Sejarah Hari Ini (5 Oktober 1950) - Hari Angkatan Perang RI Tanpa Sudirman

Sejarah Hari Ini (5 Oktober 1950) - Hari Angkatan Perang RI Tanpa Sudirman
info gambar utama

Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak langsung terbentuk seusai Indonesia meraih kemerdekaan.

Indonesia saat itu tidak memiliki organisasi militer resmi, cuma ada Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibentuk tanggal 22 Agustus 1945.

Kesatuan ini bertugas memelihara keamanan dan tidak menimbulkan kesan bahwa Indonesia bersiap untuk memulai perang melawan sekutu.

Barulah melalui Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Sejak tahun 1959, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 316 Tahun 1959 tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Angkatan Perang, kemudian seiring dengan perubahan nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), sekarang disebut sebagai Hari TNI.

Pada dirgahayu pertama hingga keempat, Hari Angkatan Perang RI tidak bisa dilangsungkan di Jakarta karena ibu kota dipindahkan ke Yogyakarta.

Baru pada 5 Oktober 1950 hari spesial bagi kesatuan militer di Indonesia itu baru bisa dirayakan di Jakarta.

Hanya saja pada hari itu minus bapak TNI kenamaan, Jenderal Sudirman.

Tokoh besar militer Indonesia itu wafat pada 29 Januari 1950 karena penyakit TBC yang dideritanya bertahun-tahun.

Presiden RI Sukarno pun merasa sangat kehilangan ketika merayakan Hari TNI ke-5.

Sukarno dan Sudirman.
info gambar

"Pada hari yang sekarang ini, 5 Oktober 1950, ada tempat kosong dalam hati kita, anggota-anggota Angkatan Perang. Jenderal Sudirman sudah masuk alam baka," tulis Sukarno dalam Bung Karno: Masalah Pertahanan-Keamanan.

Namun, Sukarno berharap semangat Sudirman yang teguh mempertahankan Indonesia di bidang kemiliteran bisa diwariskan ke generasi berikutnya.

"Tetapi semangat yang ditanamkan oleh Jenderal Sudirman dalam hati sanubari Angkatan Perang, semangat prajurit dan semangat putra Indonesia, semangat laki-laki yang tiada mau melepaskan tujuan perjuangan walaupun juga, semangat itu tetap akan menjadi pedoman dan petunjuk arah bagi segenap Angkatan Perang. Jenderal Sudirman telah mati, tetapi tidak mati bahkan insyaallah akan hidup terus semangat yang oleh beliau tanamkan di dalam dada anak-anaknya,'' terangnya.

---

Referensi: Sukarno, "Bung Karno: Masalah Pertahanan-Keamanan"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini