Materials Chat Room: Populerkan Kembali Ilmu Warisan Nenek Moyang

Materials Chat Room: Populerkan Kembali Ilmu Warisan Nenek Moyang
info gambar utama

"...sejak zaman Ken Arok pun, bidang ilmu kita telah menjadi pijakan utama di dalam pembuatan keris oleh Mpu Gandring, ilmu perlakuan panas dalam metalurgi," ujar Dr. Sungging Pintowantoro, S.T., M.T., dikutip dari artikel berjudul Material, Ilmu Futuristik yang Terlupakan di Indonesia.

Siapa yang tak kenal keris? Salah satu warisan budaya tak benda asli Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 2008 ini merupakan wujud betapa tingginya keilmuan, para pendahulu kita di bidang yang sangat mendasar dan krusial.

Siapa sangka, dari awal keberadaan ilmu semacam itu, lahir berbagai macam ilmu-ilmu turunan lainnya. Mungkin dulu, belum populer disebut teknik metalurgi, atau ilmu logam. Tapi jelas sekali, terlihat bahwa para pandai besi tradisional di Indonesia mampu menguasai teknik pengolahan logam, dengan kompleksitas yang begitu tinggi. Melalui perwujudan keris yang bahkan ada yang mampu bertahan puluhan tahun lamanya.

Apa ilmu turunan lainnya yang dimaksud?

Jadi begini, sebelum kita lebih jauh mengenal tentang ilmu-ilmu turunannya, mari kita sedikit menarik diri jauh ke belakang di masa 3000 tahun sebelum Masehi. Kala itu manusia-manusia dengan tingkat kreativitas tinggi mampu mencampurkan berbagai macam unsur logam ke dalam tembaga, dengan melalui proses pemanasan temperatur tinggi.

Gunanya, untuk membuat beragam perkakas logam yang berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka. Revolusi industri berlangsung di tahun 1760-1840, banyak sekali inovasi-inovasi bidang material yang berhasil dihasilkan oleh para ilmuwan.

Tentunya, atas dorongan untuk keperluan mempermudah kehidupan manusia. Memang, sejak awal keilmuan metalurgi yang lebih dikenal secara luas. Akan tetapi, setelah melalui perjalanan panjang dan pemahaman bahwa ilmu metalurgi hanyalah terbatas pada area logam saja, maka mulailah dikenal penamaan ilmu yang lebih luas lagi, yaitu material, atau ilmu bahan.

Pada dasarnya, ilmu bahan adalah tingkatan yang lebih luas lagi, dengan kemampuan untuk menjangkau berbagai bidang-bidang selain logam. Hal itu terbukti dengan adanya tulisan dari Bernadette Bensaude-Vincent yang berjudul Materials Science and Engineering: An Artificial Discipline About to Explode.

Di dalamnya memuat keterangan tentang kondisi peralihan nama departemen di berbagai perguruan tinggi di Amerika, dari yang awalnya hanya metallurgy menjadi metallurgy and materials science pada kisaran tahun 1960-an.

Begitupun di Indonesia, sejak 1965, pergerakan untuk menghidupkan kembali ilmu warisan nenek moyang Indonesia tersebut telah digawangi oleh Jurusan Metalurgi (sekarang Departemen Teknik Metalurgi dan Material) Universitas Indonesia.

Keberadaan departemen dan jurusan serupa terus tumbuh di berbagai kampus, seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Jenderal Achmad Yani, Institut Teknologi Sains Bandung, Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, Universitas Teknologi Sumbawa, Institut Teknologi Kalimantan, dan masih banyak lagi.

Tentunya dengan berbagai inovasi-inovasi ilmu turunan lain, seperti fisika material, kimia material, bio-material, nanomaterial, polimer dan komposit, dan sebagainya.

Meski telah lebih dari setengah abad berkembang di Indonesia, ironisnya ilmu material masih belum terlalu dikenal oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, untuk beberapa lowongan pekerjaan di perusahaan-perusahaan yang seharusnya membutuhkan kulifikasi insinyur dan saintis bidang material, belum berani untuk mencantumkan teknik material sebagai syarat jurusan/departemen.

Memang pemahaman tentang bidang ini masih sangat minim di masyarakat Indonesia. Alhasil, tak sedikit alumni-alumni dari bidang ini mencoba mencari peruntungan dengan mendaftarkan diri melalui jalur lowongan pekerjaan lainnya, semacam teknik mesin, pertambangan, perminyakan, dan lainnya.

"Di tahunku dulu (sekitar 2000an awal) kalau nggak menyusup ke lowongan untuk jurusan mesin/perminyakan/pertambangan, sepertinya susah untuk menjangkau posisi pekerjaan ini," ujar Awan Dwi Darmawan, alumni Teknik Material dan Metalurgi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang saat ini tengah berkarier di bidang migas.

Oleh karena itu, demi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang seringkali diterima oleh mahasiswa baru teknik material atau metalurgi, serta berbagai turunan jurusan atau departemen lainnya tentang "Apa itu material?" dan "Metalurgi itu yang berkaitan sama cuaca, ya?", serta berbagai pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Materials Chat Room (MATCHA ROOM) hadir menjadi oase di tengah dahaga informasi masyarakat Indonesia tentang keilmuan unik nan futuristik ini. Sebuah platform serupa podcast dengan balutan bahasa yang ringan dan sederhana di YouTube.

Masyarakat Indonesia yang ingin tahu tentang dasar-dasar ilmu material atau metalurgi dapat berinteraksi langsung dengan para narasumber, yang dihadirkan dari berbagai macam latar belakang pekerjaan, alumni kampus, pun juga ragam bidang turunan ilmu material yang berbeda.

Bagi masyarakat Indonesia yang tertarik dengan bidang dirgantara, manufaktur, industri migas, pertambangan, transportasi, bahkan hingga kosmetik, semuanya akan dibahas secara sederhana dan interaktif di MATCHA ROOM.

Bahkan untuk saling berbagi informasi di bidang material atau metalurgi dan turunannya, siapapun yang tertarik dengan keilmuan ini bisa melakukannya kapanpun melalui media grup yang tersedia.

Sejauh ini, di dalam grup WhatsApp dan TelegramMATCHA ROOM sudah diisi dengan para pegiat material dari berbagai latar belakang, baik akademisi (mahasiswa, dosen, guru, dan ilmuwan dari berbagai institusi di Indonesia) maupun praktisi dari berbagai bidang dan perusahaan.

Because there is no engineering (or even universe) without materials.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini