Tan Malaka, Tokoh Besar Indonesia yang Disanjung Manila

Tan Malaka, Tokoh Besar Indonesia yang Disanjung Manila
info gambar utama

Wajah Presiden Filipina, Manuel L Quezon (1935-1944) langsung sumringah bila berbicara tentang Tan Malaka. Menurut artikel Tempo, Muhammad Yamin mencatat betapa bekas ketua senat dan presiden Filipina itu sumringah besar ketika menyebut Tan.

Tan tidak pernah lama tinggal di Filipina. Akan tetapi, kehadirannya membawa angin segar bagi gerakan nasionalis setelah pahlawan mereka, Jose Rizal, dieksekusi pada 1896. Saat Tan kesana, sudah dua dekade Spanyol telah kalah perang. Ratusan ribu hingga satu juta orang Filipina tewas saat Amerika Serikat masuk.

Sepanjang 1925-1927, Tan tiga kali mondar-mandir ke Manila. Paspornya berganti-ganti, mulai dari Hasan Gozali, Elias Fuentes, Estahislau Rivera, Howard Law, atau Cheung Kun Tat. Tan sendiri awalnya hanya ingin tetirah, istirahat dari kesibukan mendirikan organisasi Komunis Internasional (Komintren) biro kanton.

Apalagi hawa Kanton, tidak cocok dengan paru-parunya. Walau begitu, Filipina selalu istimewa bagi hatinya. Inilah salah satu simpul dari pertautan Aslia, singkatan dari Annam (Vietnam), Siam (Thailand), Burma (Myanmar), Filipina, Malaka (Malaysia-Singapura), dan Australia Utara. Dirinya percaya negara-negera ini akan bangkit dan bergabung menjadi Federasi Republik Indonesia.

Tan kemudian banyak bergaul dengan kalangan serikat buruh, wartawan, dan kaum nasionalis. Partai Komunis Filipina memang belum terbentuk hingga 1930 Tapi, menurut Harry Poeze dalam pergulatan Menuju Republik, Tan Malaka pada 1925-1945 mengatakan Tan bergaul akrab dengan mereka yang kemudian terlibat di dalamnya.

Antara lain Crisando Evangelista, pemimpin serikat buruh kiri, seperti Capadcia, Balgos, dan Dominggus Ponce dari gabungan serikat buruh Legianaros del Trabajo. Tan sendiri mengaku senang tinggal di Filipina. Teman banyak, dukungan luas, dan udaranya mirip dengan tanah air.

Gerak-gerik klandestin khas Tan berakhir ketika seorang pemburu hadiah menjebaknya di kantor El Debate suatu malam. Rupanya, korespodensi Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda sudah giat mencari jejaknya selama enam bulan. Sehari setelah ditangkap, 13 Agustus 1927, Tan mengisi halaman muka The Philippine Herald dengan huruf besar-besar.

Seorang Jawa yang diduga agen Bolsyewik, selama beberapa waktu diamati-amati polisi sehubungan dengan tersebarnya propaganda Bolsyewik di Filipina tertangkap malam lalu oleh polisi dan dinas rahasia.

Tan bebas setelah pendukungnya membayar 6.000 peso sebagai jaminan. Tapi kasusnya batal ke pengadilan karena pemerintah kolonial Amerika keburu mengusirnya dengan tuduhan paspor palsu.

Bukan cuma itu, sahabat-sahabat Tan yang terpandang bisa ikut terseret. Tan pun pergi, meski berat hati. Seperti diungkapkan Quezon kepada Yamin, para pendukung Tan ini memberi pertolongan dengan memberinya sangu 3.000 dolar untuk menempuh perjalanan menuju Amoy (Xiemen). Quezon mengatakan rakyat Filipina sangat hormat kepadanya.

Waktu dia akan ke pelabuhan, dia melewati patung Jose Rizal. Hati sangat terharu, melihat dua pahlawan. Yang satu patung telah menjadi batu, yang lain masih hidup berjiwa. Dua orang pahlawan kemerdekaan; pahlawan tuan-tuan dan pahlawan kami. Sungguhlah tuan kaya! Jadi bukakan pintu, dan jendela supaya penganjur masuk dari luar! Manuel Quezon berseru-seru.

Menyamar ke Sejumlah Negara

Tan sendiri pernah berkelana ke sejumlah negara, selain Filipina, ia juga pernah mengunjungi Rusia atau saat itu disebut Uni Soviet. Di sana Tan menjadi anggota Komunis Internasional (Komintren). Walau kemudian dirinya akhirnya dikeluarkan dari Komintren karena berbeda pendapat dengan Joseph Stalin.

Setelah Rusia, dirinya juga hidup berkelana dengan identitas lain ke Tiongkok, Filipina, dan daerah lain demi menghindari kejaran aparat kolonial. Tan baru kembali ke tanah air pada tahun 1942.

Pada 25 Agustus, Tan muncul di rumah Achmad Soebardjo. Di tempat itu dirinya bertemu dengan Wikana, dan pemuda lain yang mengawal proklamasi Indonesia, di daerah Cikini. Subardjo kaget karena mengira Tan Malaka sudah mati. Tan juga muncul pada peristiwa Lapangan Ikada 19 September 1945.

Rapat lapangan itu dilakukan oleh pemuda yang terpengaruh dengan gagasan-gagasan Tan Malaka. Dirinya juga pernah bersama Jenderal Sudirman menolak politik luar negeri kabinet Perdana Menteri Sutan Syahrir yang terlalu diplomatis. Bagi Tan Malaka dan Soedirman yang menginginkan merdeka 100%, sikap Syahrir terlalu lembek.

Pada 1946, Tan cukup berpengaruh dan punya banyak pengikut, meski tak punya kekuasaan di pemerintah. Sekitar bulan Februari 1949, ia ditangkap pihak tentara, bersama pasukan Letnan Sukotjo dari Batalyon Sikatan. Harry Albert Pozze sangat yakin jika Tan Malaka dibunuh oleh pasukan Sukotjo, di desa Selopanggung, Kediri, pada 21 Februari 1949.*

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini