Indikator Baru Human Development Report Untuk Selamatkan Planet. Di mana Posisi Indonesia?

Indikator Baru Human Development Report Untuk Selamatkan Planet. Di mana Posisi Indonesia?
info gambar utama

Dalam rangka peluncuran laporan tahunan Human Development Report (HDR) 2020 pada 16 November lalu, Norimasa Shimomura, selaku perwakilan United Nation Development Programme (UNDP) Indonesia berkesempatan untuk memaparkan hasil dari laporan tersebut untuk Indonesia.

Sebelumnya, di tahun lalu Indonesia mengalami peningkatan dalam hal Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan nilai 0,718 di tahun 2019, meningkat dari sebelumnya di angka 0,707. Pada tahun ini UNDP menambahkan indikator baru dalam menentukan nilai HDI.

Untuk diketahui, HDI digunakan mengukur kemajuan suatu negara berdasarkan dimensi pengembangan manusianya, manusia yang sehat dan berumur panjang, berpengetahuan, dengan taraf hidup yang tinggi.

Indikator baru yang baru diperkenalkan tahun ini adalah Planetary pressures–adjustedHDI (PHDI) yakni indeks eksperimental yang menyesuaikan HDI untuk tekanan planet di era antroposen. Mengusung tema yang sama, antroposen merupakan zaman dimana aktivitas manusia mulai memiliki pengaruh global terhadap ekosistem bumi.

Indikator Baru Untuk Planet yang Lebih Baik

Indikator penilaian HDI sebelum PHDI (Sumber: HDR/Zoom)
info gambar

Dalam hal ini HDI disesuaikan dengan emisi karbon dioksida per orang (berbasis produksi) dan jejak material per kapita untuk memperhitungkan tekanan manusia yang berlebihan di planet ini. Indikator baru tersebut dimaksudkan sebagai pengingat agar negara-negara memperhitungkan tekanan berbahaya yang ditimbulkan manusia di planet ini dan mulai lebih fokus dan memperhatikan ini akan dampaknya terhadap lingkungan serta planet bumi.

Dengan penambahan nilai PHDI, HDI Indonesia turun 16 peringkat menjadi 0,691 dari yang sebelunya 707. Tak hanya Indonesia, ternyata ada 50 negara lebih yang turun dari kategori peringkat tinggi HDI karena penambahan indikator tersebut.

Hal tersebut juga menyimpulkan bahwa tak ada negara di dunia yang mencapai nilai pembangunan manusia yang sangat tinggi tanpa membebani planet ini, hal tersebut disampaikan oleh Norimasa Shimomura. Setelah memaparkan laporan HDI Indonesia, Shimamura juga menyampaikan tiga prinsip yang merupakan kunci untuk mengubah dunia kita untuk model pembangunan berkelanjutan.

Secara garis besar tiga poin tersebut adalah mencari solusi serta bekerja tanpa merusak alam, membutuhkan insentif dan regulasi yang mempengaruhi para pembuat keputusan untuk mencegah daripada meningkatkan kerusakan planet, dan adanya nilai sosial agar semua orang sadar dan lebih memperhatian serta melindungi planet.

Perubahan yang Membawa Sisi Positif

Penurunan peringkat Indonesia setelah PDHI (Sumber: HDR/Zoom)
info gambar

Masih dalam forum peluncuran Human Development Report 2020 yang dilakukan secara daring melalui Zoom, beberapa pakar terkait lingkungan dan ekonomi di Indonesia juga ikut berdiskusi mengenai penambahan indikator baru tersebut.

Rima Prama Artha selaku ekonom UNDP Indonesia mengatakan bahwa jika penurunan peringkat pada variabel lingkungan membuktikan bahwa lingkungan Indonesia belum secara efektif mendukung pembangunan manusia. Sebaliknya, menurut Rima ada beberapa proyek pembangunan manusia di negara yang telah menyebabkan kerusakan lingkungan.

Menurut Alin Halimatussadiah sebagai Ketua Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Indonesia sebenarnya sudah berkomitmen untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) yang juga berkaitan dengan HDI. Namun, untuk mencapai hal tersebut bukan hal yang mudah untuk negara yang luas seperti Indonesia. Masih dibutuhkan kebijakan SDGs yang lebih implementatif dan perlu dilakukannya sosialisasi SDGs dan HDI kepada masyarakat.

Meski begitu sebenarnya banyak penelitian menunjukkan kerusakan lingkungan di Indonesia secara langsung atau tidak langsung terkait dengan pembangunan manusia dan ekonomi negara. Bencana lingkungan yang terjadi tahunan seperti kebakaran hutan dan lahan gambut telah terbukti secara ilmiah menyebabkan gangguan kognitif pada anak-anak, sementara banjir meningkatkan prevalensi stunting.

Namun, meskipun HDI Indonesia turun Alin yang juga merupakan dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia tersebut memuji UNDP untuk indikator barunya. Menurutnya hal tersebut memberikan pemahaman yang lebih luas tentang kesejahteraan dari sisi tidak hanya dari pertumbuhan ekonomi dan kualitas sumber daya manusia, melainkan juga lingkungan.

Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, Sri Tantri Arundhati dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan bahwa PHDI yang baru diperkenalkan tahun ini akan memberikan masukan yang baik bagi Indonesia untuk mengambil pendekatan yang lebih matang dalam perencanaan SDGs.

Dari perubahan indikator tersebut diketahui posisi Indonesia dalam aspek pemeliharaan lingkungan. Dengan adanya indikator tersebut diharapkan semua pihak lebih memperhatikan dan bersama-sama merawat lingkungan dan alam.

Sumber: Thejakartapost.com | Itjen.pu.go

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CY
DY
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini