Mengenal Ritual Sesajen Nyekar Pundhen Nyai Rantamsari di Desa Wonotirto

Mengenal Ritual Sesajen Nyekar Pundhen Nyai Rantamsari di Desa Wonotirto
info gambar utama

Teman-teman pasti sudah paham betul dengan Indonesia yang sangat kaya akan kebudayaannya. Bagaimana tidak banyak kebudayaannya jika di Indonesia saja terdapat bermacam-macam suku, pulau, provinsi mulai dari Sabang hingga Merauke. Nah, kali ini teman-teman akan dibawa melihat sebuah ritual unik di sebuah pulau Jawa tepatnya di provinsi Jawa Tengah, Desa Wonotirto Bulu Temanggung.

Mungkin jika dilihat sekilas desa ini tampak seperti desa pada umumnya dengan pemandangan hijau yang membentang indah memanjakan setiap pandangan mata. Namun, tahukah teman-teman jika di dalam desa ini ada sebuah ritual unik yang bahkan masih menjadi panutan penting bagi warga sekitar Desa Wonotirto. Nama ritual ini adalah ritual sesajen nyekar pundhen Nyai Rantamsari. Mungkin beberapa orang cukup bertanya-tanya dengan ritual yang kedengarannya masih asing, tetapi ternyata ritual ini sudah berjalan cukup lama.

Apa Itu Sesajen?

Ada yang tahu apa itu sesajen? Jika Kawan GNFI tidak tahu, sesajen adalah sebuah hidangan berupa makanan atau bisa juga bunga-bunga.

Ilustrasi sesajen dari hasil bumi. Sumber: Shutterstock
info gambar

Umumnya sesajen digunakan sebagai persembahan untuk leluhur atau makhluk halus yang dipercaya oleh orang-orang dalam sebuah tradisi sejumlah daerah di Indonesia. Biasanya setiap sesajen yang disediakan memiliki berbagai makna tergantung bagaimana orang-orang mempercayainya.

Tentang Nyai Rantamsari

Mungkin saja banyak yang belum mengetahui Nyai Rantamsari, Nyi Rantamsari, atau Dewi Rantamsari. Namun, nama itu tampaknya tidak asing bagi warga desa Wonotirto. Nyai Rantamsari dinilai memiliki kekuatan yang besar sehingga mereka percaya jika adanya tradiri sesajen nyekar pundhen bisa mendatangkan keselamatan. Tak cuma keselamatan, tetapi juga keberuntungan, tentunya bagi seluruh warga desa Wonotirto. Pasalnya Nyai Rantamsari dipandang oleh warga sudah dianggap sebagai leluhur yang menjaga lingkungan sekitar gunung Sumbing.

Orang-orang percaya jika Nyai Rantamsari masih bersaudara dengan penguasa Pantai Selatan (Pansel) yaitu Nyai Roro Kidul. Jika Nyai Roro Kidul disebut-sebut sebagai penguasa pantai Selatan, maka Nyai Rantamsari adalah penguasa Pantai Utara (Pantura). Sudah banyak sekali orang-orang yang percaya dengan sosok misterius Nyai Rantamsari yang berwujud wanita cantik dengan pakaian khas kuno.

Pelaksanaan Sesajen Nyekar Pundhen Nyai Rantamsari

Tradisi nyekar punden ini dilaksanakan 35 hari sekali pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Adapun tata cara melakukan tradisi nyekar punden ini adalah ritual yang dimulai pada pukul 8 malam dengan membawa sesajen ke pundhen (makam) berisi rokok, bunga wangi, kemenyan, dan uang yang ditentukan jumlahnya.

Lukisan Nayi Rantamsari.
info gambar

Ada 2 macam sesajen yang digunakan untuk pelengkap ritual ini, yang pertama sesajen yang diletakkan di pundhen dan yang kedua diletakkan di rumah sang juru kunci. Untuk sesajen yang diletakkan dirumah juru kunci ini tentu berbeda dengan yang diletakkan di pundhen. Isi dari sesajen yang diletakkan dirumah juru kunci adalah berupa sega golong, kopi, wedang jembawuk, wedang teh legi, dan wedang salam.

Setelah sesajen terkumpul di pundhen, ritual akan dipimpin oleh sesepuh dan juru kunci pundhen yang akan membakar kemenyan sambil memanjatkan doa-doa lalu dilanjutkan dengan kegiatan tirakatan di depan pundhen.

Tujuan ritual ini dilakukan untuk meminta kemakmuran, keselamatan, dan keberuntungan untuk desa beserta penghuninya. Selain itu ritual ini dipercaya dapat menyuburkan tanaman-tanaman yang dipanen oleh warga. Dari situ diharapkan warga bisa dengan mudah mendapatkan keuntungan pada masa panen. Ritual ini tentu menjadi sebuah perwujudan hormat kepada Nyai Rantamsari selaku leluhur yang sudah menjaga desa Wonotirto.

Arti dari Hidangan yang Terdapat di Sesajen

Dalam pelaksanaan tradisi nyekar pundhen ini terdapat beberapa hidangan yang memiliki sebuah simbolik dibaliknya. Yang pertama ada sega golong. Sega golong adalah hidangan berupa beras yang dimasak hingga menjadi nasi lalu dibentuk menguncup bundar (seperti bentuk nasi saat selamatan atau berkatan). Sega golong ini sendiri memiliki simbol sebagai doa agar diberikan kesempurnaan oleh malaikat Kasim.

Yang kedua adalah wedang jembawuk dan kopi pahit. Wedang jembawuk sendiri adalah kopi yang diracik dengan rempah dan santan yang biasanya disuguhkan di acara-acara hajatan. Simbol dari wedang jembawuk dan kopi hitam ini adalah sebagai perwujudan dari rasa susah yang dialami oleh manusia.

Lalu yang ketiga wedang teh legi. Biasanya jika kita ingin minum teh, kita langsung mengambil the kantung yang langsung di seduh dengan air panas. Tapi sangat berbeda dengan wedang teh legi yang digunakan untuk ritual. Teh yang digunakan harus berbentuk daun. Teh ini menunjukkan simbol kebahagiaan dan keberhasilan yang dimulai dengan pengorbanan yang cukup keras.

Wedang jembawuk alias kopi santan.
info gambar

Selanjutnya ada wedang salam yang terbuat dari daun salam yang diseduh dengan air panas. Wedang ini memiliki simbol memberi salam dengan perasaan suci dan tulus dari hati manusia yang paling dalam.

Juga ada rokok dan uang dengan jumlah tertentu. Rokok dipersembahkan untuk makhluk halus berjenis laki-laki dan uang yang digunakan pun harus dalam jumlah ganjil. Adanya uang ini dianggap bisa melancarkan rezeki bagi sang pemberi sesajen.

Yang terakhir bunga wangi dan kemenyan. Bunga wangi dan kemenyan memang haruslah ada saat melakukan suatu ritual dikarenakan jika ingin memanjatkan doa dan menghadap kepada Tuhan harus dalam keadaan suci dan wangi sedangkan kemenyan dipercaya bisa membakar sikap-sikap buruk yang ada pada manusia.

Bagaimana Kawan GNFI? Sekarang sudah tahu kan tentang salah satu ritual yang ada di Indonesia. Semoga penjelasan di atas cukup mengedukasi teman-teman yang masih bingung dengan ritual sesajen pundhen Nyai Rantamsari ini.

---

Referensi: Etnis.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini