Bathynomus, Kecoak Laut Raksasa yang Hidup di Selat Sunda

Bathynomus, Kecoak Laut Raksasa yang Hidup di Selat Sunda

Bathynomus giganteus atau isopod raksasa. © kikujungboy CC

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Kawan GNFI pastinya sudah tahu betapa luasnya lautan Indonesia. Ya, Indonesia yang dikenal sebagai negara maritim memang memiliki laut yang luas ketimbang daratannya.

Menurut Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada 2018, luas perairan pedalaman dan perairan kepulauan Indonesia adalah 3,1 juta km2. Sementara itu secara total perairan, Indonesia memiliki luas 6,4 juta km2.

Luasnya perairan Indonesia tentu membuat kayanya keanekaragaman hayati bawah laut yang kita miliki. Biota laut di Indonesia mungkin sudah ada yang dijumpai, tetapi tak sedikit juga yang belum dikenali.

Pada 2018 untuk menuntaskan rasa penasaran itu peneliti dari National University of Singapore (NUS) memusatkan risetnya di perairan Indonesia, tepatnya di Selat Sunda. Ekspedisi bertajuk South Java Deep Sea Biodiversity Expedition (SJADES) merupakan riset NUS bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan koordinator penelitian Peter Ng dan Dwi Listyo Rahayu.

''Orang-orang telah mengumpulkan data di sebelah barat Sumatra, bagian timur Indonesia dan bagian tenggara Jawa. Namun untuk berbagai alasan, Selat Sunda di barat daya dan selatan Jawa Barat belum terkumpul datanya. Kami hampir tidak memiliki informasi tentang hewan laut dalam yang hidup di sana. Jadi kami pikir, ini adalah peluang bagus untuk mengisi kekosongan yang ada. Kami tidak bisa melanjutkan pelestarian dari apa yang kami belum ketahui," terang Peter Ng, Kepala Natural History Museum UNS, kala itu.

Keanekaragaman hayati bawah laut Selat Sunda, Indonesia.
Keanekaragaman hayati bawah laut Selat Sunda, Indonesia. Sumber: SJADES 2018

Terdapat penemuan biota lautan dalam yang menarik lewat ekspedisi tersebut, mulai dari kepiting kuping besar sampai ikan goby berkepala pipih. Selain itu yang paling menjadi pusat perhatian ialah penemuan spesies isopoda berupa kutu laut raksasa dari anggota krustasea (udang-udangan) yang memiliki nama latin Bathynomus giganteus.

Terdapat 18 jenis kutu laut raksasa di seluruh dunia di mana 15 di antaranya berada di Samudra Hindia dan Pasifik. Kutu laut raksasa yang dijumpai Selat Sunda memang memiliki badan menyerupai Bathynomus giganteus, tetapi setelah diteliti merupakan jenis yang tergolong baru. Tim peneliti kemudian menamainya Bathynomus raksasa.

Bathynomus raksasa, Jenis Pertama dari Laut Indonesia

Kutu laut raksasa - baik itu Bathynomus giganteus dan raksasa - bentuknya tampak sama seperti serangga kecoak sehingga sering disebut "kecoak laut raksasa". Yang paling mencolok dari tubuhnya ialah sepasang antena, tujuh pasang kaki dan badannya yang besar dengan warna cokelat seperti kecoak pada umumnya.

Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bathynomus raksasa merupakan jenis pertama dari laut Indonesia. Lokasi penemuan berada di Selat Sunda dan selatan Pulau Jawa pada kedalaman 957-1259 meter di bawah permukaan laut. Penemuan jenis baru Bathynomus raksasa ini telah dipublikasikan pada jurnal ZooKeys tanggal 8 Juli 2020.

Staf dari National University of Singapore, Muhammad Dzaki bin Safarua, memperlihatkan Bathynomus raksasa.
Staf dari National University of Singapore, Muhammad Dzaki bin Safarua, memperlihatkan Bathynomus raksasa. Sumber: SJADES 2018

Penemuan jenis baru Bathynomus raksasa ini dinilai menjadi capaian penting keilmuan, khususnya dalam bidang ilmu taksonomi yang relatif sepi peminat. ''Penemuan jenis baru merupakan capaian besar seorang taksonomis apalagi jenis spektakuler dari sisi ukuran bahkan ekosistem dimana jenis tersebut ditemukan,'' terang Pelaksana Tugas Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi, dikutip GNFI dari laman LIPI.

Cahyo menjelaskan, penemuan jenis baru ini mengingatkan kita betapa besar potensi keanekaragaman hayati Indonesia yang belum terungkap. ''Masa depan pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia berkejaran dengan laju kepunahan jenis dan mungkin juga taksonom sebagai garda terdepan,'' tegas Cahyo.

Pemilihan istilah raksasa sebagai nama jenis mengacu pada ukuran tubuh yang masuk dalam kategori besar (giant) dan sangat besar (super giant)yang dapat mencapai ukuran di atas 15 centimeter di usia dewasa. ''Ukurannya memang sangat besar dan menduduki posisi kedua terbesar dari genus Bathynomus,'' jelas peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Conni Margaretha Sidabalok.

Peta Selat Sunda
Peta sebaran Bathynomus raksasa di daerah sekitar Selat Sunda dan laut Samudra Hindia. Sumber: Conni M. Sidabalok, Helen P.-S. Wong, Peter K. L. Ng, "Description of the supergiant isopod Bathynomus raksasa sp. nov. (Crustacea, Isopoda, Cirolanidae) from southern Java, the first record of the genus from Indonesia"

Conni menjelaskan, beberapa penelitian terdahulu telah menemukan lima jenis Bathynomus berkategori super giant di Samudera Hindia dan Pasifik. ''Penemuan Bathynomus pertama dari laut dalam Indonesia ini sangat penting bagi riset taksonomi krustasea laut dalam, mengingat langkanya riset sejenis di Indonesia,'' ujar Conni. Dirinya menjelaskan, Bathynomus merupakan salah satu ikon krustasea laut dalam dengan ukuran relatif besar dan tampilan keseluruhan yang khas.

Morfologi Bathynomus
Bathynomus memiliki tubuh pipih dan keras, walaupun tidak memiliki karapaks atau cangkang keras yang melindungi organ dalam pada tubuh krustasea. Matanya berukuran besar, pipih, dan memiliki jarak cukup lebar di antara keduanya.

Organ di bagian kepala adalah sepasang antena panjang, sepasang antena pendek di ujung kepala, serta mulut dan anggota tubuh yang bermodifikasi untuk alat makan di segmen bagian bawah kepala. Bathynomus memiliki tujuh pasang kaki jalan dan lima pasang kaki renang.

Bathynomus raksasa
Bathynomus raksasa. Sumber: LIPI.go.id

Identifikasi Bathynomus raksasa dilakukan dari holotype jantan berukuran 363 milimeter dan paratype betina berukuran 298 milimeter. ''Secara umum, Bathynomus raksasa paling mirip dengan Bathynomus giganteus dan Bathynomus lowryi dalam rentang ukuran dan karakter di bagian ekor atau pleotelson,'' ungkap Conni. Dirinya menjelaskan, perbedaan dengan dua jenis tersebut terdapat pada karakter antena, organ ujung kepala, tekstur permukaan, duri ekor dan beberapa karakter lain.

Pejantan Bathynomus raksasa dan giganteus
Pejantan Bathynomus raksasa dan giganteus. Sumber: Conni M. Sidabalok, Helen P.-S. Wong, Peter K. L. Ng, "Description of the supergiant isopod Bathynomus raksasa sp. nov. (Crustacea, Isopoda, Cirolanidae) from southern Java, the first record of the genus from Indonesia"

Conni menjelaskan ekspedisi SJADES juga memperoleh empat spesimen Bathynomus pra-dewasa dan muda dari perairan Selat Sunda dan selatan Jawa. ''Spesimen tersebut tidak dapat kami identifikasi ke tingkat jenis, karena karakter diagnostik jenis biasanya belum berkembang pada tahap pra-dewasa atau lebih muda. Tetapi yang pasti spesimen ini bukan Bathynomus raksasa karena adanya perbedaan bentuk ekor, ekor samping dan duri ekor,'' ujar Conni.

Referensi: LIPI.go.id | Channelnewsasia.com | Conni M. Sidabalok, Helen P.-S. Wong, Peter K. L. Ng, "Description of the supergiant isopod Bathynomus raksasa sp. nov. (Crustacea, Isopoda, Cirolanidae) from southern Java, the first record of the genus from Indonesia"

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Mustafa Iman

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Sejarah Hari Ini (16 Juli 1896) - Maos-Purwokerto, Jalur Pertama Trem Lembah Serayu Sebelummnya

Sejarah Hari Ini (16 Juli 1896) - Maos-Purwokerto, Jalur Pertama Trem Lembah Serayu

Kontingen Garuda UNIFIL Bantu Korban Ledakan Beirut, Lebanon Selanjutnya

Kontingen Garuda UNIFIL Bantu Korban Ledakan Beirut, Lebanon

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.