Gejolak Bumi di Batavia Tempo Dulu

Gejolak Bumi di Batavia Tempo Dulu
info gambar utama

Masih segar dalam ingatan warga Jabodetabek dan sekitarnya yang dikejutkan oleh suara dentuman keras pada 11 April dini hari lalu. Beberapa portal berita menyebut sumber suara dikaitkan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau, dan ada juga yang mewartakan suara tersebut berasal dari petir di Gunung Salak.

Hingga tulisan ini diterbitkan, masih belum ditemukan jawaban yang pasti terkait asal muasal suara dentuman tersebut. Bahkan, suara dentuman kembali terdengar di beberapa daerah seperti di beberapa daerah Jawa Tengah dan Bandung pada bulan Mei lalu.

Jika tahun 2020 masyarakat dikejutkan dengan suara dentuman, 321 tahun yang lalu penduduk Batavia, Buitenzorg, Banten, dan sekitarnya dikejutkan dengan gempa bumi. Ada dua pendapat mengenai penyebab gempa ini. Pendapat pertama, gempa bumi berasal dari erupsi Gunung Salak. Pendapat kedua, gempa bumi berasal dari zona subduksi Lempeng Indo-Australia. Namun yang pasti, gempa bumi tersebut membuat kerusakan di Batavia dan sekitarnya.

Gunung Salak menurut data dasar gunung api Indonesia yang dikeluarkan Badan Geologi Kemenetrian Energi dan Sumber Data Mineral, sejak 1688 hingga 1938 telah 10 kali mengalami erupsi. Dari data itu diketahui antara tahun 1688 – 1699 Gunung Salak mengalami erupsi yang dikaitkan dengan sumber gempa tahun 1699.

Gunung Salak merupakan salah satu dari 127 gunung api aktif yang ada di Indonesia. Terletak di antara Kabupaten Bogor dan Sukabumi, gunung ini termasuk dalam tipe gunung api strato dengan ketinggian 2.211 mdpl.

Potret Gunung Salak | Foto: tirto.id
info gambar

Pada 5 Januari 1699 dini hari, hujan mengguyur Batavia dan sekitarnya. Penduduk yang sedang terlelap tidur dikejutkan dengan gempa bumi. Saleh Danasasmita dalam Sejarah Bogor (1983) menyebut gempa bumi terjadi bersamaan dengan meletusnya Gunung Salak. Geolog Charles Lyell dalam Principles of Geology, the Fifth Edition (1837) juga menyebut gempa bumi tersebut disebabkan oleh erupsi Gunung Salak.

“Gempa bumi terjadi pada pukul 01.30 WIB. Getarannya berlangsung selama kurang lebih 15 menit, menyebabkan 21 rumah dan 20 lumbung padi rusak serta menewaskan 28 orang,” tulis Arthur Wichmann dalam Die Erdbeben des Indischen Archipels von 1858-1877 (1918).

Sementara itu, di daerah Banten terdapat satu gudang penyimpanan yang runtuh karena gempa bumi. Guncangannya terasa hingga bagian selatan Sumatera. Franz Wilhelm Junghuhn dalam Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi en Inwendige Bouw (1853) mencatat jika gempa bumi yang terjadi cukup kuat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya tembok-tembok bangunan di Batavia yang retak.

Ada pendapat lain yang menyatakan jika gempa bumi yang terjadi bukan berasal dari aktivitas vulkanik Gunung Salak. Dalam buku Mengukur Daya Tahan Kota Jakarta Menghadapi Gempa Besar (2019) gempa bumi dengan magnitudo 8–9 itu berasal dari zona subduksi lempeng Indo-Australia di selatan Jawa.Dalam buku yang sama, peneliti bencana Institut Teknologi Bandung, Nuraini Rahma Hanifa menyebut pusat gempa berada di kedalaman 100 km di sekitar Bogor.

Dalam Indonesia’s Historical Earthquakes Modelled Examples for Improving the National Hazard Map (2015) menyebut gempa bumi ini membuat tanah longsor di sekitar Gunung Salak. Longsoran membawa tanah dan lumpur ke sungai yang mengalir ke Batavia, salah satunya Sungai Ciliwung. Material-material ini membuat sungai-sungai di Batavia banyak dialiri lumpur dan mengganggu pasokan air bersih.

Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, Batas-Batas Pembaratan juga menulis hal serupa. Gempa bumi yang terjadi merusak jaringan air minum dan saluran pembuangan. Penduduk Batavia sulit mendapatkan air bersih. Banyaknya material-material membuat sungai yang ada di Batavia membuat aliran sungai tidak dapat berjalan dengan baik.

Sejak saat itu, kualitas kesehatan di Batavia terus menurun. Menurut Eka Asih Putrina Taim dalam Gedung-gedung Tua: Refleksi Adaptasi Masyarakat Belanda di Batavia yang dimuat dalam Kalpataru edisi 17 Oktober 2004 keadaan diperparah dengan musim pancaroba dan demam panas yang saat itu melanda Hindia Belanda. Akibatnya, banyak orang-orang Belanda di Batavia yang meninggal dunia. Banyaknya orang Belanda yang meninggal membuat Batavia mendapat julukan graf der Hollanders atau kuburan orang-orang Belanda.*

Referensi: Saleh Danasasmita, "Sejarah Bogor" | Charles Lyell, "Principles of Geology, the Fifth Edition" | Arthur Wichmann, "Die Erdbeben des Indischen Archipels von 1858 bis 1877" | Franz Wilhelm Junghuhn, "Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi en Inwendige Bouw" | Pusat Data dan Analisa Tempo, "Mengukur Daya Tahan Kota Jakarta Menghadapi Gempa Besar" | Ngoc Nguyen, Jonathan Griffin, Athanasius Cipta, dan Phil R. Cummins, "Indonesia’s Historical Earthquakes Modelled Examples for Improving the National Hazard Map" | Denys Lombard, "Nusa Jawa: Silang Budaya, Batas-batas Pembaratan" | Eka Asih Putrina Taim, "Gedung-gedung Tua: Refleksi Adaptasi Masyarakat Belanda di Batavia"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini