Candi Panataran Masa Akhir Majapahit, Bertahan Tanpa Bantuan Penguasa

Candi Panataran Masa Akhir Majapahit, Bertahan Tanpa Bantuan Penguasa
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

Apakah Kawan GNFI pernah berkunjung ke Candi Panataran? Candi terbesar di Jawa Timur itu sungguh menggoda. Berbagai bentuk bangunan didirikan pada lahan seluas 12.496 meter persegi. Bangunan masterpiece-nya berupa Candi Angka Tahun yang menjadi lambang Kabupaten Blitar dan Kodam V Brawijaya. Selain itu, ternyata di candi tersebut juga menyimpan kisah romantis yang dipahatkan pada dindingnya.

Kisah pembangunan Candi Panataran menarik untuk diikuti. Bangunan suci bernama asli Rabut Palah tersebut hingga kini belum diketahui pendirinya. Berita tertua tentang Rabut Palah tidaklah membahas tentang pendirian bangunan suci, melainkan penganugerahan tanah perdikan yang menaungi bangunan suci tersebut.

Ialah Raja Kertajaya dari Kadiri pada tahun 1119 yang meresmikan tanah perdikan tersebut. Bahkan raja terakhir Kadiri juga memerintahkan kepada keempat lurah penerima anugerah raja untuk mewakilinya beribadah setiap hari memuja Battara Palah.

Kabar bangunan suci Palah pada masa Singhasari tidak terdengar. Namun, para penguasa Majapahit berlomba-lomba memperbesar kompleks tersebut. Pengembangan Candi Panataran dimulai oleh Raja Jayanegara pada tahun 1319-1323. Raja kedua Majapahit tersebut menyumbangkan gapura dan arca Dwarapala di ketiga halamannya.

Tak mau kalah dengan saudara tirinya, Ratu Tribhuwana pada tahun 1347 merombak bangunan utama, Candi Induk dengan langgam batur dan berbentuk seperti meru di Bali. Bahkan, penguasa wanita pertama di Majapahit tersebut memerintahkan para seniman untuk memahatkan relief cinta Rama-Sinta dan Kresna-Rukmini di sepanjang dindingnya.

Candi Panataran
info gambar

Hayam Wuruk, Raja keemasan Majapahit selalu beribadah di Candi Negara itu setiap tahunnya sehabis musim dingin. Ia juga menyumbangkan Candi Angka Tahun dan Pendapa Teras tahun 1369-1375. Kisah cinta Panji dan Kirana menjadi tema besar yang ia titahkan untuk diabadikan di Candi Panataran. Penerusnya, Ratu Suhita menambah kesucian candi dengan menyumbangkan patirtan yang berhias relief fabel Tantri pada tahun 1415.

Kisah panjang pembangunan Candi Panataran tersebut merupakan headline yang para peneliti tawarkan kepada masyarakat Indonesia. Padahal, terdapat hal menarik lainnya yang jarang sekali dibahas, yakni masa senja Candi Panataran. Semenjak Ratu Suhita menyumbangkan patirtan, seakan-akan kabar Candi Panataran tidak lagi terdengar.

Para ahli menduga bangunan tersebut ditinggalkan pemeluknya karena letusan Gunung Kelud. Memang benar Gunung Kelud dalam kurun waktu 1000 tahun terakhir telah memuntahkan lahar sebanyak 33 kali. Akan tetapi, terdapat dugaan lain bahwa Candi Panataran ditinggalkan pemeluknya seiring runtuhnya Majapahit.

Letusan Kelud tahun 1919
info gambar

Dugaan kedua Candi Panataran ditinggalkan pemeluknya menarik untuk diulas. Serat Kanda menyebutkan keruntuhan Majapahit terjadi pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi yang ditandai dengan sengkalan sirna ilang kertaning bhumi (sirna hilang ditelan bumi). Arkeolog Hasan Djafar membantah berita tersebut dalam tulisannya tentang Raja Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya.

Menurutnya, Majapahit masih berdiri hingga tahun 1486 berdasarkan temuan prasasti Waringin Pitu (1447 M), prasasti Petak, dan prasasti Jiyu (1486 M). Bahkan, sang raja kemudian memindahkan keraton Majapahit ke Daha, wilayah Kediri saat ini.

Perpindahan keraton ke wilayah Kediri seharusnya membuat perhatian Raja Ranawijaya terhadap kelangsungan Candi Panataran besar. Namun, kenyataannya berbanding terbalik. Sang raja sibuk mengurus konflik perebutan tahta hingga mengabaikan Candi Panataran.

Memang pada akhir abad 15 Masehi Majapahit dilanda prahara berkepanjangan. Semenjak perang paregreg pada tahun 1404 hingga perebutan tahta antara Raden Patah dengan Dyah Ranawijaya tahun 1513, kondisi Majapahit tak lagi stabil.

Negara vassal banyak yang melepaskan diri, para pedagang enggan singgah ke pelabuhan Majapahit. Mereka takut nanti akan menjadi korban perang saudara seperti peristiwa yang menimpa Laksamana Cheng Ho sewaktu berkunjung ke Jawa.

Adegan Perang Relief Kresnayana
info gambar

Lantas, bagaimana kondisi Candi Panataran dalam kemelut Majapahit? Bangunan suci tersebut tetap dikunjungi oleh pemeluknya. Bhujangga Manik dalam diarinya tahun 1500-an menggambarkan betapa ramainya Candi Panataran kala itu. Pengelana dari Sunda tersebut menyaksikan bangunan suci tersebut terus menerus dibanjiri peziarah yang ingin beribadah maupun menuntut ilmu.

Saking ramainya, Bhujangga Manik yang telah menyelesaikan belajar Kitab Dharmmaweya dan Pandawa Jaya segera undur diri dari Candi Panataran. Ia tak tahan dengan bisingnya lonceng, riuhnya suara mantra, aroma dupa, dan wewangian bunga.

Berbekal diari Bhujangga Manik dapatlah diketahui kisah senja Candi Panataran. Bangunan suci tersebut tak lagi diperhatikan oleh raja, tetapi masih saja ramai manusia. Memang benar jika rakyat Blitar taat akan agamanya.

Saat sang penguasa tak lagi mengucurkan sumbangan pengelolaan candi, mereka mampu berswadaya. Mungkin saja rakyat Blitar teringat akan kisah mula pengelolaan candi tersebut.

Raja Kertajaya pada tahun 1119 tidaklah mengakuisisi kepemilikan Candi Panataran. Ia hanya berbuat baik dengan membebaskan tanah Panataran dari pajak negara. Permasalahan pengelolaan candi tetap menjadi kewenangan masyarakat Blitar, khususnya empat lurah yang menerima anugerah raja tersebut.

Berkat usaha keras moyangnya, percandian Panataran mampu bertahan lebih dari 400 tahun. Bahkan, ketika kerajaan berganti, Candi Panataran masih tegak berdiri dan ramai dikunjungi.*

Referensi: Hasan Djafar. 1977. “Girindrawarddhana: Raja-raja Majapahit Akhir”, Majalah Arkeologi. │ Ismail Lutfi. 1991. “Telaah Prasasti Palah dalam Hubungannya dengan Candi Panataran”, skripsi. Yogyakarta: Arkeologi UGM. │ M.D. Poesponegoro dan N. Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia II – Jaman Kuna. Jakarta: Balai Pustaka. │ M. Satok Yusuf. 2020. “Blitar Tanah Suci Tiga Kerajaan”, Buletin Desawarnnana BPCB Provinsi Jawa Timur. │ W.D.S. Ramelan, dkk. 2017. Candi Indonesia Seri Jawa. Jakarta: Kemdikbud.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MY
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini