Menanti Penuh Harap, Menelusuri Kembali Perjalanan Gojek dan Tokopedia Menuju IPO

Menanti Penuh Harap, Menelusuri Kembali Perjalanan Gojek dan Tokopedia Menuju IPO
info gambar utama

Hari itu, Kamis, 10 Januari 2019 salah satu perusahaan teknologi atau e-commerce terbesar di Indonesia, Tokopedia, mengumumkan bahwa Mantan Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardoyo akan bergabung dalam jajaran kepemimpinan perusahaan sebagai Komisaris Utama.

Pria yang sudah punya pengalaman lebih dari tiga dekade sebagai banker, Menteri Keuangan, dan terakhir Gubernur Bank Sentral itu bergabung dengan Tokopedia ketika perusahaan rintisan itu sudah menyandang status unicorn.

Tokopedia saat itu mengaku memang sudah memasuki fase pertumbuhan baru dan tengah mengembangkan ekosistemnya menjadi infrastructure-as-a-service (IaaS) untuk memberdayakan dan memperkuat perekonomian Indonesia secara inklusif, baik daring maupun luring.

Terus bertransformasi untuk mengejar suatu ambisi menjadi Super Ecosystem, terbuki bahwa selama satu dekade berdiri, perusahaan rintisan terbesar kedua Indonesia ini mampu berkontribusi nyata atas perekonomian Indonesia. Hasil Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang diumumkan pada 10 Oktober 2019 lalu menjadi bukti.

Kesimpulan besar dari riset tersebut adalah nilai total transaksi (Gross Merchandise Value/GMV) Tokopedia pada tahun 2019 sudah mencapai Rp222 triliun. Angka tersebut setara dengan 1,5 persen perekonomian Indonesia. Melihat potensi tersebut, tak ayal Tokopedia kemudian membuat target lebih ambisius untuk menyumbang angka ekonomi sebesar 5 persen dalam jangka waktu lima tahun setelahnya.

‘’Indonesia, dengan lebih dari 17 ribu pulau, akan terus menjadi fokus utama dari Tokopedia. Bagi kami, Makassar lebih penting daripada Manila. Sukanagara lebih penting dibandingkan Singapura. Maka Tokopedia sebagai perusahaan teknologi Indonesia akan terus berkomitmen menjadi lebih relevan dan bermanfaat untuk Indonesia,’’ ungkap William dalam keterangan tertulis pada 10 Oktober 2019 silam.

Kabar Tokopedia Akan IPO Mulai Berhembus di Tahun 2019

Tokopedia IPO 2021
info gambar

Seolah ingin menjangkau tiga pulau dalam satu dayungan, penunjukan Agus Martowardoyo sebagai Komisaris Utama Tokopedia pun digadang-gadang sebagai satu terobosan lain yang akan dilakukan Tokopedia. Yaitu melantai ke bursa saham yang bakal membuka peluang masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi mitra, melainkan juga merangkap sebagai pemilik perusahaan rintisan ini.

Yang jelas, dengan ‘’merekrut’’ Agus, Tokopedia akan berbenah dengan menerapkan manajemen dan tata kelola yang lebih baik. Mulai dari pembukuan laba positif dan segala hal yang perlu dipersiapkan agar Tokopedia bisa segera melantai di bursa.

Hingga menjelang akhir tahun 2019, Co-Founder sekaligus CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, justru memberikan sinyal bahwa melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui initial public offering (IPO) baru sekadar rencana jangka panjang. Bahkan dapat dikatakan pihaknya belum tertarik mengupayakan hal itu atau menjadikan itu sebagai prioritas utama.

Meski begitu melalui VP of Corporate Communications Tokopedia, Nuraini Razak, justru memberikan harapan pasti akan rencana melantai di bursa. ‘’Tokopedia pastinya akan melantai di bursa saham. Harapannya, setiap masyarakat Indonesia, termasuk para pengguna, penjual, dan mitra Tokopedia berkesempatan untuk turut memiliki Tokopedia,’’ katanya dikutip Kontan.co.id (21/10/2019).

Namun Nuraini mengaku belum merinci kapan eksekusi rencana tersebut bisa dilakukan. Yang jelas, dengan rencana IPO ini, Tokopedia akan menerapkan manajemen dan tata kelola yang lebih baik. Di samping itu, ada salah satu alasan mengapa William tak ingin memprioritaskan untuk IPO.

‘’Kami masih punya cukup modal dari investor besar seperti Alibaba dan Softbank, maka kami belum mau IPO,’’ ungkap William dikutip CNNIndonesia.com saat menjadi pembicara di Tech in Asia Conference di Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019 silam.

Pada 2017 lalu, Tokopedia memang mendapat kucuran dana senilai 1,1 miliar dolar AS yang didominasi oleh Alibaba Group dan pemilik saham Tokopedia. Setahun kemudian Tokopedia kembali mengumumkan perolehan pendanaan baru sebesar 1,1 miliar dolar AS dari Softbank Vision Fund dan Alibaba Group dengan partisipasi Softbank Ventures Korea.

Di Tahun yang Sama, Gojek pun Memberi Sinyal Akan IPO

Gojek Akan IPO
info gambar

Masih ingat tepat pada perayaan Hari Ulang Tahun ke-9 Gojek di Jakarta pada 2 November 2019 lalu, berembus kabar bahwa perusahaan rintisan dengan nama PT Aplikasi Karya Anak Bangsa itu akan melakukan pencatatan saham perdana di BEI. Namun, Co-CEO Gojek, Andre Soelistyo, kala itu enggan membeberkan waktu pelaksanaan IPO-nya.

Saat itu, Andre memang sudah menegaskan IPO tidak akan dilakukan dalam waktu dekat bahkan pihaknya juga mengakui bahwa IPO bukan termasuk kebutuhan yang mendesak, melainkan pengelolaan jangka panjang.

‘’Mungkin tiga tahun lagi. Saya pikir, intinya adalah kami sedang mempersiapkan diri untuk sampai ke sana. Bukan hanya karena IPO itu sendiri, tetapi karena tata kelola memang perlu jauh lebih baik,’’ kata Andre dikutip Katadata.co.id (25/10/2019).

Keterangan itu pun diperkuat dengan pernyataan VP Corporate Communications Gojek, Kristy Nelwan, dikutip CNBCIndonesia.com (24/9/2019) yang mengatakan, ‘’IPO belum menjadi prioritas dalam waktu dekat. Fokus kami saat ini adalah untuk terus mengembangkan bisnis dan memperkuat layanan kepada para pengguna aplikasi kami. Serta terus memberikan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan kepada mitra kami di negara-negara tempat kami beroperasi.’’

Salah satu pengaruh yang membuat Gojek tak mendesak untuk segera IPO adalah sama halnya dengan Tokopedia, perusahaan rintisan yang kini sudah lebih dulu menyandang decacorn kala itu masih memiliki modal yang cukup untuk melanjutkan bisnis.

Meski begitu hal paling esensial lainnya diungkap Andre adalah soal tiga pertimbangan yang menjadi hal dalam memutuskan waktu pencatatan saham Gojek. Pertama, melihat kondisi ekonomi dan bursa saham yang kondusif untuk IPO. Kedua, mendorong tata kelola perusahaan yang baik dan transparansi di dalam tubuh Gojek yang menjadi wajib utama yang harus dipenuhi untuk sebuah perusahaan publik.

Ketiga, Gojek akan terus meningkatkan kinerjanya terlebih dahulu agar bisa tumbuh berkesinambungan. Salah satunya adalah upaya strategi pemasaran yang lebih selektif menyasar segmen tertentu. Jika sudah berhasil melakukan itu, maka kinerja perusahaan dinilai bisa lebih efisien dan menghasilkan keuntungan.

Meski begitu, Gojek mengatakan bahwa untuk menjadi perusahaan publik, tujuan utama mereka adalah melantai di BEI dan bursa saham lainnya (dual listing). Namun kala itu pihak Gojek masih enggan mengungkapkan rencana bursa efek mana lagi yang akan dipilih selain di Indonesia.

‘’Salah satu tujuan kami IPO dengan skema dual listing adalah untuk menjadi perusahaan global,’’ ungkap Andre dikutip Katadata.co.id (25/10/2019).

‘’Gojek itu milik Indonesia, untuk Indonesia, dan harus bisa berkontribusi terhadap bursa saham di Indonesia,’’ katanya lagi dikutip CNBCIndonesia.com (2/11/2019) yang kala itu sedang mempersiapkan ekspansi ke Filipina dan Malaysia setelah berhasil beroperasi di Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Andre pun tak menafikan bahwa melakukan IPO di Indonesia sangat membuka kesempatan besar bagi Gojek yang bergerak di sektor teknologi digital untuk mengembangkan usaha mereka. ‘’Dan menurut kami juga, peluang sebagai perusahaan teknologi untuk listing di Indonesia juga sangat menarik dan belum ada kan,’’ ungkapnya dikutip Kompas.com (2/11/2019).

Setahun Berlalu, Tokopedia Kasih Kode Keras Semakin Dekat ke Lantai Bursa

Tokopedia Siap Melantai di Bursa
info gambar

Jika dibandingkan dengan Gojek, nampaknya Tokopedia yang semakin memperlihatkan tanda-tanda semakin dekat untuk melantai di bursa. Kabar paling terbaru, Tokopedia akhirnya secara resmi menunjuk dua perusahaan jasa investasi dan penjamin emisi global tersohor dunia. Keduanya adalah Morgan Stanley dan Citi.

Keduanya akan menjadi penasihat dalam upaya mepercepat debut Tokopedia menjadi perusahaan publik alias go public. Kabar ini tentu saja semakin memperkuat tanda bahwa sepertinya Tokopedia menjadi perusahaan unicorn pertama Indonesia yang akan melantai di bursa.

Hanya saja yang menjadi perhatian kali ini adalah pihak Tokopedia ternyata belum akan memutuskan pasar atau bursa efek mana, serta metode secara spesifik seperti apa yang akan diambil. Bahkan santer kabar bahwa langkah melalui penanaman umum perdana—yakni IPO—dikabarkan bisa jadi pilihan untuk dijalankan oleh Tokopedia.

Mereka terlihat akan memilih salah satu opsi potensial yaitu melalui Special Purpose Acquisition Company (SPAC).

Pasalnya Tokopedia dikabarkan mendapatkan ‘’rayuan’’ merger dari perusahaan asal Hong Kong, Bridgetown Holdings Ltd, milik taipan Richard Li dan Peter Thiel. Sebelumnya Bridgetown Holdings Ltd sudah melantai di Bursa Nasdaq, Amerika Serikat, pada Oktober 2020 lalu.

Dari IPO perdana tersebut, Bridgetown diketahui sudah meraup modal 595 juta dolar AS atau sekitar Rp8,4 triliun. Reuters juga melaporkan bahwa saham Bridgetown sempat naik hingga 18 persen setelah isu merger dengan Tokopedia beredar.

‘’SPAC juga merupakan salah satu opsi potensial yang bisa kami pertimbangkan, namun belum ada yang kami putuskan untuk saat ini,’’ jelas manajemen Tokopedia dalam keterangan tertulis yang dikutip Bloomberg (16/12/2020).

Terkait isu merger dengan Bridgetown, belum ada keterangan resmi maupun komentar dari keduanya, baik Tokopedia maupun Bridgetown. Bloomberg juga melaporkan bahwa sebenarnya Bridgetown memang sedang gencar menjajaki upaya merger dengan perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara. Namun upaya tersebut kerap gagal dan hingga kini belum berhasil menggaet perusahaan mana pun.

IPO 2021, Tokopedia Akan Jadi Decacorn dengan Valuasi Rp140 Triliun

Tokopedia Jadi Decacorn Setelah IPO
info gambar

Bagi Tokopedia, langkah SPAC bisa menjadi cara yang lebih cepat untuk tercatat di bursa Amerika Serikat. Jika benar terjadi sebuah kesepakatan merger antara Tokopedia dan Bridgetown, Tokopedia bisa mencapai valuasi mulai dari 8 miliar dolar AS hingga 10 miliar dolar AS. Jumlah tersebut setara dengan Rp112 triliun-Rp140 triliun.

Namun perlu diingat bahwa sebelumnya CEO dan Co-Founder Tokopedia, William Tanuwijaya, pernah mengatakan cenderung akan mencari opsi untuk pencatatan ganda atau dual listing. Alasan utamanya adalah agar karyawan dan konsumen di Indonesia dapat memiliki saham perusahaan.

Di satu sisi, jika Tokopedia positif untuk melakukan merger dengan Bridgetown, maka ada kemungkinan Tokopedia tidak akan IPO. Potensi merger ini sebenarnya sangat terbuka lebar karena pada dasarnya perusahaan Richard Li melalui Pacific Century Group sudah menjadi investor minoritas di Tokopedia melalui FWD Group.

Jika sukses melakukan merger, maka Tokopedia secara tak langsung akan menjadi perusahaan terbuka tanpa harus melewati debut IPO.

Terakhir pada Jumat, 18 Desember 2020 lalu, dua sumber yang tidak disebutkan namanya kepada Reuters mengungkapkan bahwa rencana Tokopedia untuk IPO itu terlihat semakin dekat. Paling cepat pada tahun 2021 dengan skema dual listing, yaitu di bursa saham Amerika Serikat dan BEI.

Selain itu, berhembus kabar bahwa Tokopedia mengincar dana 1 miliar dollar AS yang setara dengan Rp14 triliun dari pencatatan saham perdana pada tahun depan.

Tokopedia juga akan mencatatkan sebagai perusahaan kedua yang berhasil dual listing di bursa saham AS dan Indonesia setelah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Meski pencatatan saham ini masih akan mengikuti kondisi pasar modal pada tahun 2021, namun modal besar itu kabarnya akan digunakan untuk mengembangkan bisnis dan membantu menciptakan likuiditas untuk sahamnya. Hal ini tentu saja akan meningkatkan kredensial Tokopedia sebagai jawara toko online di Indonesia.

Upaya BEI Dukung Unicorn dan Startup Untuk IPO

Unicorn IPO
info gambar

Untuk mendorong perusahaan rintisan yang sudah menyandang status unicorn untuk IPO, ada beberapa hal yang sebenarnya sudah Bursa Efek Indonesia (BEI) upayakan. Salah satunya melonggarkan Peraturan I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan Oleh Perusahaan Tercatat.

Beberapa poin dalam kebijakan tersebut sudah direvisi. Salah satunya adalah syarat net tangible asset (NTA) yang menjadi minimal Rp5 miliar di papan pengembangan, laba usaha minimal Rp1 miliar, dan nilai kapitalisasi pasar minimal Rp100 miliar.

Otoritas bursa juga sudah memfasilitasi bagi perusahaan rintisan menjadi perusahaan publik melalui papan akselerasi. Berbagai sosialisasi bahkan kelas khusus sudah difasilitasi oleh BEI, namun tetap saja keputusan untuk melantai di bursa ada di tangan manajemen unicorn bersangkutan.

Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi, pernah mengutarakan bahwa bagi perusahaan yang sudah berstatus decacorn—seperti Gojek—menjalankan IPO memang cukup berat bila hanya mengandalkan investor domestik. Sehingga opsi dual listing memang bisa menjadi pilihan.

‘’Mestinya sih kalau melihat dari para listed untuk yang unicorn-unicorn memang kalau di Indonesia saja rasanya sophisticated investor mungkin masih belum. Jadi mau enggak mau ya dilakukan untuk dual listing. Jadi enggak di luar [saja] tapi di sini juga,’’ jelas Inarno dikutip CNBC (14/10/2019).

Bagi BEI, masuknya perusahaan rintisan berbasis teknologi dengan valuasi besar seperti Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak, akan mendorong kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian Indonesia jika mencatatkan saham di pasar modal domestik.

Hal ini sudah terlihat pada tren 20 perusahaan terbesar di bursa Wall Street yang kini didominasi oleh perusahaan-perusahaan teknologi seperti Amazon, Facebook, Google, hingga Apple Inc.

‘’Menurut saya sebagai investor ya, ini bisa sebagai part of the interest. Banyak sekali public investor melihat ke sektor teknologi jadi potensi upside untuk perusahaan-perusahaan ini cukup besar, bisa saja kapitalisasi market akan meningkat,’’ ungkap Komisaris PT Bursa Efek Indonesia, Pandu Sjahrir, dikutip Bisnis.com (21/10/2020) terkait keuntungan kehadiran perusahaan rintisan di pasar modal Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini