Kisah N250 Gatotkaca, Pesawat Pertama Indonesia Mahakarya BJ Habibie yang Dimuseumkan

Kisah N250 Gatotkaca, Pesawat Pertama Indonesia Mahakarya BJ Habibie yang Dimuseumkan
info gambar utama

Kawan GNFI terutama generasi 90-an masih ingat dengan lagu "Kapal Terbang" yang dipopulerkan mantan penyanyi cilik Joshua Suherman? Berduet dengan Tukul Arwana, Joshua kecil tampak enerjik menyanyikan lirik lagu mengenai mimpinya membuat pesawat terbang. Jika lupa, seperti inilah penggalan liriknya:

Cita-citaku... uuu.... uuu
Ingin jadi profesor
Bikin pesawat terbang
Seperti pak Habibie

Ya, ada nama Habibie di dalam lirik lagu tersebut. Habibie yang dimaksud tentu saja mantan Presiden Republik Indonesia (RI) ketiga, Bacharudin Jusuf Habibie (BJ Habibie).

Sebelum menjadi presiden, Habibie memang dikenal sebagai pakar dunia penerbangan. Masuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB, dulu Universitas Indonesia Bandung) pada 1954, ia kemudian mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliah di Rhein Westfalen Aachen Technisce Hochschule (RWTH) Jerman dengan spesialisasi konstruksi pesawat terbang (Teknik Penerbangan).

Setelah lulus, sosok kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, bekerja di sebuah industri kereta api Firma Talbot di Jerman sambil melanjutkan studi doktornya. Pada 1965-1969, ia bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Jabatannya saat itu ialah Kepala Penelitian dan Pengembangan Analisis Struktur Pesawat Terbang.

Dari situ tak heran kalau ia dipercaya bisa membuat pesawat pertama bagi Indonesia. Pesawat karya Habibie yang paling dikenal ialah N250 Gatotkaca.

Sempat Diajak Kembangkan Industri Dirgantara Filipina

Kejeniusan Habibie dalam teknologi penerbangan dikenal banyak negara. Beberapa penghargaan pernah disandang Habibie yang dijuluki Mister Crack (karena keahliannya menebang retakan pesawat). Pada 7 Desember 1994 misalnya, ia dianuegrahi Edward Wanner Award. Habibie saat itu menjadi orang pertama dalam 50 tahun yang dianggap berjasa dalam penerbangan sipil.

Berkat kejeniusannya, jauh sebelum N250 Gatotkaca dibuat, Habibie pernah digoda mengembangkan industri kedirgantaraan Filipina pada Januari 1974. Orang yang mengajak bukan orang sembarangan, karena ajakan terlontar langsung dari mulut Presiden Filipina sendiri, Ferdinand Marcos.

Setibanya di ruang tamu Istana Malacanang, Habibie disambut hangat oleh Presiden Marcos. Habibie dibuat kaget karena sang presiden menyambutnya dengan ucapan "selamat datang di negaramu" yang kemudian ia jawab: "Pak Presiden, saya bukan orang Filipina!". Mendengar itu Presiden Marcos dengan santai menjawab, "Ah, kamu anak dari wilayah ini (Asia Tenggara)".

Presiden Marcos berusaha keras membujuk Habibie mengembangkan industri dirgantara di ibu kota Filipina, di Manila. Segala fasilitas disebut sudah dipersiapkan untuk memanjakannya. Namun, dua minggu setelah pertemuan itu Habibie menolak ajakan tersebut.

Selang beberapa bulan, Presiden RI kedua, Suharto, bertemu dengan Presiden Marcos di Manado, Sulawesi Utara. Dengan sedikit pamer Marcos mengatakan negaranya sudah siap mengembangkan teknologi dan dirgantara. Ketika Marcos menyebut nama Habibie, Suharto pun membalas: "Lho, itu Rudy (nama panggilan Habibie)! Saya kenal dia dari kecil.".

Habibie muda.
info gambar

Tidak mau kecolongan Filipina, pemerintah Indonesia lantas memulangkan Habibie. Suharto mengutus Direktur Utama Pertamina pertama, Ibnu Sutowo, menjemput Habibie di Dusseldorf, Jerman. Sesampainya di sana, Ibnu Sutowo membentak Habibie dengan bahasa Belanda.

"Saudara Rudy, jij moet shaame, als Indonesier (Saudara Rudy, anda harus malu kepada diri sendiri sebagai orang Indonesia)! Kenapa anda membangun negara lain?" kata Ibnu Sutowo. Habibie mengaku ucapan itu sangat mengena baginya. "Saya terdiam karena ucapannya pedas, tapi tepat sekali. Saya malu," curhat Habibie.

Pada Maret 1974, Habibie akhirnya pulang ke tanah air. Sesuai instruksi Ibnu Sutowo ia diberi jabatan sebagai Penasihat Direktur Utama Pertamina.

Setahun kemudian, Suharto dan Ibnu Sutowo membentuk Divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan Pertamina. Divisi lalu menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang mulai beroperasi pada 26 April 1976. Suharto lantas memberikan kepercayaan pada Habibie untuk memimpin IPTN beserta PAL dan Pindad pada 1989.

N250 Gatotkaca Mengangkasa dan Dipuji Dunia

Pada 1995, Habibie memimpin pembuatan pesawat N250 Gatotkaca yang merupakan pesawat buatan Indonesia yang pertama. Proyek pembuatan pesawat yang sukses ini mendapatkan sertifikasi dari Federal Aviation Administration. Setidaknya dibutuhkan waktu setengah dasawarsa untuk melengkapi desain awal.

N250 Gatotkaca ini merupakan satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mengunakan fly by wire dengan jam terbang 900 jam. Kecepatan maksimalnya bisa mencapai 610 km per jam dengan kapasitas penumpang 50 orang. N250 mampu beroperasi di ketinggian 24 ribu kaki (7.620 meter) dengan daya jelajah sejauh 1.480 km. N250 diproduksi oleh Industri Pesawat Terbang Nusantara (ITPN) yang kini jadi PT Dirgantara Indonesia.

Nama Gatotkaca yang disematkan pada pesawat tersebut diberikan oleh Suharto. Gatotkaca sendiri adalah tokoh pahlawan dalam mitologi Jawa yang diberkahi kesaktian tubuh yang kuat dan bisa terbang.

Presiden RI kedua, Suharto didampingi istrinya, meninjau pesawat buatan Habibie pada 1995..
info gambar

"Pada Agustus 1996, kami berhasil menerbangkan prototipe N250 Gatotkaca di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pesawat ini adalah pesawat pertama di kelasnya - subsonic speed - yang menggunakan teknologi fly by wire (seluruh gerakannya dikendalikan dengan komputerisasi). Pada saat itu, N250 merupakan pesawat ketiga yang menerapkan teknologi ini, selain Airbus A340 dan Boeing 767. Tapi dua pesawat itu adalah pesawat penumpang jet berkapasitas besar. Kelahiran N250 Gatotkaca sukses besar dan dipuji dunia," kenang Habibie dikutip GNFI dari Majalah Tempo.

Uji coba penerbangan terbukti sukses karena tidak mengalami dutch roll (istilah penerbangan untuk pesawat yang oleng) berlebihan. Teknologi pesawat itu terbukti sangat canggih dan dipersiapkan Habibie untuk 30 tahun ke depan.

Sayangnya, 'keperkasaan' Gatotkaca harus terhenti saat Indonesia diterpa krisis moneter (krismon) pada 1998. Proyek pesawat N250 pun dihentikan karena negara diguncang krisis ekonomi tersebut.

Dimuseumkan di Yogyakarta

"Sang Gatotkaca, kini bersiap melakukan perjalanan panjang dari Bandung menuju Muspusdirla (Museum Pusat Dirgantara Mandala milik TNI AU di Lanud Adisutjipto) Yogyakarta, bukan terbang tetapi melalui jalan darat," begitulah isi postingan yang disiarkan akun Facebook TNI Angkatan Udara.

Menurut Kadispen TNI AU Marsma Fajar Adriyanto, pesawat kebanggaan RI itu akan dijadikan monumen yang bisa dilihat oleh masyarakat kapan saja. Sang Gatotkaca dibawa melalui jalur darat lewat tol Pantai Utara (Pantura) Jawa dari Bandung menuju Yogyakarta pada pukul 22.00 WIB, Rabu (19/8/2020).

Sejak krismon, pesawat Gatotkaca memang teronggok begitu saja di salah satu hanggar kawasan PTDI di Bandung, Jawa Barat. Gatotkaca tak lagi bisa mengudara di langit Indonesia. Pesawat buatan dalam negeri itu sudah tidak bisa terbang dan, bila akan dikembangkan, maka akan membutuhkan biaya yang lebih besar lagi.

Diharapkan pesawat N250 Gatotkaca yang pernah membuat dunia internasional terpana akan kecanggihannya ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak Indonesia setelah dimuseumkan. "Untuk dirawat dan dijadikan monumen yang bisa dilihat masyarakat sebagai pertanda bahwa bangsa Indonesia pernah berjaya di dirgantara," sebut Fajar.

---

Referensi: Majalah Tempo | Facebook.com/TNIAUOfficial

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini