Berguru Silek ke Ranah Minang, dari Ilmu Beladiri sampai Seni Pertunjukan Randai

Berguru Silek ke Ranah Minang, dari Ilmu Beladiri sampai Seni Pertunjukan Randai
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritaDaerahdariKawan

Silek merupakan tradisi seni beladiri yang menjadi warisan kebudayaan masyarakat Minangkabau. Berdasarkan legenda setempat, asal-usul silek pertama kali diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari Pariangan pada abad ke-11, yang kemudian dibawa dan dikembangkan oleh para perantau Minang ke seluruh Asia Tenggara.

Silek di zaman dahulu merupakan aktivitas seni beladiri yang wajib dilakukan oleh pemuda Minangkabau, sebelum ia merantau ke luar nagari. Hal ini terlihat dari petatah petitih orang Minangkabau, yakni karakau madang kahulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, dikampung paguno balun. Artinya, pemuda harus keluar dari daerah kampungnya dengan dibekali ilmu beladiri yang dikenal dengan silek.

Seiring berjalannya waktu, kegunaan silek kini tidak hanya terpaku sebagai aspek beladiri untuk bekal merantau. Dewasa ini, silek telah diekspresikan ke berbagai fungsi. Mulai dari olahraga, spiritual, rekreasi, hingga seni pertunjukan.

Menelisik Jejak Tapak Silek sebagai Ilmu Beladiri Tradisional Minangkabau

Dalam catatan sejarah, ilmu beladiri dahulunya digunakan oleh para prajurit untuk memperluas wilayah kekuasaan dan menjaga kerajaan dari serangan musuh. Untuk penerapan ilmu beladiri dalam ruang lingkup terkecil, ditujukan untuk menjaga dan melindungi diri dari bahaya.

Bagi pemuda Minangkabau, mendalami ilmu beladiri silek mutlak dikuasai sebelum ia merantau meninggalkan nagari. Hal ini dimaksudkan agar ia bisa membela diri dari serangan para penyamun dan hal tak terduga lainnya. Berguru silek telah dilakukan oleh pemuda Minangkabau sedari kecil. Dahulu, mereka diajarkan pada sebuah tempat yang bernama surau.

Sebagai lembaga pendidikan tradisional di sebuah nagari, sistem ajaran silek di surau biasa dilakukan pada malam hari saat semua murid telah usai belajar mengaji. Terkadang, uji coba kemampuan silek setiap murid juga kerap dilakukan oleh para guru saat mereka telah usai melakukan latihan silek, dengan catatan murid yang akan diujikan telah menguasai posisi kuda-kuda sebagai dasar dari setiap gerakan silek.

Berguru silek ke ranah Minang pada dasarnya bukan berkeinginan mencari musuh. Ini terlihat dari petatah petitih Minangkabau, yakni lawan tak dicari, jika ada pantang diilakkan. Jika pun ada serangan, pesilat mesti banyak mengalah, bersabar, dan tidak melayani serangan lawan ditahapan awal, ini bermaksud agar lawan diberikan kesempatan untuk mengurungkan niatnya melanjutkan serangan.

Namun, apabila kesabaran telah diuji dan niat baik tidak ditanggapi maka jangan salahkan pesilat Minang akan mengeluarkan jurus atau gerakan yang bisa melumpuhkan serangan lawan. Salah satunya seperti Silek tuo aluang buniandi Kenagarian Talang Babungo Kabupaten Solok, yang dalam aksinya akan menyerang setiap bagian vital dari tubuh lawannya seperti mata, ulu hati, leher, kunci-kunci tangan, perut dan sebagainya.

Kini, tak dimungkiri adanya perkembangan zaman memunculkan beragam pilihan ilmu beladiri di Indonesia. Silek sebagai salah satu identitas budaya bangsa sudah selayaknya perlu dilestarikan. Upaya-upaya yang sudah dilakukan pemerintah sejauh ini, salah satunya dengan mewujudkan program Silek Arts Festival (SIF).

Kegiatan tersebut merupakan salah satu bagian dari Festival Pendamping Platform Indonesiana yang berskala internasional. Artinya, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan peserta dari kabupaten dan kota di Sumatera Barat serta pendatang dari provinsi lain di Indonesia, tetapi juga para peserta dari luar negeri.

Rangkaian kegiatan SAF sendiri telah dilaksanakan selama 3 bulan berturut-turut, yakni pada September hingga November di beberapa kabupaten dan kota di Sumatra Barat pada 2018, dengan kumpulan kegiatan yang meliputi:

  1. Atraksi silek tradisional yang tergolong langka dan hampir punah yang masih ada di wilayah kebudayaan Minangkabau;
  2. Peragaan silek dari berbagai aliran terdapat di wilayah sebaran kebudayaan Minangkabau serta dan atraksi para pendekar yang belajar silek di berbagai daerah dan belahan dunia;
  3. Pertunjukan atau showcase dari beberapa grup tari, teater dan musik berbasis silek;
  4. Pameran foto, seni rupa, seni media dan seni sastra dengan inspirasi dari silek;
  5. Pemutaran film dokumenter dan film pendek tentang silek dan seni bela diri tradisional (martial arts);
  6. Seminar tentang silek dan filosofi Minangkabau.

Kontribusi Silek dalam Seni Pertunjukan Randai

Pola melingkar dalam gerakan randai | Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id
info gambar

Di Sumatra Barat, randai dikenal sebagai seni pertunjukan tradisional yang memadukan unsur musik, tari, gerak, dan cerita. Berdasarkan fungsinya, randai ditampilkan untuk memeriahkan acara pesta panen, pesta perkawinan, pesta perhelatan penghulu, dan kegiatan serupa lainnya.

Kontribusi silek sendiri dalam pertunjukan randai tercermin dalam unsur gerak yang nantinya akan diperagakan oleh para pemain atau biasa disebut dengan anak-anak randai. Tentunya, gerakan silek pada randai tidak sedalam gerakan silek pada umumnya. “Bunga-bunga” dalam gerakan sileklah yang akhirnya akan berkembang menjadi seni pertunjukan randai.

Pertunjukan randai di Minangkabau selalu dibuka dengan gerakan sambah silek, yang merupakan gerak awal sebagai bentuk penghormatan untuk Tuhan dan kepada penonton. Gerakan sambah silek yang ditampilkan anak-anak randai biasanya bergantung pada aliran silat yang dianut oleh kelompok randai tersebut.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hilltrud Cordes (1992), tercatat ada beberapa aliran silek yang mewarnai seni beladiri di Sumatera Barat, seperti silek tuo, silek harimau, silek Lintau, silek Siteralak, silek Pauah, silek sungai Patai, Silek Kumango dan lainnya. Gerak sambah silek pada masing-masing kelompok randai tidaklah sama, selalu memiliki ragam gaya dan alirannya sendiri.

Dalam polanya anak randai juga akan melakukan gerakan secara melingkar, yang terkadang membentuk pola rantai pertanda kekompakan. Selain itu, busana yang digunakan anak randai juga tak kalah menariknya.

Ia tidak hanya sebatas balutan kain tetapi dapat menghasilkan bunyi yang dapat memeriahkan acara. Busana yang dimaksud adalah celana latihan silat anak-anak randai yang disebut galembong, dimana celana tersebut akan menghasilkan bunyi ketika ditepuk secara serentak yang terdengar seperti deburan ombak di tepi pantai.

Dari paparan di atas, Kawan GNFI bisa melihat bahwa sejatinya silek mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ia mampu masuk ke ranah seni untuk berkontribusi dalam pertunjukan randai. Bahkan, tetap pada jati dirinya sebagai salah satu ilmu beladiri yang mampu mengajarkan jurus mematikan untuk melumpuhkan serangan musuh yang mencoba mencelakainya.*

Referensi: Sumbarsatu.com | Kebudayaan.kemendikbud.go.id | Majalah Indonesiana Vol 3 2018 | Dinil Azri dan Eka Vidya Putra dalam Jurnal Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan Vol. 2 No. 3 Tahun 2019

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YG
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini