Pertama di Asia Tenggara, Siswa SMK Bandung Lulus Sertifikasi Cyber Security

Pertama di Asia Tenggara, Siswa SMK Bandung Lulus Sertifikasi Cyber Security
info gambar utama

Ada kabar baik di tengah maraknya peretasan data di berbagai situs di Indonesia yang membahayakan netizen. Indonesia baru saja mencetak sejarah dengan adanya pelajar SMK, alumni muda SMK, dan guru SMK pertama dari Asia Tenggara yang berhasil lulus sertifikasi Cyber Security Internasional CompTIA CySA +.

Mereka berhasil lulus setelah mengikuti 10 minggu pelatihan cyber security dari InfraDigital Foundation yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Mastercard Center for Inclusive Growth melalui Mastercard Academy 2.0.

Pelatihan ini merupakan program selama 3 tahun (2020-2022) untuk 6000 murid SMK dari kalangan prasejahtera, dan 158 guru SMK di Jawa Barat.

Pelatihan cyber security via daring | Foto: Merdeka.com
info gambar

Selama pandemi, peserta rutin mengikuti pelatihan selama 10 minggu secara daring. Mereka juga dibekali uang saku kuota internet sebesar Rp350.000. Di akhir pelatihan, peserta akan mengikuti ujian sertifikasi cyber security level internasional yang diadakan lembaga teknologi asal asal Amerika, CompTIA CySA+.

CompTIA CySA + adalah satu-satunya sertifikasi analis cyber security tingkat tinggi menengah, dengan pertanyaan langsung berbasis kinerja dan pertanyaan pilihan ganda. CySA + mencakup keterampilan analisis keamanan inti terbaru dan keterampilan pekerjaan masa depan yang digunakan oleh berbagai profesi, seperti analis intelijen ancaman, analis keamanan aplikasi, analis kepatuhan, dan penanganan insiden.

Biasanya, peserta yang dapat lulus ujian sertifikasi CompTIA CySA+ merupakan pekerja bidang IT atau mahasiswa IT. Ujian dilakukan secara daring dan diawasi secara ketat oleh penyelenggara. Untuk lulus sertifikasi, dibutuhkan passing grade minimal 750. Ujian dilaksanakan di sekolah dan rumah peserta masing-masing pada 29 Oktober 2020 lalu.

Muhammad Robbi Sukarno adalah pelajar kelas 12 SMKN 11 Bandung yang berhasil lulus ujian sertifikasi Cyber Security Internasional. Robbi tidak menyangka sama sekali bisa lulus sertifikasi cyber security dengan passing grade 759.

Remaja berusia 18 tahun ini memang memiliki ketertarikan tinggi di bidang IT. Selain belajar dan latihan, ia juga mengikuti berbagai forum terkait cyber security sehingga mendapat contoh pengaplikasian dari modul yang dipelajari. Anak dari penjual batagor ini berharap setelah lulus SMK, ia dapat bekerja sebagai ahli IT di bidang cyber security.

Selain Robbi, ada pula Aziz yang baru saja lulus dari SMKN 11 Bandung tahun 2019 lalu, yang berhasil lulus Cyber Security Internasional.

CySA exam | Foto: prodefence.org
info gambar

Setelah lulus SMK, Aziz Rizki Adhiaksa memutuskan untuk fokus menjalani pelatihan cyber security. Ia bertekad untuk dapat lulus sertifikasi CompTIA CySA +. Ketekunan dan kerja keras anak bungsu dari 4 bersaudara ini membuahkan keberhasilan.

Aziz berhasil mendapatkan sertifikasi dengan nilai passing grade 755. Aziz berharap setelah lulus sertifikasi ini, ia bisa mendapatkan pekerjaan di bidang security engineer dengan spesialisasi penetration tester.

Dalam program pelatihan cyber security training ini, juga terdapat guru SMK yang berhasil lulus sertifikasi tingkat internasional. Ialah Dayu Destamy Ariefin, guru SMK yang juga berhasil lulus sertifikasi cyber security internasional.

Bekerja sebagai guru selama 8 tahun, membuat Dayu selalu termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya. Ia merasa pelatihan cyber security penting diikuti guru karena merupakan kemampuan yang sangat dibutuhkan di era digital. Dengan passing grade 751, Dayu bertekad menerapkan ilmunya kepada paramuridnya.

"Ilmu cyber security ini sangat penting di masa depan dan seharusnya ada di kurikulum sekolah," tandas Dayu.

Ia juga berharap semakin banyak perempuan yang mau menekuni ilmu teknik komputer, karena kemampuan ini sangat penting dikuasai oleh semua orang.

Semoga berita baik ini memotivasi lebih banyak talenta di bidang cyber security untuk menjaga ketahanan digital Indonesia.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini