Sarang Burung Walet, Harta Karun Komoditas Indonesia yang Bernilai Rp500 Triliun

Sarang Burung Walet, Harta Karun Komoditas Indonesia yang Bernilai Rp500 Triliun
info gambar utama

Konon sejak era Dinasti Qing berkuasa, masyarakat China sudah mengonsumsi sarang burung wallet untuk menjaga kesehatan tubuh. Hingga saat ini sarang burung wallet masih menjadi menu favorit di restoran-restoran China. Tak sedikit dari mereka yang rela merogoh kocek lebih dalam demi menyantap si ‘’emas putih’’ ini.

Tidak hanya dikonsumsi secara langsung, sarang burung walet juga dikembangkan menjadi salah satu bahan baku kosmetik dan produk kecantikan. Bahkan tersohornya sarang burung walet ini sempat booming pada tahun 2015.

Kala itu penelitian menemukan bahwa sarang burung walet terbukti memiliki kandungan 10 persen Sialic Acid. Kandungan serupa yang terkandung pada telur dan daging, namun sarang burung walet memiliki kandungan tertinggi. Bahkan kandungan yang dimiliki komoditas lain tidak lebih dari 1 persen.

Tidak hanya itu, sarang burung walet juga terkenal mengandung kolagen serta kandungan manfaat lainnya yang hingga kini dipercaya bisa meningkatkan kecerdasan bayi di dalam kandungan. Melihat kekayaan kandungannya saja, tak heran kalau sarang yang berasal dari air liur burung walet ini hingga kini diburu oleh masyarakat China khususnya.

Sarang Burung Walet Indonesia
info gambar

Tak heran pula para pebisnis di China terus menggenjot komoditas berharga ini dari Indonesia. Pasalnya, kualitas sarang burung walet dari Indonesia terbukti memiliki kualitas paling tinggi dibandingkan dengan sarang burung walet lainnya. Alhasil, tren sarang burung walet Indonesia di China turut mendongkrak ekspor.

Dimulai dengan mengirimkan 14 ton sarang burung walet pada tahun 2015, meningkat menjadi 26 ton pada 2016, dan meningkat tajam menjadi 52 ton pada 2017. Hingga akhirnya Menteri Perdagangan, M. Lutfi.

‘’Sarang burung wallet ini sesuatu yang menarik, saya sudah lapor ke Bapak Presiden karena saya bilang, saya yakin pertumbuhanyang ditargetkan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) akan tercapai oleh Kementerian Perdagangan,’’ kata Lutfi saat Peluncuran Platform Dagang Digital Indonesia Store (IDNStore), Kamis (14/1/21) dikutip CNBCINdonesia.com.

Komoditas Non-Migas yang Berpotensi Menutup Defisit Transaksi Berjalan dan Defisit Neraca Perdagangan

Sarang Burung Walet Indonesia
info gambar

Lebih lajut Lutfi mengungkapkan bahwa pada masa pandemi saja, atau pada periode Januari-November 2020 kemarin, nilai impor sarang burung walet China dari Indonesia sudah mencapai 350,93 juta dolar AS. Atau meningkat 88,6 persen dari periode yang sama pada 2019 yang sudah mencapai 186,07 juta dolar AS.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, juga pernah menjelaskan tentang kenaikan ekspor sarang burung walet yang tak surut selama masa pandemi. Berdasarkan data IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan), jumlah ekspor sarang burung walet sudah mencapai 1.155 ton dengan nilai Rp28,9 triliun.

Selama ini sarang burung walet belum dilirik secara maksimal sebagai komoditas ekspor non-migas yang dapat membantu untuk mengatasi ketimpangan defisit neraca perdagangan maupun defisit transaksi berjalan Indonesia. Seperti defisit transaksi berjalan saja masih kerap terjadi setiap kuartalnya.

Sedangkan untuk mengejar ketimpangan defisit neraca perdagangan, selama ini Indonesia baru mengandalkan dari komoditas lain seperti lemak, minyak hewan, minyak nabati, mesin, perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.

‘’Kita ini penghasil [sarang burung walet]. Pengekspor konon kabarnya [mengirim] 2.000 ton sarang burung walet. 110 ton di antaranya sudah terakreditasi dan dijual langsung ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Bisa dibayangkan dari 110 ton, dengan 1 kilogram nilainya Rp25 juta dan sisanya kita lewati beberapa negara singgahan seperti Hong Kong, Vietnam, Malaysia, dan ujungnya sampai ke RRT. Harga tersebut kita hitung, 2.000 ton saja dikali Rp25 juta, nilainya Rp500 triliun, artinya [setara] 3,5 billion (miliar) dolar AS,’’ papar Lutfi dikutip CNBCIndonesia.com (17/1/2021).

Barantan juga menambahkan harga sarang burung walet bisa mencapai Rp40 juta per kilogram jika para komoditas ini langsung dijual langsung ke China. Terutama jika para pengekspor Indonesia mampu memenuhi ketentuan registrasi dan persyaratan teknis yang China minta.

Layaknya ginseng dari Korea Selatan dan jamur shitake dari Jepang, Indonesia punya sarang burung walet yang dipilih sebagai kekayaan alam yang bernilai ekonomi tinggi. Tak heran kalau sarang burung walet juga dijuluki kaviar dari timur karena kelezatannya yang melegenda sekaligus harganya yang luar biasa.

Indonesia Memenuhi 80 Persen Kebutuhan Sarang Burung Walet di China

Sarang Burung Walet Indonesia
info gambar

Selain China, sebenarnya ada 23 negara ekpor sarang burung walet dari Indonesia. Negara-negara besar seperti Australia, Amerika Serikat, Kanada, Hong Kong, Singapura, dan Afrika Selatan adalah beberapa negara yang potensial.

Jika dibandingkan dengan sarang burung walet produksi Malaysia, Vietnam, dan Thailand, maka sebenarnya kualitas sarang burung walet Indonesia dapat dikatakan menjadi yang terbaik. Bahkan sejak tahun 2017 saja Indonesia sudah mencukupi 80 persen dari seluruh kebutuhan sarang burung walet masyarkat China.

Mayoritas konsumennya adalah wanita karena sarang burung walet banyak memiliki khasiat yang sangat digandrungi oleh wanita. Yaitu kandungan kolagen dan kandungan lainnya yang sangat bermanfaat bagi janin pada ibu hamil.

Pada tahun 2017 itulah Indonesia memimpin ekspor sarang burung walet setelah sempat bersaing ketat dengan Malaysia. Hingga kini sarang burung walet asal Indonesia masih menjadi yang terbaik bagi konsumen di China yang kini menjadi pasar terbesar dunia.

Awalnya, Pulau Jawa adalah tempat yang diandalkan sebagai pusat produksi sarang burung walet. Namun seiring berjalannya waktu, produksi di Pulau Jawa kian menurun akibat berkurangnya lahan seperti hutan dan goa yang merupakan habitat asli burung walet.

Meski begitu, kini banyak tempat yang terbukti lebih potensial. Bahkan habitat buatan berupa rumah walet—yang tak harus mengandalkan hutan dan goa—pun terbukti dapat menghasilkan sarang burung walet berkualitas.

‘’Sumatera pernah di masa emas, sekarang juga mulai turun. Sekarang (burung walet) larinya ke Kalimanten, Sulawesi. Kita harap nanti lari ke Irian, tapi sampai sekarang belum ada rumah walet,’’ ungkap Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Boedi Mranata kepada CNBCIndonesia.com (18/1/2021).

Boedi mengungkapkan bahwa kawasan Papua juga termasuk lahan yang potensial untuk pengembangan sarang burung walet. Apalagi kondisi alam di sana juga masih sangat mendukung. Meski begitu, Boedi mengungkapkan bahwa penjelajahan burung walet ada batasnya.

‘’Kalau nggak sampai ke sana, mungkin butuh waktu lama. Ini (burung walet) tetap binatang liar,’’ katanya.

Kawan GNFI ada yang sudah coba menyantap sarang burung walet?

--

Sumber: CNBCIndonesia.com | Antaranews.com | Kompas.com | Ekonomi.Bisnis.com | Detik.com | Okezone.com

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini