Karst Sangkulirang Mangkalihat, Area Peninggalan Lukisan Manusia Purba Tertua

Karst Sangkulirang Mangkalihat, Area Peninggalan Lukisan Manusia Purba Tertua
info gambar utama

Karst Sangkulirang Mangkalihat adalah sebuah bentang alam karst yang terletak di Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Kutai Timur membentang hingga Kabupaten Berau. Apa sebenarnya karst itu? Menurut KBBI, karst sendiri adalah daerah yang terdiri atas batuan kapur yang berpori sehingga air di permukaan tanah selalu merembes dan menghilang ke dalam tanah. Karst juga merupakan bentang alam yang terbentuk karena proses pelarutan batu gamping atau dolometeoleh air yang akhirnya membentuk perbukitan yang unik serta ada sistem perguaan di dalamnya.

Sangkulirang Mangkalihat dikelilingi oleh dinding-dinding terjal, gua bawah tanah dengan ukiran alam yang apik, serta perbukitan hijau yang luas. Karst ini kaya akan peninggalan-peninggalan bersejarah yang juga menjadi informasi penting terkait eksistensi manusia prasejarah beserta aktivitas mereka kala itu. Hal tersebut terekam dalam seni cadas atau rock art yang merupakan lukisan yang ada di dinding gua atau ceruk, tebing, dan batu.

Mengenal lukisan ala manusia zaman prasejarah

Lukisan rock art sendiri dibuat oleh masyarakat prasejarah. Rock art termasuk kajian disiplin arkeologi, yang berperan menginterpretasikan segala tinggalan masa lalu yang terekam pada motif-motif lukisan karya nenek moyang manusia. Lukisan berupa rock art tersebut biasa diekspresikan di dinding gua dan banyak ditemukan di Benua Amerika, Afrika, Eropa, Australia, hingga Asia.

Di Asia sendiri rock art banyak ditemukan di Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia. Rock art di Karst Sangkulirang Mangkalihat menjadi salah satu situs kawasan gambar cadas yang telah terdaftar di Tentative List UNESCO pada 30 Januari 2015. Tercatat dengan No Ref 6009 dengan judul Sangkulirang-Mangkalihat Karts: Prehistoric Rock art Area.

Salah satu contoh rock art © jernih.co
info gambar

Ada lebih dari 40 lokasi dari berbagai gua di Karst Sangkulirang Mangkalihat yang memiliki rock art. Dari hasil penelitian arkeologi diketahui bahwa lukisan-lukisan di gua tersebut berusia puluhan ribu tahun lamanya. Kawasan karst ini memiliki informasi tentang jejak manusia purba yang bisa dilihat dari lukisan tangan, gambar perahu, dan lukisan berbagai jenis binatang yang tergambar jelas pada dinding-dinding gua dan konon telah ada sekitar 10.000 tahun SM.

Rock art Sangkulirang berada di wilayang Bangalon, Muara Bulan, Perondongna dan Merabu. Kawasan karst yang berada di hulu lima sungai besar yang mengalir ke Laut Sulawesi. Di kawasan itu juga terdapat tujuh gunung karst raksasa (Batu Aji, Batu Gergaji, Batu Tondoyan, Batu Kulat Bongkok, Batu Tutunambo-Pemulin, Batu Pengadan, dan Batu Tabalar Ara Raya) dan pelataran karst Tutunambo Batu Putih yang luas.

Lukisan Binatang Tertua di Dunia Ada Disini

Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan, diketahui bahwa selain gambar cadas, ditemukan pula berbagai artefak dan ekofak yang diperkirakan berasal dari masa 4000 tahun yang lalu. Salah satu lukisan binatang tertua juga ditemukan di Gua Liang Karim.

Terdapat gambar rock art berupa sarang lebah madu raksasa yang memiliki ukuran 1,5 meter. Selain sarang lebah, terdapat pula cap tangan negatif yang sayangnya sudah mulai rusak dan sudah terjangkau tangan manusia. Gua Liang Karim hanya satu dari puluhan situr prasejarah di kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat.

Di kawasan seluas 1,8 juta hektar ini juga terdapat Gua Lubang Jeriji Saleh di kompleks gunung gergaji yang merupakan tempat garca atau seni figuratif berupa lukisan binatang tertua di dunia ditemukan. Dilansir jawapos.com, menurut Maxime Aubert yang merupakan seorang arkeolog sekaligus profesor di Griffith University Autralia menyebutkan bahwa lukisan yang diduga banteng liar tersebut berusia 40 ribu sampai 52 ribu tahun.

Upaya Pemerintah Setempat Melindungi Karst Sangkulirang Mangkalihat

Karst Sangkulirang Mangkalihat memiliki banyak peninggalan sejarah yang belum diteliti dan digali secara utuh termasuk peninggalan berupa kebudayaan, sejarah, organisme yang hidup di bentangan karst tersebut.

Dengan kekayaan alam, sejarah dan budaya tersebut rupanya membuat Pemerintah Provinsi setempat berniat menjadikan Kawasan Karst Sangkurilang Mangkalihat sebagai Taman Bumi atau Geopark. Gagasan tersebut telah diangkat Pemprov Kaltim melalui Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerjasama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) ke Forum Group Discussion dan Ekspose Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Sangkulirang Mangkalihat menuju pengembangan Geopark.

Salah satu gua di Karst Sangkulirang Mangkalihat © itb.ac.id
info gambar

Sebelumnya Pemprov Kaltim telah berupaya menjaga dan melindungi kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat melalui Peraturan Gubernur No 67 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat di Kabupaten Berau dan Kutai Timur.

Menurut Kepala ESDM H Wahyu Widhi Heranata didampingi Kepala Bidang Ketenagalistrikan Vinsentius Tarukan, kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat mempunyai banyak potensi yang cukup lengkap. Baik sejarah geologi, warisan geologi, situs geologi, keanekaragaman hayati, warisan budaya dengan Gua Purba Telapak Tangan yang sudah berusia 6000 tahun.

Selain itu ada pula mata air dan sungai bawah tanah, flora dan fauna endemik serta keindahan alam yang ada di karst tersebut termasuk ecotourism atau keindahan pantai sepanjang Biduk-Biduk hingga Talisayan.

''Perlu dilakukan pembentukkan tim percepatan pengusulan Geopark Sangkulirang Mangkalihat untuk mempersiapkan draft rencana induk pengelolaan Geopark dan pembentukan badan pengelola Geopark,'' ungkap H. Wahyu Widhi Heranata selaku Kepala ESDM, dikutip GNFI dari kaltimprov.go.id yang merilis kabar pada 11 Februari 2020.

Diharapkan jika Karst Sangkulirang Mangkalihat diberikan status sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO sistem hidrologi alami di sana akan tetap terjaga, warisan budaya peninggalan sejarah manusia zaman purba terlindungi dan terhindar dari ekploitasi industri ekstaktif seperti pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit.

---

Sumber : Indonesia.go.id | Jawapos.com |Kutaitimurkab.go.id | Mongabay.co.id | Kaltimprov.go.id | e-journal.hi.fisip-unmul.ac.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini