Dari Yogyakarta, Membuat Takjub Jutaan Manusia

Dari Yogyakarta, Membuat Takjub Jutaan Manusia
info gambar utama

*) Penulis Senior GNFI

Kita pernah atau sering membaca pembicaraan soal ekonomi “sektor informal”, yaitu sektor yang tidak bersentuhan dengan industri perbankan, asuransi, tidak mendapatkan bimbingan pemerintah, tidak memiliki informasi pasar dsb, secara umum yang disebut sektor informal disini antara lain UMKM atau Usaha Mikro Kecil Menengah, UKM, pedagang asongan keliling, Pedagang Kaki Lima atau PKL dsb. Mereka berjuang sendiri mencari nafkah berbekal tekad, keikhlasan dan seringkali kreativitas nya. Meskipun berjuang sendiri tanpa bantuan pemerintah, para pelaku sektor informal ini keberadaannya sangat penting di perekonomian suatu negara. Ada yang mengatakan bahwa kalau melihat anatomi kota, maka pelaku sektor informal ini mencapai 30% lebih.

Saya melihat sektor informal ini dinegara kita tidak hanya dibidang usaha ekonomi, namun juga dibidang musik, dimana para pelakunya-musisinya ini belajar sendiri, berusaha bangkit sendiri tanpa bantuan resmi dari pemerintah namun keberadaannya menggoncangkan dunia dan bahkan mengharumkan nama bangsa.

Saya pernah menulis opini di GNFI ini para musisi kita – yang informal itu, seperti Alip Ba Ta – seorang operator forklift di salah satu pabrik, dan Nisya Syabian yang berhasil memukau penggemar musik dunia lewat YouTube; dan kali ini saya menemukan anak muda gondrong, memakai kaos sederhana menyanyikan lagu-lagu yang berbahasa Indonesia dan Inggris, dan langsung mendapatkan pujian dunia. Saya karena generasi S2 alias Sudah Sepuh – mungkin terlambat mengikuti kiprah mas Felix Irwan ini karena keberadaannya di kancah dunia musik ini sudah cukup lama.

Felix Irwan yang lahir di Purworejo, Kedu Jawa Tengah 24 Juli 1990 adalah pemuda sederhana yang berusaha mencari sesuap nasi merantau di Jakarta, dan menjalankan usaha dagangnya di Yogjakarta dan bangkrut lalu menjadi pengamen jalanan di kota gudeg ini lalu ditemukan seseorang yang melihat talenta dia, dan mengajaknya menjadi penyanyi dari hotel ke hotel lainnya, café dan resto serta acara-acara informal lainnya. Karier bernyanyinya semakin meningkat,ketika mengikuti ajang bernyanyi IMB (Trans TV) ditahun 2012, X-factor (RCTI) ditahun 2015 dan The Voice Indonesia (RCTI) di tahun 2016, Ajang ini turut andil dalam proses karier bermusiknya, mengenalkan kepadanya tentang industri musik Indonesia.

Seperti Alip Ba Ta, Felix kemudian menjadi YouTuber dan dengan talentanya memetik gitar dan suaranya yang berat dia terkenal di dunia, ada yang mengatakan jumlah pendengarnya mencapai 2 juta, atau lebih saya tidak mengikuti. Saya hanya mengikuti reaksi orang – orang asing terhadap penampilannya yang memukau; dan banyak yang mensejajarkan dengan penyanyi-penyanyi dunia yang terkenal. Penampilannya yang sederhana itu juga membuat kagum orang-orang asing itu. Ketika dia menyanyikan lagunya Adelle “When We Were Young” misalnya banyak orang asing itu yang merinding mendengar lengkingan suaranya itu.

Saya yang golongan S2 itu tentu tidak faham seluk beluk musik, misalkan jenis gitar, jenis senar gitar, jenis nada, suara tinggi dan rendah dsb. Karena itu saya tidak terlalu fokus pada reaksi orang-orang asing tentang musik yang dimainkan Felix Irwan; tapi yang membuat saya merinding itu mendengar kekaguman orang-orang asing terhadap kehebatan musisi Indonesia. Setiap kali nama Indonesia disebut secara positif orang asing itu, saya merinding – ada rasa bangga menjadi orang Indonesia.

Ada baiknya, para musisi (atau profesi lainnya) yang menggoncang dunia itu mendapatkan perhatian resmi dari pemerintah misalkan Kementrian yang mengurusi Ekonomi Kreatif (karena musik terrmasuk kategori ekonomi kreatif) untuk membantu mereka ini dalam rangka mengharumkan nama bangsa. Misalkan sekali-kali membuat konser para pemusik “jalanan” yang bergerak disektor informal itu namun dikenal dunia – dengan mengundang para musisi dunia dan publik. Saya sering menulis bahwa keberhasilan anak-anak muda Korea Selatan dengan budayanya yang dikenal dunia sebagai K-Pop itu sebenarnya juga ada kehadiran pemerintahnya disitu.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini