Sejarah Hari Ini (30 Januari 1950) - Warga Yogyakarta Antar Kepergian Jenderal Sudirman

Sejarah Hari Ini (30 Januari 1950) - Warga Yogyakarta Antar Kepergian Jenderal Sudirman
info gambar utama

Jenderal Besar TNI (Anumerta) Raden Soedirman atau Sudirman lahir di Purbalingga, 24 Januari 1916.

Semasa hidupnya ia dikenal sebagai perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional.

Pada masa tersebut, ketika perang melawan Belanda berkecamuk di sejumlah daerah terutama di Pulau Jawa, Sudirman tetap memimpin meski kondisinya memprihatinkan.

Ketika itu ia mengidap tuberkolis/TBC yang membuatnya dirawat di Rumah Sakit Onder de Bogen (sekarang RS Panti Rapih), Yogyakarta, pada 1948.

Pada bulan November 1948, Sudirman mengempiskan paru-paru kanannya. Sebulan kemudian ia keluar dari rumah sakit dan langsung melakukan perlawanan gerilya selama tujuh bulan.

Setelah ada beberapa kali perundingan, akhirnya pada 27 Desember 1949, Indonesia meraih kedaulatannya dari Belanda.

Sudirman tentu andilnya sangat besar, walau sayangnya ia hanya sebentar menghirup aroma kemerdekaan sebenar-benarnya.

Sejumlah tokoh militer Indonesia melayat di kediaman Jenderal Sudirman.
info gambar

Saat kedaulatan diraih Indonesia, Sudirman sedang terbaring di Magelang, Jawa Tengah.

Kesehatannya tak kunjung membaik. Lima hari setelah hari ulang tahunnya yang ke-34, jenderal muda itu pun berpulang pada pukul 18.30. Kabar dukanya kemudian dilaporkan dalam sebuah siaran khusus Radio Republik Indonesia (RRI).

Prosesi pemakaman Jenderal Sudirman. Menurut laporan surat kabar Kedaulatan Rakyat ada delapan orang yang menggotong peti jenazahnya.
info gambar

Pada 30 Januari 1950, jenazah Sudirman diantar ke Taman Makam Pahlawan Semaki/Kusuma Negara, Yogyakarta.

Iringan konvoi pemakaman dari Magelang ke Yogyakarta dipimpin empat tank dan delapan puluh kendaraan bermotor.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir pada sang jenderal, warga Yogyakarta turut hadir dengan berdiri di pinggir jalan menyaksikan konvoi pemakaman yang diselenggarakan anggota Brigade IX.

Seusia dikebumikan, pemerintah pusat memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung di seluruh negeri.

---

Referensi: Depsos RI, "Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional, Volume 4"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini