Jangan Dipelihara! 6 Jenis Kucing Lucu Endemik Indonesia Ini Ternyata Hampir Punah

Jangan Dipelihara! 6 Jenis Kucing Lucu Endemik Indonesia Ini Ternyata Hampir Punah
info gambar utama

Kawan GNFI ada yang termasuk pecinta kucing? Kucing memang menjadi salah satu hewan peliharaan favorit sama seperti anjing. Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan bisa menjadi bahan hiburan tersendiri. Beberapa penelitian internasional bahkan membuktikan bahwa dengan mengelus-elus badan si kucing bisa menurunkan stres pada manusia.

Saking suka dengan kucing, beberapa dari mereka juga kerap rela merogoh kocek kantong lebih dalam untuk bisa memelihara beberapa jenis kucing peliharaan yang unik dan antik. Ini bisa terlihat dari corak bulunya dan turunan spesiesnya.

Meski begitu, ada baiknya jika Kawan GNFI tidak memelihara kucing endemik Indonesia di bawah ini ya. Memang lucu dan menggemaskan, tapi keberadaannya yang sudah banyak berkurang membuat mereka makin terancam punah.

Berikut enam kucing endemik Indonesia yang sebaiknya kita lindungi dan lestarikan.

Kucing Blacan (Prionailurus bengalensis)

Kucing Blacan
info gambar

Di Indonesia Kucing Blacan memiliki nama panggil yang beragam. Ada yang menyebutnya kucing congok, macan rembang, macan akar, kucing kuwuk, atau macan rembah. Corak bulunya yang mirip macan tutul juga membuat Kucing Blacan kerap disebut Asian Leopard Cat.

Ada tiga jenis Kucing Blacan endemik yang hingga saat ini masih hidup di Indonesia yaitu jenis javanensis yang tersebar di Jawa-Bali, jenis sumatranus yang tersebar di Sumatra, dan jenis borneoensis yang tersebar di Kalimantan. Ukuran Kucing Blacan ini tidak terlalu besar, hampir sama dengan kucing rumahan yang biasa dipelihara pada umumnya.

Karena bentuk tubuhnya yang tidak terlalu besar, jenis kucing eksotis ini dikenal sangat lihat memanjat dan merupakan jenis kucing yang jago berenang. Kucing Blacan termasuk hewan nokturnal yang cenderung mencari mangsa pada malam hari. Hewan buruannya adalah burung, serangga, tikus, kelinci, dan hewan ampibi.

Kucing Dahan Kalimantan (Neofelis diardi)

Kucing Dahan Kalimantan
info gambar

Kucing hutan yang memiliki kaki yang cenderung pendek dibanding kucing hutan lainnya ini memiliki corak yang indah. Mirip macan tutul namun bulu Kucing Dahan Kalimantan didominasi abu-abu kecoklatan seperti awal dengan totol hitam yang tersebar dibadannya.

Kucing Dahan Kalimantan ini sudah tergolong spesies hewan yang nyaris punah sejak tahun 2006 silam. Dikenal sebagai hewan nokturnal, Kucing Dahan Kalimantan juga diketahui menghabiskan waktu di atas pohon karena memiliki kemampuan bergerak yang sangat lincah.

Dan Kucing Dahan Kalimantan ini juga terkenal sangat bersih loh ketika hendak memakan mangsa hasilburuannya. Mereka akan membersihkan dulu bulu-bulu mangsanya menggunakan lidah mereka sebelum mereka melapahnya.

Kucing Merah Kalimantan (Pardofelis badia)

Kucing Merah Kalimantan
info gambar

Masih dari Kalimantan, Kucing Merah Kalimantan ini dikenal sebagai Bornean Bay Cat karena spesies kucing hutan ini diketahui hanya akan ditemui di hutan-hutan Kalimantan. Sejumlah peneliti mengatakan bahwa Kucing Merah Kalimantan ini merupakan nenek moyang dari Kucing Emas Asia.

Namun, berbedan dengan Kucing Emas Asia, Kucing Merah Kalimantan memiliki warna bulu yang didominasi warna merah. Beberapa ditemukan memiliki warna bulu coklat kemerahan. Bagian warna bulu dibadannya terlihat lebih pucat jika dibandingkan bagian kepalanya. Sehingga pada malam hari, Kucing Merah Kalimantan ini nampak agak menyeramkan karena kepalanya akan terekspos duluan.

Memiliki tubuh ramping memanjang mirip macan, panjang Kucing Merah Kalimantan bisa mencapai 55 cm dengan panjang ekor 35 cm, dan berat tubuhnya bisa mencapai 4,5 kg.

Kucing Emas Asia (Pardofelis temminckii)

Kucing Emas Asia
info gambar

Setelah sejak 2008 dikategorikan sebagai hewan yang masuk dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN), jenis kucing yang memiliki nama lain Kucing Temminck ini rupanya kerap diburu hingga terancam punah sehingga sangat dilindungi di Indonesia.

Meski sebenarnya Kucing Emas Asia juga tersebar di wilayah Asia Tenggara seperti Tibet, Nepal, Bhutan, India, dan Bangladesh, spesies kucing yang memiliki warna emas kemerahan ini sudah sangat jarag ditemukan di Indonesia yang diketahui tersebar di Sumatra dan Kalimantan.

Meski dikategorikan sebagai hewan nokturnal, namun ada beberapa Kucing Emas Asia yang juga memiliki pola aktivitas crepuscular dan diurnal. Crepuscular adalah hewan yang cenderung aktiv pada saat peralihan hari seperti sore hari menjelang gelap atau sebaliknya pagi hari menuju terang. Sedangkan diurnal adalah hewan yang aktif saat siang hari dengan sedikit aktivitas malam hari.

Ukuran tubuh Kucing Emas Asia sekitar tiga kali lebih besar dari kucing peliharaan pada umumnya. Beratnya sekitar 9-16 kg dengan panjang tubuh sekitar 66-105 cm. Ekornya pun cukup panjang antara 40-57 cm. Sekilas kucing ini mirip dengan macan ya wajahnya.

Kucing Bakau (Prionailurus viverrinus)

Kucing Bakau
info gambar

Kucing hutan yang paling gembul ini memang terlihat menggemaskan, tapi tetap saja tidak boleh dipelihara di rumah ya, Kawan GNFI. Pada tahun 2008, IUCN sudah mengkategorikan Kucing Bakau termasuk spesiak yang terancam punah. Habitatnya yang merupakan lahan basah itu kini sudah rusak disebabkan pengalihan fungsi sebagai perumahan manusia.

Kucing bakau ini dikenal sebagai fishing fish cat karena sepanjang hidupnya mereka habiskan di rawa-rawa bakau dan sepanjang sungai. Hingga tidak aneh kalau spesies kucing hutan paling pendek ini juga dikenal pandai berenang dan kerap memburu ikan sebagai santapannya.

Kucing Batu (Pardofelis marmorata)

Kucing Batu
info gambar

Di Indonesia, Kucing Batu lebih banyak di daerah Kepulauan Sunda. Sejak 2002 silam, IUCN memperkirakan bahwa spesies Kucing Batu hanya kurang dari 10 ribu individu dewasa. Itu pun jumlah spesies tersisa yang diperkirakan tersebar di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Sekilas, corak kucing ini mirip dengan jenis kucing Bengal yang sering dijadikan kucing peliharaan. Bentuk wajahnya pun mirip seperti kucing lokal Indonesia. Namun kakiknya lebih panjang dan telapak kakinya yang lebih lebar. Panjang ekornya juga lebih panjang dibandingkan kucing lokal karena bisa mencapai 31 cm.

Keunikan dari Kucing Batu adalah bahwa spesies ini ternyata memiliki genetik yang dekat dengan kucing emas dan kucing merah. Padahal awalnya spesies ini lebih dengan dengan garis keturunan kucing besar. Namun, terjadi penyimpangan genetik yang diduga terjadi sejak 9,4 juta tahun lalu sehingga akhirnya disimpulkan bahwa Kucing Batu termasuk dalam kerabat yang dekat dengan kucing emas dan kucing merah.

Itulah enam jenis kucing yang sebaiknya tidak dipelihara, namun harus dilindungi dan dilestarikan. Jadi, kucing 'oren' sudah lebih baik dipelihara, deh.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini