Labuan Bajo Jadi Kawasan Pariwisata Super Prioritas, Pembangunan Jalan Dipercepat

Labuan Bajo Jadi Kawasan Pariwisata Super Prioritas, Pembangunan Jalan Dipercepat
info gambar utama

Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan tempat wisata super premium di kawasan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo alias Jokowi, merupakan pencetus ide proyek pengembangan wisata kelas dunia ini.

Selain untuk memanjakan wisatawan, rencana pengembangan kawasan Labuan Bajo tidak bisa lepas dari pertemuan G20 dan ASEAN Summit yang akan berlangsung di tempat tersebut pada 2023. Sektor wisata Labuan Bajo lantas terus digalakkan oleh otoritas setempat. Sejalan dengan itu, infrastruktur menjadi yang paling diperhatikan agar pengunjung bisa lebih nyaman mengakses sejumlah tempat.

Konsep pengembangan wisata super premium akan jauh berbeda dengan konsep wisata reguler. Pada Januari 2020, Jokowi menjelaskan bahwa maksud Labuan Bajo sebagai destinasi premium adalah adanya diferensiasi dengan tempat-tempat yang lain. Sasaran utamanya ialah pendapatan yang diterima daerah, maka dari itu akan menjadi kawasan wisata yang eksklusif.

"Kita harapkan di sini belanjanya lebih besar, stay-nya lebih, tinggalnya lebih lama. Kita harapkan itu. Jadi artinya bukan jumlah turisnya, tetapi spending-nya, belanjanya yang lebih banyak. Kira-kira itu," kata Jokowi seperti dikutip GNFI dari laman Setkab.

Plang kantor BOPLBF
info gambar

Sampai September 2020, Labuan Bajo terus berbenah mencoba menyesuaikan harapan Jokowo selaku orang nomor satu di RI. Badan Otoritas Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) yang memiliki kendali tugas dalam mengkoordinasi hingga memantau pembangunan berperan vital dalam pengembangan proyek ini.

Percepatan Pembangunan Akses Jalan

''Kita mendorong untuk dilakukannya percepatan terutama akses jalan. Di (Pulau) Flores ini yang susah bikin jalan sebenarnya. Karena untuk satu kilometer itu bisa satu tahun sendiri,'' terang Kepala BOPLBF, Shana Fatina, di hadapan wartawan pada Jumat (11/9/2020). Beruntung, karena inisiatif dan perhatian Jokowi pembangunan jalan di Pulau Flores via akses darat dari atau ke Labuan Bajo menjadi lebih cepat. ''Yang jalan 60 kilometer bisa selesai dalam dua-tiga tahun,'' imbuhnya.

Usulan aksesbilitas jalur lintas utara. Diperkirakan tahun 2021 akhir sudah bisa dilalui.
info gambar

Sampai saat ini, Flores mengandalkan jalur lintas tengah (Trans Flores) untuk menjangkau daerah bagian tengah dan timur. Lain daripada itu, jalur lintas utara sedang digalakkan pembangunannya. Kerja sama dengan pemerintah provinsi NTT diharapkan mempercepat penyelesaian pembangunannya.

''Jadi 2021 akhir mudah-mudahan utara itu selesai. Jadi Flores punya jalur alternatif,'' kata Shana.

Jalur Baru dari Labuan Bajo, Pangkas Waktu Tempuh ke Tempat Wisata Lain

Tempat wisata di Provinsi NTT tidak cuma Pulau Komodo yang termasuk dalam wilayah Manggarai Barat. Kawan GNFI jalan-jalanlah ke Pulau Flores di bagian tengah dan timur, banyak tempat wisata eksotis yang sudah ada meskipun memang cukup memakan waktu yang lama untuk dijamah.

Ya, memakan waktu karena sulitnya akses jalan. Namun, karena ada dorongan mengembangkan Labuan Bajo sebagai tempat wisata super prioritas, ke depannya menyambangi destinasi wisata di luar Labuan Bajo dipastikan akan menjadi lebih mudah.

Daftar tempat wisata di Nusa Tenggara Timur (NTT).
info gambar

Salah satu contoh tempat wisata di Pulau Flores yang masih terbilang familier ialah kampung adat Wae Rebo. Letaknya di Kabupaten Manggarai dan berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Tak ayal, kampung satu ini berpredikat salah satu kampung tertinggi di Indonesia.

Sayangnya menyambangi Wae Rebo tidak mudah karena letaknya terpencil. Memang sudah ada jalan Trans Flores, tetapi melalui jalan itu pun Wae Rebo masih sulit dijangkau dan membuat pelancong membutuhkan waktu yang lama untuk sampai.

Kampung Adat Wae Rebo di NTT, Flores, pada 2018.
info gambar

Sudah disebutkan kalau pembangunan jalan akan dilakukan di bagian utara Labuan Bajo. Hanya saja tak hanya utara, bagian selatan pun juga digarap. Lewat Tana Mori - yang direncanakan menjadi kawasan wisata kelas atas di Labuan Bajo - menuju Wae Rebo menjadi lebih mudah.

''Yang tadinya butuh 7 jam karena lewat Trans Flores, sekarang hanya tiga jam ke pusat pendakian Wae Rebo," ungkap Shana. "Jadi banyak hal-hal dan destinasi yang bisa dicapai dengan cepat karena perbaikan jalan," sambungnya.

Penerapan CHSE di Labuan Bajo

Ditutupnya sektor pariwisata pada masa pandemi Covid-19 tidak boleh menjadi alasan bagi para pelaku pariwisata untuk berhenti mempromosikan potensi wisata. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk dapat menarik minat para wisatawan asing untuk datang ke Indonesia.

Salah satunya Afrika Selatan dan negara-negara Afrika lainnya telah mulai memperhitungkan Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata favorit. Dalam webinar bertajuk "The Cost of COVID-19 for Global Tourism: How Indonesia and South Africa Responding" yang digelar pada 28 Juli 2020 lalu, telah dibuktikan adanya pertumbuhan jumlah wisatawan Afrika Selatan yang datang berkunjung ke Indonesia. Jumlah pertumbuhannya signifikan, dari awalnya 22.482 wisatawan pada tahun 2016 menjadi 47.657 wisatawan pada 2019.

Melihat hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berupaya meyakinkan para pelaku industri pariwisata menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, and Environmental Sustainability) di destinasi-destinasi pariwisata Indonesia. Labuan Bajo tentu saja tidak mau ketinggalan dalam menerapkan CHSE. Alasannya apalagi kalau bukan menjamin aman dan kenyamanan terutama dalam urusan kesehatan untuk para wisatawan.

''Kita semua bekerja sama membangun persepsi wisatawan jika Labuan Bajo itu aman dan nyaman. Untuk itu protokol keselamatan dan keamanan serta protokol kesehatan tidak bisa ditawar dan yang penting sekarang adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan publik,'' ujar Staf Khusus Menparekraf Bidang Keamanan, Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta, dilansir GNFI dari Industry.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini