Mereka yang "Menolak" Sains

Mereka yang "Menolak" Sains
info gambar utama

Penulis senior GNFI

Ketika saya menullis rtikel ini tercatat jumlah orang terpapar corona di Amerika Serikat mencapai 9 jutaan orang dan yang mati lebih dari 120 ribua orang. Angka yang terus naik jumlah orang yang positip corona dan meninggal itu mengerikan karena begitu cepatnya kenaikannya. Masyarakat umum tentu bertanya kok bisa negara Adi Daya yang selama ini menjadi pusat kekuatan dunia, baik ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan termasuk ilmu kesehatan dsb tidak mampu menangani penyebaran corona.

Memang tidak ada yang menangkal keunggulan Amerika dibidang science atau ilmu pengetahuan yang muncul dari berbagai Universitas nya yang terkenal. Beberapa Perguruan Tinggi yang terkenal seperti Harvard, MIT, UCLA, Stanford dsb menduduki ranking teratas di ranking Perguruan Tinggi Dunia. Penemuan-penemuan seperti idustri farmasi, teknologi media seperti Facebook, Twitter, Instagram dan penemuan-penemuan dibidang lainnya berasal dari hasil penemeuan para ahli dari Perguruan Tinggi Amerika Serikat. Barisan penerima hadiah Nobel yang bergengsi itu juga berasal dari negara ini.

Namun pengakuan Anthony Fauci, direktur the National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) Amreika Serikat baru-baru ini mengejutkan, karena waktu wawancara dengan jaringan berita CBS baru-baru ini dia menyuarakan keprihatinannya bahwa kasus corona yang meningkat ini karena rakyat Amerika Serikat tidak percaya atau mengabaikan ilmu pengetahuan. Pernyataan ini berbalik dengan kenyataan dominasi Amerika Serikat dibidang ilmu pengetahuan di dunia.

Jelasnya pak Fauci ini mengatakan: “Clearly, we have not succeeded in getting the public as a whole, uniformly to respond in a way that is a sound scientific [response to a] public health and medical situation, “I mean, it is clear because right now, you’re seeing people throughout the country [contracting the virus]. And it’s unfortunate. And it’s frustrating.”

Fauci mengatakan bahwa persoalan meningkatnya orang terpapar corona dan meninggal itu bukan karena para pemimpin daerah yang sudah memberi arahan-arahan yang tepat; namun terletak pada kenyataan ada kecenderungan pada masayarakat yang anti pada ilmu pengetahuan (“that there’s a type of anti-science trend in the country that may be contributing to the disregard of advice from health experts.”). Kita tentu bertanya kok bisa begitu?. Fauci menjelaskan bahwa masyarakat yang tidak percaya ilmu pengetahuan karena mereka menganggap ilmu pengetahuan itu pemerintah; sementara saat ini perasaan ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah nya sendiri meningkat.

Kejadian ada masyarakat yang tidak percaya pada ilmu pengetahuan itu juga terjadi di negeri kita. Sebagai contoh Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dr. Sholihul Absor melakukan penelitian tentang kenapa jumlah pasien menurun di RS dan Klinik milik Persyarikatan ini sebab hal ini bisa berpengaruh pada cash flow RS dan Klinik itu. Dalam rapat koordinasi Muhammadiyah Covid 19 Command Center Jatim tanggal 18 Juni 2020 dia menjelaskan dari kuisioner yang disebarkan di wilayah Surabaya, Sidoarjo dan Gresik, sebanyak 74,9% respondennya adalah sarjana, dari jumlah itu 16,9 persen menjawab tidak tepat tentang corona. Bahkan ada yang menganggap Covid-19 itu hanya penyakit seperti flu. Dan ada yang tidak percaya bahwa Covid-19 itu ada,” paparnya. Dr. Abror mengatakan “Dan memang dari Surabaya Sidoarjo Gresik itu kenapa kok kasusnya tinggi? Karena memang kesadaran mereka itu tidak bagus. Responden yang menganggap Covid-19 ini tidak membahayakan banyak dari Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik,”

Kenyataan seperti itu kemungkinan juga ada di berbagai daerah di negeri ini, meskipun dmikian kita tidak bisa menjeneralisir bahwa semua masyarakat Amerika dan Indonesia banyak yang tidak percaya pada ilmu pengetahuan – dalam hubungannya dengan penyebaran virus corona yang mematikan ini.

Meskipun pendapat para ahli dibidang kesehatan itu penting, namun nampaknya perlu ada cara komunikasi publik yang lebih cair untuk menjelaskan dinamika corona ini kepada publik luas; dan tidak perlu dibumbui dengan tambahan komunikasi politik; agar kepercayaan masyarakat terhadap pendapat para ahli itu bisa dimengerti dan di: “gugu”.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini