Tanpa Satwa ini, Durian Tidak akan Berbuah Lebat: Riset

Tanpa Satwa ini,  Durian Tidak akan Berbuah Lebat: Riset
info gambar utama

Durian menjadi salah satu buah favorit di Indonesia dan Asia Tenggara. Bahkan karena banyak penggemarnya, buah durian sering disebut sebagai raja buah. Sesungguhnya, dibalik hadirnya buah durian yang jadi primadona itu, terdapat jasa satwa liar bernama kelelawar.

Kelelawar memiliki peran penting dalam penyerbukan buah durian yang secara ekonomi menjadi mata pencaharian masyarakat lokal di Indonesia. Sebuah laporan penelitian berjudul Contributions of bats to the local economy through durian pollination in Sulawesi, Indonesia” yang dilakukan Sheherazade et al [2019], mengungkapkan betapa pentingnya kelelawar bagi peningkatan ekonomi petani durian.

“Kelelawar adalah penyerbuk utama bunga durian. Durian bisa berbuah karena ada jasa kelelawar,” kata Sheherazade, peneliti kelelawar, kepada Mongabay Indonesia, Jumat, 18 Desember 2020.

Menurut dia, jika tidak ada kelelawar, produksi durian akan sangat menurun. Memang, serangga juga menjadi penyerbuk namun kontribusinya sangat kecil dan tidak seefektif kelelawar sebagai penyerbuk utama. Untuk jenis kelelawarnya pun berbeda di setiap tempat. Misalnya di Pulau Tioman, Peninsular Malaysia, penyerbuk durian adalah kelelawar jenis Pteropus hypomelanus dan Eonycteris spelaea, sementara di Thailand adalah kelelawar jenis Eonycteris spealea.

“Kalau di Sulawesi, ada tiga jenis, yaitu Pteropus alecto [kalong hitam], Acerodon celebensis [kalong Sulawesi], dan Eonycteris spelaea. Ketiga kelelawar ini penyerbuk utama bunga durian di Sulawesi,” ungkapnya.

Kalong sulawesi [Acerodon celebensis] nama lokalnya poniki sulawesi. Foto: Dok. Sheherazade
info gambar

Penelitian Sheherazade dkk berlokasi di Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, yang masyarakat lokalnya bergantung pada produksi buah durian. Dengan menggunakan pendekatan bioekonomi, penelitian tersebut memperkirakan bahwa jasa penyerbukan kelelawar bernilai US Dollar 117 atau 1.638.000 rupiah per hektar per musim berbuah.

Dengan mendemonstrasikan hubungan ekologis antara kelelawar dan ekonomi lokal, riset itu memberikan pesan bagi pemerintah yang ada di Asia Tenggara mengenai perlunya mempromosikan konservasi kelelawar, untuk meningkatkan produksi durian yang ditanam di wilayah hutan sekunder.

Di sebagian besar wilayah Sulawesi, durian tidak ditanam di perkebunan monokultur seperti umumnya di semenanjung Asia Tenggara. Tetapi, tersebar di hutan sekunder dengan sistem kebun campur atau agroforestry yang dikelola bersama tanaman seperti kakao [Theobroma cacao], rambutan [Nephelium lappaceum], langsat [Lansium parasiticum], dan mangga [Mangifera indica].

Di Desa Batetangnga, musim berbuah durian hanya terjadi setahun sekali dan berlangsung kurang lebih dua bulan. Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa musim berbunga durian terjadi dari Oktober hingga November 2017, kemudian musim berbuah dan panen terjadi dari Januari hingga awal April 2018.

Kalong abu-abu [Pteropus griseus] dengan nama lokal poniki abu-abu. Foto: Dok. Sheherazade
info gambar

Selama periode tersebut, menurut penduduk setempat, total produksi durian di Batetangnga adalah 1.497.600 buah. Penduduk desa menjual durian dengan harga per buah dan bukan berdasarkan berat, dengan setiap buah dihargai 5.000 Rupiah selama masa studi dilakukan.

“Jadi, kami memperkirakan bahwa jasa penyerbukan kelelawar bernilai 6,3 miliar Rupiah,” ungkap Sheherazade dalam penelitiannya.

Secara eksperimental penelitian tersebut menunjukkan pentingnya layanan penyerbukan yang diberikan oleh beberapa spesies kelelawar, untuk produksi durian yang ada di hutan sekunder di Sulawesi. Luas Desa Batetangnga mencakup 44,8 km persegi, maka jasa penyerbukan kelelawar bernilai US Dollar 117 per hektar per musim berbuah, untuk produksi 1.500 ton buah durian. Nilai ini serupa dengan perkiraan manfaat ekonomi langsung dari penyerbukan lebah ke kopi yang ada di Kosta Rika dan Kolombia.

Akan tetapi, penilaian ini harus diperlakukan hati-hati dan merupakan perkiraan kasar saja, karena penelitian dilakukan dalam waktu singkat, hanya di satu desa. Jumlah produksi durian juga berdasarkan perkiraan yang diberikan penduduk setempat, karena data resmi produksi buah durian belum ada dari instansi pemerintah daerah.

Asumsinya, semua buah durian diperdagangkan secara lokal dan menggunakan satu harga lokal saja. Buah durian yang dijual ke luar desa kemungkinan besar memiliki harga yang lebih tinggi.

Konservasi kelelawar di Sulawesi harus didorong untuk mencegah hilangnya produktivitas spesies tanaman yang bergantung pada penyerbukan. Konservasi ini, terutama tidak ada untuk jenis Acerodon celebensis yang merupakan kelelawar endemik Sulawesi dan Pteperus alecto yang merupakan spesies besar yang diburu secara intens di seluruh Sulawesi untuk mendukung pasar daging hewan liar di Sulawesi Utara.

Acerodon celebensis yang merupakan spesies endemik masuk daftar merah IUCN dengan status Rentan, karena penurunan jumlahnya yang disebabkan tindakan manusia. Kehilangan kelelawar ini mungkin memiliki dampak besar secara ekologi maupun ekonomi.”

“Di wilayah penelitian kami, jasa penyerbukan kelelawar tidak hanya penting bagi ekonomi lokal, tetapi juga bernilai budaya secara komunal, yang sangat penting bagi masyarakat setempat,” ungkapnya lagi.

Penelitian ini merekomendasikan prioritas perlindungan kelelawar oleh pemerintah Indonesia dan juga lembaga non-pemerintah yang fokus pada isu konservasi. Konservasi kelelawar harus memasukkan perlindungan in situ atau perlindungan pada habitat aslinya seperti hutan bakau yang merupakan tempat bertengger utamanya, dan area seperti hutan primer dan perkebunan campuran. Perburuan kelelawar sebagai satwa liar yang dikonsumsi dan diperjual belikan di pasar hewan di Sulawesi Utara juga harus dikurangi.

“Juga undang-undang untuk perlindungan kelelawar dan kuota berburu, serta program penjangkauan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kelelawar.”

Penelitian ini memberikan bukti, peningkatan konservasi kelelawar berpotensi meningkatkan produktivitas durian di Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar domestik yang tinggi. Selain itu, Pemerintah Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya harus mempertimbangkan potensi pemasaran durian organik dari hutan sekunder yang diserbuki kelelawar. Buah-buahan organik memiliki harga yang lebih tinggi di pasar dari pada buah-buahan non-organik.

Re-branding durian di hutan sekunder dapat menguntungkan ekonomi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, dan juga bagi konservasi kelelawar.”

==

(Artikel ini adalah republish dari Mongabay.co.id atas dasar MOU GNFI dengan Mongabay Indonesia)

Sumber:

Sheherazade, et al. “Contributions of Bats to the Local Economy through Durian Pollination in Sulawesi, Indonesia.” Biotropica, vol. 51, no. 6, 2019, pp. 913–922., doi:10.1111/btp.12712.

“Riset Membuktikan, Tanpa Satwa Ini Durian Tidak Akan Berbuah Lebat.” Mongabay Environmental News, 22 Dec. 2020, www.mongabay.co.id/2020/12/21/riset-membuktikan-tanpa-satwa-ini-durian-tidak-akan-berbuah-lebat/.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini