Sejarah Hari Ini (16 Agustus 1927) - Sekolah Tinggi Kedokteran Pertama, Geneeskundige Hoogeschool te Batavia

Sejarah Hari Ini (16 Agustus 1927) - Sekolah Tinggi Kedokteran Pertama, Geneeskundige Hoogeschool te Batavia
info gambar utama

Geneeskundige Hoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Kedokteran) biasa disingkat menjadi GH te Batavia atau GHS dibuka sejak 16 Agustus 1927 di Batavia (sekarang Jakarta).

GHS adalah perguruan tinggi kedokteran pertama dan lembaga pendidikan tinggi ketiga di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) setelah dibukanya Technische Hoogeschool (THS) Bandung (sekarang ITB) tahun 1920 dan Rechtshogeschool (RHS) Batavia tahun 1924.

Letak gedung GHS berada di Weltevreden (sekarang Salemba), kawasan elite di Batavia pada masa kolonial Belanda.

Sebelum GHS, di tempat tersebut sebenarnya sudah ada sekolah kedokteran yaitu Sekolah Dokter Djawa atau School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) yang berdiri pada Januari 1851.

Pembukaan GHS
info gambar

Namun karena sekolah dokter STOVIA tingkatannya bukan pendidikan tinggi maka didirikanlah GHS oleh pemerintah Hindia Belanda guna meningkatkan mutu dokter.

Fasilitas bangunan yang digunakan GHS merupakan perkembangan dari laboratorium STOVIA, misalnya laboratorium dan perpustakaan.

Gedung GHS dibangun dengan ciri arsitektur Eropa antara tahun 1916 hingga 1920 sebagai pengganti sekolah kedokteran STOVIA.

Mengutip situs FK UI, bangunan kampus ini tercatat selesai didirikan pada tanggal 5 Juli 1920.

Pada tanggal yang sama, seluruh fasilitas pendidikan STOVIA dari tempat lama dipindahkan ke gedung pendidikan yang baru di Jalan Salemba 6, Jakarta Pusat.

Selama itu pula, bangunan dengan dominasi warna putih ini dikenal dengan nama Geneeskundige Hogeschool atau sekolah tinggi kedokteran.

Pada masa penjajahan Jepang, bangunan ini tetap digunakan sebagai sekolah kedokteran, tetapi berubah nama menjadi Ika Dai Gaku.

Praktikum oleh mahasiswa kedokteran di GHS pada tahun 1951.
info gambar

Kemudian, pada awal kemerdekaan, gedung ini menjadi Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia (BPTRI).

Setelah itu, Pemerintah Indonesia mendirikan perguruan tinggi Nood-Universitet atau Universitas Darurat pada 21 Januari 1946.

Universitas ini kemudian berubah nama menjadi Universiteit van Indonesie dan mempunyai lima faculteit.

Setelah pengakuan kedaulatan Universitet van Indonesie diambil alih oleh pemerintah saat itu dan digabungkan dengan Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia.

Penggabungan ini menghasilkan lembaga pendidikan tinggi baru bernama Universitas Indonesia (UI).

Gedung pendidikan dan pelatihan kedokteran ini saat ini digunakan sebagai Gedung Fakultas Kedokteran UI.

Gedung GHS pada zaman Jepang.
info gambar

Saat ini, bangunan tersebut ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui SK Menteri NoPM.13/PW.007/MKP/05.

Berdasarkan pemberitaan Harian Kompas, 23 Oktober 1984, mencatat, gedung ini sempat dipugar pada tahun 1984.

Biaya pembangunannya sendiri menghabiskan dana sekitar Rp 300 juta pada waktu itu.

Referensi: Fk.ui.ac.id | De Sumatra Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini