Sejarah Hari Ini (6 Februari 1925) - Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Angkatan '45

Sejarah Hari Ini (6 Februari 1925) - Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Angkatan '45
info gambar utama

Pramoedya Ananta Toer dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925.

Semasa hidupnya, Pram - sebagaimana ia sering dipanggil - dikenal sebagai sastrawan yang produktif.

Ia satu angkatan dengan Asrul Sani, Chairil Anwar, Rivai Apin, Idrus, dan Usmar Ismail yang digolongkan dalam sastrawan Angkatan 45 (nama lainnya Angkatari Kemerdekaan).

Pada 1947, Pram pernah dipenjara di Lapas Bukit Duri, Jakarta Timur, karena dianggap bagian dari tentara pejuang Indonesia.

Selain dipenjara, ia juga punya pengalaman diasingkan ke Pulau Buru pada masa pemerintahan Orde Baru.

Pram dilarang menulis di pulau yang terletak di Indonesia bagian timur itu.

Namun, ia berhasil menyusun seri Tetralogi Buru yang berbentuk novel semi-fiksi sejarah Indonesia dan sempat dilarang diedarkan oleh Jaksa Agung Indonesia.

Dari banyak tulisannya juga semi-otobiografi, di mana Pram menceritakan pengalamannya sendiri.

Karena giat melahirkan karya jurnalisme, sastra, dan seni, ia pun diganjar Ramon Magsaysay Award pada 1995.

Nama Pram juga semakin harum karena beberapa kali masuk nominasi Nobel Sastra.

Walaupun gagal meraih trofi, ia mendapatkan predikat satu-satunya sastrawan Indonesia yang berhasil mendapatkan nominasi Nobel Sastra sebanyak enam kali.

Adapun penghargaan lainnya ialah Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia.

Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.

Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya terus menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok.

Pada 12 Januari 2006, Pram dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit.

Empat bulan kemudian, kabar duka pun tersiar karena Pramoedya dikabarkan wafat dalam usia 81 tahun.

Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur.

Jenazahnya kemudian dimandikan, disalatkan, dan dikebumikan di TPU Karet Bivak, Jakarta.

Selama 81 tahun hidup di belantika dunia sastra, Pram terus dikenang lewat karya-karyanya. Ia tercatat sudah menghasilkan 50 karya sastra berupa novel dan terbit dalam 41 bahasa di dunia.

Selain di Indonesia, novel-novel Pram menjadi bahan ajar wajib beberapa sekolah dan universitas di luar negeri.

---

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini