Kisah Desa Nglanggeran di Gunung Kidul, Dari Sulit Air Sampai Jadi Kawasan Ecowisata Terbaik ASEAN

Kisah Desa Nglanggeran di Gunung Kidul, Dari Sulit Air Sampai Jadi Kawasan Ecowisata Terbaik ASEAN
info gambar utama

Entah apakah penilaian itu masih melekat sampai sekarang atau tidak. Yang pasti daerah Gunung Kidul kerap dikonotasikan dengan daerah yang tidak menyenangkan. Tandus, miskin, terbelakang, dan yang paling utama adalah sulit air.

Salah satu pemuda asal Desa Nglanggeran bernama Sugeng Handoko bahkan menceritakan bahwa dulu masyarakat tidak ada yang mau mengaku tentang daerah asalnya di Gunung Kidul.

‘’Kalau ditanya, ya ngakunya dari Jogja saja. Kalau ditanya, ‘Jogjanya dimana?’ baru mengaku dari Gunung Kidul. Masyarakat kami malu untuk mengakui asalnya dari Gunung Kidul. Itu jadi satu hal yang membuat kami prihatin,’’ ungkapnya.

--

Butuh waktu yang lama bagi Sugeng Handoko untuk menyadari betapa pentingnya kampung halamannya itu untuk hidupnya. Sugeng baru satu di antara banyak pemuda yang lahir dan besar di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang tergerak hatinya untuk mengangkat nilai kearifan lokal di desanya.

Awalnya dia merasa bersyukur atas apa yang dilakukan oleh kakak-kakak Karang Taruna yang dulu mengayominya untuk mencintai desa tempat kelahirannya. Namun tuntutan hidup juga kerap datang menghalangi Sugeng untuk bertahan di desa. Apalagi pasca gempa Yogyakarta tahun 2004 silam, yang membuat skenario kehidupan Sugeng berubah total.

Kala itu Sugeng yang hanya lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) jurusan Teknik Otomotif, sama sekali tidak ada perencanaan kuliah. Kalaupun ada pilihannya, Sugeng tidak tahu harus mengambil jurusan apa.

‘’Karena dulu lulusan STM setelah lulus, ya kerja,’’ ujarnya pada sesi diskusi daring kolaborasi Membumi Lestari dan Good News From Indonesia yang bertajuk Bergerak Bersama Menggerakkan Desa, Selasa (15/9/2020).

‘’Tapi berkat treatment dari para senior dulu di Karang Taruna, kita bekerja sama mencintai lingkungan, mencintai desa, melibatkan diri pada hal-hal dan aktivitas bersama dengan masyarakat. Itu yang menjadi satu hal yang membuat kami ada ikatan itu,’’ ungkapnya.

Ikatan itu adalah ikatan antara generasi muda yang tinggal di Desa Nglanggeran. Ikatan itu juga yang menjadi alasan Sugeng untuk kembali ke desa setelah melanjutkan pendidikan tingginya.

‘’Orang tua saya banting tulang untuk membiayai (kuliah) saya. Akhirnya saya punya pikiran untuk melakukan perubahan. Minimal ke orang terdekat, ke tetangga-tetangga saya. Ikatan yang sudah dibangun itu, sudah diawali, sudah berjalan, masa ditinggal,’’ kata Sugeng.

Berawal dari Isu Lingkungan

Air Terjun Desa Nglanggeran
info gambar

Dalam diskusi daring tersebut, Sugeng mengisahkan bahwa pemberdayaan Desa Nglanggeran bukan bertujuan langsung memidik ranah wisata. Melainkan untuk mengupayakan ketersediaan air. Yang artinya isu lingkungan yang membuat warga bersatu.

‘’Kita ada mimpi yang sama dan gerakan yang sama. Ketika kita dilarang untuk mengambil kayu, tapi tidak ada solusinya saat itu. Ecowisata? Kita belum tahu konsep itu,’’ ungkap Sugeng.

Meski begitu, Sugeng mengaku butuh waktu 3-4 tahun untuk mengubah pola pikir masyarakat.

‘’Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengubah mindset masyarakat bahwa ini bisa berpotensi dan bermanfaat untuk desa dan masyarakat. Kita harus membekali, meyakinkan bahwa kita sebenarnya punya mimpi bersama untuk desa ini,’’ katanya.

Hingga akhirnya Desa Nglanggeran menyadari akan potensi komoditas utama yang paling bermanfaat yaitu coklat. Desa Nglanggeran punya potensi bisnis coklat dari hulu ke hilir. Hasilnya hingga kini ada 20 variasi olahan coklat yang sudah dijualbelikan kepada masyarakat luas maupun wisatawan yang datang ke sana.

Pemberdayaan masyarakat pun meluas sehingga lahirlah kelompok-kelompok masyarakat seperti Kelompok Penyedia Kuliner ‘’Purba Rasa’’, Kelompok Tani ‘’Kumpul Makaryo’’, Kelompok Home Stay ‘’Purba Wisma’’, Kelompok Kesenian, Kelompok Pengrajin, Kelompok Pedagang, Kelompok Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Purna, Kelompok Ternak ‘’Purbaya’’, dan Kelompok Pengelola Kakao.

Hasilnya 80 persen masyarakat telah terlibat dan merasakan dampak positifnya.

‘’Kita integrasikan. Minimal mereka memiliki ikatan dengan pengembangan desa wisata. Dengan komunikasi dan memegang tokoh kunci untuk menjalin ke masyarakat bawah, kami jadi terbuka dan berkolaborasi,’’ ungkap Sugeng.

Tahun 2014, Momen Puncak, Tapi Bukan Momen Paling Bahagia

Desa Nglanggeran
info gambar

Pengunjung Desa Nglanggeran pernah mencapai jumlah tertinggi semenjak desa tersebut menjadi kawasan ecowisata pada 2012 silam. Sugeng membeberkan data jumlah wisatawan yang datang kala itu dan terlihat pada tahun 2014, jumlah wisatawan mencapai angka 325.303 dengan omzet yang didapatkan mencapai Rp1,42 miliar.

‘’Tapi kami tidak bahagia dengan kondisi ini,’’ pungkas Sugeng.

Secara jumlah dan omzet pendapatan desa memang melimpah, seharusnya membuat masyarakat desa bahagia. Tapi kenyataannya tidak.

‘’Terlalu banyak orang yang datang, polusi, vandalisme, kekurangan air, lelah tersenyum ketemu banyak orang. Itu yang menyebabkan kami tidak bahagia. Kami punya prinsip semua orang harus bahagia. Tuan rumah, pengelola, wisatawan, lingkungan, dan budaya kami harus bahagia,’’ jelas Sugeng.

Bukan soal banyaknya jumlah wisatawan yang datang. Bukan itu standar kebahagiaan warga Desa Nglanggeran. Bagi Sugeng dan warga Desa Nglanggeran, nilai kearifan lokal tidak boleh hilang hanya karena dibutakan oleh pendapatan desa yang melimpah.

‘’Kami membidik wisatawan yang berkualitas. Hingga pada tahun 2015 sampai 2019 sebelum pandemi, kami justru punya program untuk mengurangi jumlah wisatawan. Kenapa? Kita bisa membuktikan dengan data 2015 turun jumlah wisatawan, tapi kenaikan terjadi dari sisi omzet. Masyarakat bahagia, lingkungan aman, omzet bisa naik tiga kali lipat,’’ jelas Sugeng.

Ternyata strategi itu berhasil. Dengan tetap mengedepankan kebahagian seluruh manusia dan lingkungan yang terlibat, nyatanya omzet Desa Nglanggeran terus meningkat. Pada 2019 saja, sebelum masa pandemi, jumlah wisatawan yang datang hanya 103.107 orang. Namun omzet yang didapatkan mencapai Rp3,27 miliar.

‘’Pariwisata itu tidak berbicara jumlah. Semuanya harus dikelola. Kami memberikan berbagai produk edukatif. Paket wisata yang lebih terstruktur. Banyak sekali kelompok-kelompok dari Sulawesi dan Kalimantan yang juga mempunyai produk alam yang sama dengan Nglanggeran. Sehingga mereka pun menginap sampai 10 hari untuk belajar dari nol,’’ ungkap Sugeng.

Desa Wisata Terbaik ASEAN

Desa Nglanggeran
info gambar

Ketenaran Desa Nglanggeran yang akhirnya menjadi Desa Wisata Gunung Api Purba, ternyata sudah mulai terlacak dunia internasional. Perjuangan Sugeng dan tim selama bertahun-tahun diganjar oleh penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik Pertama di Indonesia dan mendapat penghargaan ASEAN Community Based Tourism Award 2017 di Singapura.

Kala itu Kementerian Pariwisata mengirim tiga desa wisata sebagai kandidat. Selain Desa Nglanggeran, ada juga Dewa Panglipuran, Bali, serta Desa Dieng Kulon, Jawa Tengah.

Capaian ini diperoleh oleh Desa Nglanggeran karena mampu memberikan kontribusi kesejahteraan sosial, melibatkan kepengurusan dari masyarakat, menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan, mendorong terjadinya partisipasi interaktif antara masyarakat lokal dengan wisatawan, menyediakan jasa perjalanan wisata, dan pramuwisata yang berkualitas.

Meski begitu, Sugeng melihat bahwa hal ini hanyalah sebagai bonus. Sugeng melihat bahwa ini adalah kesempatan untuk berkolaborasi bagi desa-desa lainnya. Bukan penghargaan yang Sugeng ingin capai, melainkan kolaborasi.

Karena seperti yang pernah Bung Hatta bilang, ‘’Indonesia tidak akan bercahaya karena obor di Jakarta, tapi akan bercahaya karena lilin-lilin di desa.’’

--

Sumber: Diskusi daring Membumi Lestari, Bergerak Bersama Menggerakkan Desa | Tempo

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini