Unik dan Menarik, Inilah Beragam Jenis Olahraga Asli Indonesia

Unik dan Menarik, Inilah Beragam Jenis Olahraga Asli Indonesia
info gambar utama

Olahraga adalah salah satu cara untuk menjaga badan tetap bugar dan sehat. Saat ini banyak sekali jenis-jenis olahraga yang bisa menjadi pilihan untuk berolahraga.

Indonesia sendiri memiliki beberapa jenis olahraga tradisional asli yang tak kalah dengan olahraga umum lainnya. Olahraga tradisional khas Indonesia juga tak jauh dari tradisi dan kebudayaan yang ada di setiap daerah. Maka tak heran jika selain seru dan unik olahraga khas indonesia juga kaya akan nilai budaya.

Apa saja olahraga asli Indonesia? Menjawab pertanyaan itu, berikut uraian yang berhasil dihimpun GNFI.

  1. Pencak Silat
Pencak silat diajarkan di Australia tahun 1982 © National Archieves of Australia
info gambar

Pada 12 Desember 2019 lalu, pencak silat secara resmi ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Olahraga bela diri khas Indonesia ini sendiri sudah dikenal sejak zaman kerajaan di abad ke-7 Masehi, terlihat dari bukti di relief Candi Borobudur. Menyusuri asal keberadaannya, pencak silat ternyata berasal dari dua daerah di Indonesia, yakni dari Sumatra Barat dan Cimahe, Jawa Barat. Dari dua asal daerah tersebut, pencak silat awalnya memiliki aliran yang berbeda-beda namun kemudian bersatu melaui Perhimpunan Pencak Silat Indonesia (PSSI). Dalam seni bela diri ini, ada empat aspek penting dan utama, yakni mental spiritual, seni budaya, bela diri dan olahraga. Tak hanya di Indonesia saja, komunitas dan perguruan pencak silat saat ini sudah ada di 52 negara di dunia.

  1. Lompat batu
Lompat batu di Nias.
info gambar

Olahraga yang unik dan cukup eksrem ini menjadi daya tarik tersendiri dari Suku Nias di Sumatra Utara. Lompat Batu atau Hombo Batu mulanya adalah sebuah ritual inisiasi yang dilakukan pria sebelum berperang. Dulu, saat masih berperang para pria harus bisa melompati pagar tembok setinggi kurang lebih dua meter untuk mencapai benteng lawan. Oleh karena itu, jika ingin ikut berperang dan menjadi prajurit para pria harus bisa melompati batu setinggi 2 meter sebagai tanda telah dewasa dan siap secara fisik. Saat tak lagi berperang, tradisi lompat batu digunakan sebagai tanda pria remaja Nias menginjak dewasa. Selain sebagai tradisi, Fahombo atau bahasa masyarakat setempat untuk lompat batu, juga dijadikan pertunjukan yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Artikel koran berbahasa Belanda "Algemeen Handelsblad" pernah menuliskan betapa mengagumkan nya budaya lompat batu ini. Menurut laporan surat kabar yang berdiri pada 1828 itu, ketika ada orang asing berkunjung, olahraga dan permainan ini dipertontonkan dan ditampilkan pada turis yang menonton olahraga dan permainan ini untuk memancing decak kagum.

  1. Pacu Jalur
Olahraga Pacu Jalur © indonesia.travel
info gambar

Olahraga air asal Riau ini adalah olahraga tradisional khas daerah Kuantan Singingi (Kuansing) di Provinsi Riau yang sudah ada sejak tahun 1900-an. Olahraga sejenis lomba dayung ini menggunakan perahu berbahan kayu gelondongan atau disebut ‘jalur’ oleh masyarakat setempat. Panjang perahu yang digunakan berkisar 25-40 meter dan bisa menampung sebanyak 40 hingga 60 orang tiap perahu. Pada zaman Belanda, olahraga pacu jalur ini dimanfaatkan pemerintah kolonial untuk memperingati serta memeriahkan ulang tahun ratu mereka yang bernama Ratu Wilhelmina. Saat ini, pacu jalur dijadikan upacara khas untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia melalui Festival Olahraga Pacu Jalur.

  1. Pathol
Pathol Rembang.
info gambar

Jika Jepang punya olahraga sumo, maka Indonesia punya pathol. Olahraga tradisional asal Kabupaten Rembang, Jawa Tengah ini adalah seni gulat asli Indonesia yang lahir pada masa Kerajaan Majapahit. Namun, tidak seperti sumo yang harus memiliki tubuh yang tambun, dalam permainan ini kita hanya perlu melawan orang yang memiliki postur dan badan yang sepadan. Pemain pathol harus bertelanjang dada dan dililitkan dengan kain di pinggang saat bertanding. Dua orang yang bertarung harus berusaha saling ‘mengunci’ gerakan lawan hingga salah salah satu menyerah atau kalah. Olahraga ini biasanya dilakukan di tempat terbuka dan berpasir seperti di pesisir pantai.

  1. Jemparingan
Jemparingan © antara.com
info gambar

Olahraga mirip panahan ini adalah olahraga tradisional khas Kerajaan Mataram sekitar abad ke-15. Berbeda dengan panahan biasa, jemparingan sendiri dilakukan dalam posisi duduk bersila. Jemparingan awalnya digunakan sebagai senjata utama kerajaan. Sebelumnya, jemparingan diduga telah digunakan untuk berburu dan kemudian berkembang sebagai senjata pertempuran. Raja pertama Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I pernah mendorong pengikutnya untuk belajar memanah untuk membetuk watak ksatria. Hingga kini jemparingan masih ada, baik di Yogyakarta dan di Surakarta. Di lingkungan Keraton Yogyakarta, permainan jemparingan ini rutin dilaksanakan setiap minggu. Uniknya, saat memainkan permainan ini para pemanah wanita akan menggunakan kebaya dan batik, sedangkan kaum pria menggunakan surjan, kain batik dan blangkon.

  1. Egrang
Permainan Egrang © jatimnow.com
info gambar

Egrang sendiri berasal dari Indonesia dengan pengaruh budaya China yang sudah eksis sejak zaman kolonial Belanda. Egrang atau engrang sendiri adalah tongkat panjang dari bambu yang memiliki pijakan untuk dinaiki dan kemudian berjalan di atasnya. Dibutuhkan keseimbangan yang baik dalam melakukan permainan ini agar bisa berjalan di atas tongkat tanpa jatuh. Permainanan sekaligus olahraga ini konon awalnya digunakan untuk menghindari banjir, tetapi saat ini egrang telah menjadi permainan yang diperlombakan. Egrang dan permainan tradisional Indonesia lainnya tercatat dalam buku Javanesse Kinder Spellen yang dibuat oleh seorang pemerhati anak-anak pada zaman Belanda.

  1. Bakiak
Perlombaan Bakiak © jabarprov.go.id
info gambar

Sering dijadikan lomba pada saat 17 Agustusan, bakiak atau terompah kayu merupakan permainan sekaligus olahraga asal Sumatra Barat yang lahir sekitar tahun 1970-an. Bakiak sendiri adalah kayu panjang berfungsi seperti sandal yang diberi beberapa selop maupun tali. Permainan ini biasanya melibatkan 3 hingga 4 orang untuk bisa menjalankan ‘sandal raksasa’ ini. Diperlukan kekompakan antar semua anggota untuk bisa menggerakkan bakiak dan untuk tiba di garis finis. Di tempat asalnya Sumatra Barat permainan tradisional ini dijuluki 'terompa galuak' , sedangkan di Jawa Tengah disebut 'bakiak' dan orang Jawa Timur menyebutnya bangkiak.

Sumber: indonesia.travel.id | indonesia.go.id | delpher.nl |kompas.com | porosriau.com | superadventure.co.id | Indonesia.go.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini