Puncak Waringin dan Gua Batu Cermin, Dua Destinasi Andalan Labuan Bajo

Puncak Waringin dan Gua Batu Cermin, Dua Destinasi Andalan Labuan Bajo
info gambar utama

Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah bersolek. Kota pesisir di timur Pulau Flores ini akan disulap menjadi kawasan pariwisata super prioritas oleh pemerintah. Sejumlah infrastruktur dan tempat wisata pun ditingkatkan kualitasnya.

Mendengar Labuan Bajo tidak bisa lepas dari tempat wisata. Di barat, ada Taman Nasional Pulau Komodo dan Pulau Padar, sedangkan di timur ada desa Liang Ndara dan kampung adat Wae Rebo yang jauhnya minta ampun. Lalu, ada destinasi wisata apa saja di Labuan Bajo? Sayangnya tidak atau belum ada yang semenarik tempat-tempat wisata yang disebutkan sebelumnya. Labuan Bajo sejauh ini hanya menjadi tempat transit saja, tempat bagi wisatawan mendarat dari pesawat lalu bertolak ke tempat wisata lainnya baik lewat jalur laut maupun darat.

Namun, tidak akan lama lagi destinasi wisata akan hadir di Labuan Bajo. Namanya ialah Puncak Waringin dan Batu Kaca. Keduanya merupakan program keberlanjutan proyek pembangunan destinasi super prioritas yang yang dicanangkan Presiden Republik Joko Widodo.

Puncak Waringin, Kompas Labuan Bajo

Pada Januari 2020, Presiden Jokowi mengunjungi Puncak Waringin. Wilayah dataran dengan tinggi 45 meter sampai 54 meter di atas permukaan laut itu membuatnya kepincut. Bagaimana tidak jatuh hati, perairan Labuan Bajo tampak sedap dipandang mata, birunya lautan bersanding dengan hijaunya pepohonan yang tumbuh di darat.

Sebuah ide pun muncul untuk membuat kawasan yang mencakup area seluas kurang lebih 1.300 meter persegi menjadi pusat oleh-oleh khas Labuan Bajo. Tak hanya itu, di Puncak Waringin akan dibangun amfiteater, ruang terbuka hijau, area parkir, dan dek observasi. "Ada plasa, city walk, amfiteater, dan itu menjadi ruang publik bagi wisatawan untuk menikmati pagi maupun senja di Labuan Bajo. Saya kira semuanya masih dalam progress yang tepat waktu," kata Jokowi kala itu, dilansir GNFI dari situs Setneg.

Sampai September 2020, pengerjaan Puncak Waringin masih dilakukan di tengah pandemi virus corona atau Covid-19. Tentu saja selain menjadi pusat oleh-oleh Puncak Waringin akan difungsikan sebagai destinasi unggulan Labuan Bajo. "Puncak Waringin akan jadi pusat suvenir dan creative hub. Narasinya adalah kompas Bajo," ujar arsitek bangunan bangunan Puncak Waringin, Yori Antar, pada media ketika ada kunjungan ke tempat tersebut bersama Badan Otorita Pelabuhan Labuan Bajo-Flores (BOPLBF).

Puncak Waringin dibangun tinggi menghadap timur dan barat, sehingga pengunjung bisa dimanjakan oleh pemandangan perairan Labuan Bajo dan matahari terbenam. "Water front akan jadi rumah santai untuk melihat sunset," jelasnya.

Puncak Waringin dalam tahap pengerjaan.
info gambar

Yori menjelaskan bentuk bangunan terinspirasi dari gabungan adat Bugis, Bajo, dan Manggarai. Material yang digunakan adalah batu lokal. "Di sini kita punya sunset, pulau berlapis, bukit runcing dan kapal phinisi, meski sebagian pemiliknya orang asing. Presiden bilang kita jadikan ini tempat wisata kelas dunia, super premium," paparnya.

Pemandangan perairan Labuan Bajo dari Puncak Waringin.
info gambar

Puncak Waringin jadi pemacu pembangunan Labuan Bajo. Kini sudah ada banyak investor yang membangun hotel di sana. "Tidak ada slow down, semua digas. Saat pandemi lewat, kita siap. Ini kapan paling cepat, nanti rumah-rumah warga kita siapkan jadi homestay dan pusat suvenir," katanya.

Gedung serba guna yang akan digunakan menjadi musala, toilet, kios, dan ruang tenun.
info gambar

Puncak Waringin mulai dibangun pada Maret 2020 dengan nilai kontrak sekitar Rp 18 miliar. Nantinya pembangunan Puncak Waringin ditargetkan selesai di akhir tahun 2020.

Batu Cermin, Geopark di Ujung Barat Pulau Flores

Daya tarik wisata pantai dan perairan Labuan Baju tidak dipungkiri keindahannya. Pesona wisata yang menawarkan keindahan alam di wilayah itu memang menjadi daya tariknya. Namun, bagaimana bila ada tempat wisata yang mengkombinasikan keindahan alam ditambah edukasi sejarah, arkeologi, dan geologi? Wah, pasti akan menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang berkunjung.

Tempat yang dimaksud tersebut tidak jauh dari Puncak Waringin, namanya Gua Batu Cermin. Di situs geopark dengan luas 9 hektar ini, terdapat gua batu yang konon dulunya berada di dasar laut. Namun, akibat aktivitas gempa bumi yang terjadi wilayah itu akhirnya membuat gua menjadi naik ke atas dan kini posisinya lebih tinggi dari pantai.

Menurut keterangan sejarah, dulunya ada seorang arkeolog yang juga pastor asal Belanda bernama Theodore Verhoven. Dari penelitian dialah diketahui bahwa ada sejumlah fosil yang membuktikan bahwa dulunya gua itu berada di bawah laut.

Gua Batu Cermin di Labuan Bajo.
info gambar

Per September 2020, tempat wisata Gua Batu Cermin sedang dipercantik demi mendukung status destinasi pariwisata super prioritas. "Dari 9 hektar yang dibangun itu hanya sekitar 0,6 persen saja di bagian depan. Kemudian jalan setapak ke area Batu Cermin," ujar Shana Fatina, Direktur BPOLBF.

Pasti Kawan GNFI penasaran, mengapa namanya Gua Batu Cermin? Apakah memang bisa merefleksikan wujud kita layaknya cermin pada umumnya? Rupanya tidak seperti itu, karena dinamakan demikian karena batuannya bisa memantulkan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua. Alhasil, tanpa bantuan pencahayaan pun, ruangan tersebut terlihat terang akibat pantulan sinar matahari.

Sebelum sampai di pintu masuk Gua Batu Cermin, pengunjung akan disuguhkan hutan bambu duri khas Labuan Bajo. Aksesnya dibuat khusus dengan batuan alam yang tersedia di kawasan wisata tersebut dan didesain oleh Yori Antar. "Di sepanjang jalan menuju situs, pengunjung akan melihat bambu duri atau toe yang subur di sana. Saat musim hujan akan hijau dan rindang, namun musim kemarau jadi kuning. Bagian dalamnya tidak ada yang diubah. Hanya nanti ditambah penerangan dan area piknik," ucap Shana.

Wajah pintu masuk ke situs ini bakalan dibuat megah. Bangunan akan punya 2 lantai dengan amfiteater, kios suvenir, tempat ngopi dan ruang pameran. "Jadi pengunjung bisa tau mau lihat apa di sini," katanya.

Batu Payung di komplek wisata Gua Batu Cermin.
info gambar

Pembangunan Batu Cermin baru dimulai pada bulan Maret. Sehingga sempat terkendala di tengah pandemi. Hanya saja seusai Lebaran, pengerjaan Batu Cermin kembali dikebut. Desain akses menuju Gua Batu Cermin didesain juga oleh Yori Antar menggunakan batu-batuan yang tersedia di kawasan wisata tersebut.

Tak hanya ada Gua Batu Cermin, karena juga ada batu payung. Bukan batuan biasa, karena batu tersusun dengan komposisi menara, dengan bagian atapnya sebongkah batu besar yang datar dan melebar bertengger seimbang, layaknya kanopi payung. Konon katanya saat gempa bumi melanda Pulau Flores, batu ini tidak tergeser sedikitpun.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini