Bagindo Aziz Chan, Pasang Badan demi Pertahankan Kota Padang

Bagindo Aziz Chan, Pasang Badan demi Pertahankan Kota Padang
info gambar utama

Jika Kawan GNFI suka hal berbau sejarah dan sedang berada di kota Padang, Sumatra Barat, jangan lupa ke Taman Melati. Di tempat tersebut, terdapat Tamansari Pahlawan Nasional Asal Minangkabau, sebuah monumen yang memampang relief wajah tokoh dari Minang yang digelari pahlawan nasional.

Dari 17 nama yang terpampang dalam monumen itu, terdapat nama Bagindo Aziz Chan (di beberapa sumber ditulis Bagindo Azizchan). Tokoh satu ini sangat akrab dengan kota Padang. Bagaimana tidak? Karena di sejumlah daerah di kota Padang kita bisa menemui landmark untuk mengenang jasanya.

Monumen Tamansari Pahlawan Nasional Asal Minangkabau di Taman Melati.
info gambar

Mungkin namanya tidak sebesar dan setenar pahlawan dari Minangkabau lain seperti Mohammad Hatta ataupun Tan Malaka karena perjuangan Aziz Chan meliputi daerah Padang saja. Meskipun begitu, perjuangannya di tempat ia dilahirkan sekaligus menemui ajalnya memang sangatlah heroik. Dengan berani ia pasang badan demi mempertahankan Padang dari militer Belanda yang kembali ingin berkuasa.

Sejak Kecil Merantau ke Pulau Jawa

Bagindo Aziz Chan adalah putra Minang asli, lahir di Padang pada 30 September 1910. Ia merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Adapun urutannya dari yang paling tua ialah; Bagindo Joesoef, Siti Naimah, Siti Nurlela, Bagindo Aziz Chan, Bagindo Boestamam, dan Bagindo Moenir Chan.

Ayah Aziz Chan bernama Bagindo Montok dan ibunya bernama Jamilah. Sejak pengujung abad ke-19, keluarga Bagindo Montok sudah menetap lama di kota Padang. Keluarga Aziz Chan terbilang sejahtera karena ayahnya merupakan seorang pegawai pemerintah Belanda dan pernah menjabat sebagai Kepala Stasiun Kereta Api di Padang.

Aziz Chan mengenyam pendidikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Padang, ketika itu usianya masih 4 tahun. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan Sekolah Dasar (SD) pada masa sekarang.

Bagindo Aziz Chan.
info gambar

Berasal dari keluarga ambtenaar (pegawai negeri zaman Belanda) membuat Aziz Chan terbiasa hidup berdisiplin dan bertanggung jawab. Teman-temannya mengenal ia sebagai anak yang cerdas di sekolah.

Tradisi merantau senantiasa dipraktikkan orang-orang dari etnis Minangkabau. Azizchan sendiri mulai merantau pada usia muda setelah ia lulus dari HIS. Sekitar tahun 1920-an, ia langsung merantau ke Pulau Jawa untuk menempuh pendidikan sekolah menengah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Surabaya. Pada usia remaja tersebut, Aziz Chan harus rela meninggalkan kedua orang tua dan saudaranya.

Aktif Berorganisasi, Akrab dengan Haji Agus Salim

Setelah lulus, Aziz Chan meninggalkan Surabaya untuk menempuh pendidikan sekolah menengah atas di AMS (Algemeene Middelbare School) di Batavia (sekarang Jakarta). Setamatnya dari AMS, ia memilih masuk sekolah tinggi hukum yakni di Rechtshoogeschool te Batavia (RHS). Dari sinilah, Aziz Chan sempat membuka praktik sebagai pengacara atau saat itu dikenal dengan sebutan "pokrol".

Semenjak di AMS Aziz Chan tertarik dengan berbagai pertemuan diskusi yang membahas nasionalisme, modernisasi, dan Islam Indonesia. Tak hanya menjadi pendengar, Aziz Chan juga sering menjadi pembicara dalam pelbagai pertemuan.

Sebagai seorang perantau, Aziz Chan juga memiliki jaringan pergaulan yang luas. Ia tercatat sebagai anggota pengurus Jong Islamieten Bond (JIB) yang digagas oleh Masyudul Haq atau lebih dikenal dengan nama Haji Agus Salim, seniornya yang sama-sama berasal dari Minangkabau. Aziz Chan merupakan murid sekaligus pengikut setia Agus Salim.

Potret Masyudul Haq atau Haji Agus Salim ketika masih muda.
info gambar

Ketertarikan Aziz Chan dengan pemikiran Agus Salim diterapkan dalam kehidupannya. Ia cenderung berpikir secara intelektual Islam, kebiasaan–kebiasaan yang islami juga menjadi bagian dari dirinya. Hal itu jugalah yang membentuk pengertian perjuangan dan ideologi politik dalam diri Aziz Chan.

Kiprahnya di organisasi semakin diakui tokoh-tokoh muda ketika membentuk Barisan Penyadar Sumatra Barat bersama Agus Salim, dan Persatuan Pelajar Islam di bawah pimpinan Syekh Adam BB. Sejak menjadi mahasiswa Aziz Chan turut aktif berjuang menentang kolonial pemerintahan Belanda. Ia juga mendirikan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Kembali dari Perantauan

Setelah mendapat banyak pengalaman dan ilmu di Pulau Jawa khususnya Batavia, Aziz Chan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman pada 1934. Namun, saat itu belum dapat melakukan kegiatan politik karena dibelenggu oleh pemerintah Hindia Belanda, satu-satunya peluang yang ia lakukan adalah mengajar di Moderne Islamische Kweek School.

Pada 1935, ia mengajar di Islamic College, kemudian bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Pendidikan Pergerakan Umum bagi rakyat dari tingkat tinggi sampai rendah dengan nama Volks Universalitir.

Selain mengajar Aziz Chan juga melantik kader-kader perjuangan. Selain itu dia juga sering melakukan ceramah-ceramah dan tablig. Pada 1940 dalam suatu tablig agama dia dinyatakan melanggar spreek delict sehingga dihadapkan ke landraak (pengadilan) dan dijatuhi hukuman 50 hari penjara.

Pada bulan November 1945 Aziz Chan terpilih sebagai salah seorang utusan PRI (Pemuda Republik Indonesia) untuk menghadiri Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta. Setelah kembali ke Padang, dia membentuk organisasi Pemuda Muslim Indonesia.

Saat masa pendudukan Jepang, Aziz Chan sempat dipenjara karena mendirikan organisasi Pemuda Nippon Raya. Meski terlihat mendukung pihak Jepang, nyatanya organisasi ini bertujuan mencegah para pemuda agar tidak terpengaruh propaganda Jepang. Organisasinya dibubarkan, para pendirinya pun dijebloskan ke jeruji besi. Untuk kedua kalinya ia mendapat hukuman ringan.

Pengetahuannya yang luas ditambah dengan pribadi yang jujur dan religius mengiringi Aziz Chan menjadi pemuda yang berani dan tidak kenal kompromi menghadapi Sekutu dan NICA. Di tengah situasi setelah kedatangan Sekutu di Padang pada 10 Oktober 1945, ia menolak tunduk terhadap kekuatan militer Belanda yang berada di belakang tentara Sekutu.

Ia terus melakukan perlawanan dengan menerbitkan surat kabar perjuangan yang bernama Republik Indonesia Jaya, bahkan turun langsung memimpin perlawanan terhadap Belanda. Perjuangannya banyak dilakukan melalui perundingan, surat-surat diplomatis dan juga melalui media cetak surat kabar.

Mempraktikan Nilai Islam di Tanah Kelahiran

Nilai-nilai keislaman selalu dikedepankan oleh Aziz Chan tak terkecuali ketika mengajar. Ia bukanlah guru untuk mata pelajaran tertentu, seringnya lebih banyak berceramah tentang perjuangan bangsa Indonesia dan juga mengajar tentang agama. Dirinya selalu menaruh pesan dan ajaran agar para siswa tak lupa menjalankan salat.

Mantan Menteri Perhubungan era Orde Baru, Azwar Anas, pernah merasakan gaya mengajar Aziz Chan. Pada era kemerdekaan, Azwar Anas bersekolah di SMP Republiken—nama lainnya SMP Perjuangan—yang didirikan gurunya itu.

"Jika Bagindo Aziz Chan yang jangkung itu masuk kelas hendak mengajar, ia selalu mengawalinya dengan menulis bismillahirrahmanirrahim (dengan tulisan Arab) di papan tulis,'' kata Azwar Anas dalam Azwar Anas: Teladan dari Ranah Minang yang disusun Abrar Yusra.

Aziz Chan masuk ke pemerintahan kota Padang sebagai Wakil Wali Kota pada 24 Januari 1946, ketika konflik bersenjata dengan Belanda plus sekutu tengah bergejolak di daerah-daerah. Kemudian pada 15 Agustus 1946, ia dilantik sebagai Wali Kota Padang kedua menggantikan Abubakar Jaar yang dipindahtugaskan menjadi residen di Sumatra Utara. Usianya saat itu terbilang muda, yakni 36 tahun. Sama seperti ketika mengajar, dalam memimpin kota pun Bagindo Aziz Chan tetap memperlihatkan sisi keislamannya.

"Beliau adalah seorang muslim yang taat yang boleh dikatakan dekat kepada fanafik. Bila berkata-kata, baik dalam berbagai pertemuan atau berpidato di depan umum senantiasa keluar dan mulut beliau 'alhamdulillah', 'bismillah', dan 'insyaallah'. Demikian pula dalam surat-suratnya selaku Wali Kota Padang, selalu dimulai dengan 'assalamualaikum'. Agama Islam tidak boleh dilecehkan di hadapannya. Para pemimpin yang mengaku pemuka Islam, tetapi satu kali kelihatan olehnya tidak jujur dihantamnya, bahkan dimakinya. Matanya besar menantang tetapi terbayang kejujuran,'' jelas Siti Fatimah, Mestika Zed, dkk. dalam buku Bgd. Azizchan, 1910-1947: Pahlawan Nasional dari Kota Padang.

Infografik Bagindo Aziz Chan
info gambar

Memimpin Kota di Tengah Perang

Kota Padang sudah menjadi medan pertempuran seusai Belanda dan Sekutu mendarat pada 10 Oktober 1945. ''Selama sekitar dua tahun pertama kemerdekaan, kontak senjata antara tentara Republik dengan tentara Sekutu, dan kemudian tentara Belanda, hanya berlangsung di kota Padang,'' tulis Audrey Kahin dalam Buku Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926-1998.

Mengetahui situasi mencekam terus berlangsung sampai bulan-bulan berikutnya, Aziz Chan yang baru beberapa pekan menjabat sebagai wali kota berupaya berdiskusi dengan pihak Sekutu terkait keamanan kota. Disepakati dalam pertemuan tersebut bahwa pasukan sekutu akan bekerja sama dengan pemerintah Kota Padang untuk menjaga keamanan.

Namun, ternyata Sekutu, terutama Belanda atau NICA, seringkali melanggar kesepakatan. Kerap terdengar letusan senapan, dentuman mortir, bahkan ledakan granat di beberapa titik Kota Padang. Tak hanya itu, orang-orang yang dicurigai sebagai ekstremis pun ditangkapi oleh tentara Belanda.

Pada tanggal 27 dan 28 Agustus 1946 bertepatan dengan malam Idul Fitri, pasukan tentara Indonesia membalas pertempuran dengan sengit di seluruh kota yang mengakibatkan marahnya Sekutu dan melakukan penggeledahan dan penangkapan di rumah-rumah.

Para lelaki ditangkap, sehingga membuat Aziz Chan tersinggung dan segera mendatangi kembali markas besar Sekutu untuk memprotes secara tegas dan menuntut agar Belanda membebaskan mereka. Melihat keberanian dan keseriusan Aziz Chan, Sekutu akhirnya mengabulkan permintaan tersebut.

Pasang Badan Menentang Belanda, Syahid pada Bulan Puasa

''Provokasi mencapai puncak dengan tindakan pembunuhan brutal terhadap Wali Kota Padang Bagindo Aziz Chan. Tepatnya hari Minggu tanggal 19 Juli 1947,'' tulis Mestika Zed dkk. dalam Buku Sumatera Barat di Panggung Sejarah, 1945-1995.

Perjuangan pejuang Indonesia di garis depan mendapatkan restu dari Aziz Chan selaku Wali Kota Padang. Dia sendiri dirayu oleh Belanda untuk menyerahkan kota Padang karena dianggap strategis dan sayang dijadikan arena pertempuran. Namun, tawaran itu ditolaknya mentah-mentah. ''Langkahi dulu mayatku, baru Kota Padang aku serahkan!'' seperti itulah yang ia serukan dan membuatnya ditargetkan tentara Belanda.

Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia, Volume 4, menulis kisah kakaknya Johnny Anwar, yang saat itu jadi Kepala Polisi Kota Padang tentang saat-saat terakhir Aziz Chan yang bertepatan dengan hari pertama bulan puasa.

Kota Padang berstatus gawat menjelang Agresi Militer I. Kabarnya, Belanda siap membunuh pihak Republik di kota Padang. Upaya melaporkan situasi kota Padang ke Bukittingi yang menjadi pusat kekuasaan pemerintah RI di Sumatra Barat mengalami perdebatan. Melaporkan via telepon terlalu riskan dilakukan, akhirnya tercetus ide mengirimkan kurir pembawa pesan. Hanya saja ketimbang orang lain, Aziz Chan memilih dirinya sendiri untuk dikirimkan ke Bukittinggi.

''Saya harus melaporkan secara pribadi. Tidak bisa orang lain menjalankan mission ini. Tidak akan terjadi apa-apa di diri saya. Kalaupun akan terjadi juga buruk baiknya, kota Padang terletak di tangan saudara Johnny Anwar sebagai Kepala Polisi Kota Padang. Fi sabilillah,'' katanya kala itu.

Bagindo Aziz Chan bersalaman dengan Johnny dan sahabat lainnya. Bersama keluarganya, ia naik mobil menuju Bukittinggi. Setibanya di daerah Ulak Karang, mobilnya dihentikan oleh tentara Belanda.

Letnan Kolonel Van Erp, komandan tentara Belanda, berpura-pura minta tolong menghentikan kekacauan yang ia sebut dilakukan ekstremis di daerah Lapai. Aziz Chan lalu meminta istrinya, Siti Zaura Usman, serta staf wali kota A. Marzuki menunggu di mobil. Menggunakan mobil Jeep tentara Belanda, ia lantas pergi ke Lapai dari Ulak Karang. Itulah terakhir kali ia dilihat oleh keluarganya dalam keadaan hidup.

''Pukul 18.00 lewat sedikit, kami hendak berbuka puasa. Tiba-tiba datang seorang polisi dengan nafas sesak menyampaikan berita bahwa Bagindo Aziz Chan mati tertembak dan kini mayatnya ada di Rumah Sakit Ganting,'' cerita Johnny.

Mendengar kabar nahas itu membuat Johnny langsung berangkat ke rumah Kolonel Van Erp. Ia membenarkan berita meninggalnya Aziz Chan. Komandan tentara Belanda itu menyebut, wali kota Padang ditembak ekstremis ketika memeriksa garis demarkasi.

Upacara memeringati gugurnya Bagindo Aziz Chan di Lapangan Imam Bonjol, Padang, pada 2016.
info gambar

''Onmogelijk (tidak mungkin),'' terlontar kata itu dari mulut Johnny. ''Alles is mogelijk (semuanya mungkin),'' jawab komandan U-Brigade dengan sinis. Johnny Anwar lantas minta izin melihat jenazah Bagindo Aziz Chan, tetapi tidak diizinkan. Ia diminta menunggu sampai besok.

Kalangan Republik meyakini Aziz Chan dibunuh oleh Belanda. ''Pasti pula dari belakang. Belanda tidak akan berani menembaknya dari muka,'' tulis Rosihan.

Hasil pemeriksaan empat dokter, wali kota pemberani itu meninggal setelah dipukul dengan benda berat di kepalanya sehingga tulang kepalanya sebelah belakang hancur dan remuk. Jenazah Aziz Chan kemudian dibawa ke Bukittinggi dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Bahagia.

Tugu Simpang Tinju

Bertahun-tahun kemudian, pada 1983, Wali Kota Padang Syahrul Ujud meresmikan Tugu Simpang Tinju, di ujung jalan yang diberi nama teman seperjuangan Aziz Chan, Johnny Anwar.

Tugu Simpang Tinju di kota Padang.
info gambar

Tugu berbentuk kepalan tangan tersebut bukan untuk mengenang petinju Indonesia, melainkan perjuangan dan semangat Aziz Chan dalam mempertahankan kota Padang. Sebuah monumen lain juga diresmikan di dekat Museum Adityawarman, begitu pula terdapat jalan protokol di kota Padang yang diberi nama Jalan Bagindo Aziz Chan.

Pada 2005, giliran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menerbitkan Kepres Nomor 082/TK/2005, mengangkat Aziz Chan sebagai pahlawan nasional. Satu dekade kemudian, pemerintah kota Padang berupaya menjadikan rumah kelahirannya di daerah Alang Laweh, Padang Selatan, menjadi museum dan situs cagar budaya. Revitalisasi lantas dilakukan pada bangunan rumah tempat kelahiran wali kota Padang kedua pada 2017.

Rumah Bagindo Azizchan.
info gambar

Dua tahun kemudian, bertepatan dengan hari kematian Aziz Chan, museum itu akhirnya diresmikan oleh Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah. Beberapa arsip dan foto sejarah yang berkaitan dengan kehidupan Aziz Chan dan kota Padang bisa didapati di museum ini.

----


Referensi: Sumbarfokus.com | Padangkita.com | Rosihan Anwar, "Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia, Volume 4" | Abrar Yusra, "Azwar Anas: Teladan dari Ranah Minang" | Siti Fatimah, Emizal Amri, Yasrina Ayu, Mestika Zed, "Bgd. Azizchan, 1910-1947: Pahlawan Nasional dari Kota Padang" | J. B. Sudarmanto, "Jejak-Jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini