengangkut personil dan peralatan tempur ringan dan dapat menjangkau tempat-tempat yang tidak ada landasannya, dengan cepat.

Banyak pulau-pulau di Indonesia tidak mempunyai lapangan terbang yang memadai, bahkan ada pulau yang tidak memiliki lapangan terbang sama sekali. Jika ada ancaman di pulau tersebut, pesawat ini bisa dipakai mengangkut tentara dan peralatan tempur secara cepat kemudian mendarat di pulau tersebut dengan mode helikopter.

V-22 Osprey, mahal | Bidlink.net
info gambar

Namun, jika pertanyaannya adalah apakah TNI AD benar akan membelinya, hingga saat ini belum ada kabar mengenai hal tersebut.

Render V-22 bercamo Puspenerbad sendiri ditemukan di bellflight.com, situs milik produsen helikopter Bell. Bisa jadi tampilan tersebut dibuat sebagai upaya marketing agar publik Indonesia, setidaknya, atau para elit di Kemenhan, terutama, tertarik untuk mengakuisisinya.

Hingga saat ini, V-22 Osprey tak pernah masuk dalam rencana pengadaan alutsista, justru selama ini yang mengemuka adalah pengadaan helikopter angkut berat CH-47F Chinook, yang sampai saat ini juga belum ada kontrak pembelian.

Chinook, incaran TNI | Dailysabah.com
info gambar

Selain itu, harga V-22 tergolong sangat mahal. Harga satu unitnya mencapai 72 juta dolar AS, jauh lebih mahal dari Helikopter Chinook (yang sudah masuk dalam radar pembelian Kemenhan) yang harganya 39 juta dolar AS.

Untuk menerbangkan Bell Boeing V22 Osprey dibutuhkan biaya 11.000 dolar AS per jam dibandingkan Helikopter Chinook sebesar 4.600 dolar AS per jam.

Mahalnya pesawat ini tentu sulit untuk diterima pasar. Sejauh ini, selain AS, baru Jepang yang sudah mengoperasionalkannya. Sementara negara lain, seperti India, Israel, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab, baru berstatus sebagai potensial customer.

Di tambah lagi dari laman ini, diketahui bahwa pesawat ini juga cukup sering mengalami insiden bahkan kecelakaan yang fatal, tepatnya 42 kasus dengan 30 kematian. Di Jepang sendiri, pesawat ini juga tak luput dari kecelakaan.

(Dari berbagai sumber)

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini