Menangkal Isu Radikalisme Lewat Seni Tradisional, Bisakah?

Menangkal Isu Radikalisme Lewat Seni Tradisional, Bisakah?
info gambar utama

Ada sesuatu yang lepas dari tangan. Menyebabkan kita menjalani kehidupan dengan cara mengerjakan perbuatan yang dapat merugikan orang lain. Mata digunakan untuk melihat yang buruk, telinga digunakan untuk mendengarkan yang tidak perlu sehingga alfa terhadap dimensi nilai etik yang berpangkal pada akal budi sebagaimana diwariskan para leluhur.

Lewat seni tradisional, banyak ditemukan bait-bait pesan moral berisi aneka ragam isyarat, bagaimana menjalani kehidupan dalam segala masa, kita mencoba menemukan kembali “sesuatu yang lepas dari tangan” itu. Lantas, kita mahluk ciptaan Tuhan sebagai “sesempurna makhluk” dan mencoba menafsirkannya dalam dimensi kekinian.

Manusia yang memiliki nalar untuk menjawab segala pertanyaan secara rasional dan cerdas, memiliki rasa untuk mampu menyerap segenap fenomena kehidupan dari sudut pandang positif dan indah. Memiliki perasaan dalam mengantisipasi segenap fenomena yang bergerak di sekeliling, dan akhirnya mampu melakukan aksi paradigmatik secara “best to best paradigm”, bukan “bad to badparadigm”.

Boleh jadi, seni tradisional hanya sebuah kesenian lokal belaka. Rangkaian lirik dalam pupuh Sunda di Jawa Barat misalnya, dapat dijadikan titian pemahaman (meskipun hanya sedikit saja dari begitu banyak rangkaian nilai) sebagai pegangan dalam berfikir, bersikap, dan bertindak. Apapun posisi kita dan bagaimanapun fungsi kita dalam kehidupan pribadi dan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Terkhusus dalam merajut kembali nilai-nilai persatuan di tengah menguatnya intoleransi dan radikalisme di Indonesia, menyiratkan raibnya pancasila di dalam kehidupan bangsa. Semboyan Bhineka Tunggal Ika dan sila persatuan Indonesia hanya menjadi nilai yang tak terpatri dalam laku kehidupan.

Dewasa ini dapat kita rasakan pula jika Pancasila telah mengalami entropi kebudayaan. Sebagai upaya dalam merajut kembali rasa persatuan kebangsaan dalam menangkal paham radikalisme yang semakin mengakar di bumi pertiwi, dapat dilakukan melalui jalan budaya dan kearifan lokal sebagai identitas dan jati diri bangsa. Misalnya melalui nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam seni tradisional dapat menjadi media dalam memperkukuh persatuan bangsa.

Salah satu Peserta Rampak Sekar sedang membawakan Lagu Sunda Dalam Kejuaraan Pasanggiri Rampak Sekar Tingkat SMA/SMK Se-Jawa Barat, di Taman Budaya Bandung, Jawa Barat, 2019
info gambar

Seni sebagai media edukasi sangat mungkin dapat diterima dengan mudah oleh semua kalangan dan golongan karena sifatnya yang menghibur. Hal ini sebagaimana terdapat dalam lagu di daerah Sunda, lirik-lirik lagu Kawih Sunda atau juga Pupuh, banyak sekali memuat nilai-nilai persatuan dan nasionalisme, seperti lagu Karatagan Pahlawan, Sabilulungan, Tentara Siliwangi, Karatagan Pemuda Indonesia, Toleransi, Reumis Beureum Dina Eurih dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kita bisa menggunakan contoh Pupuh Dangdanggula, surupan pèlog, untuk membangun semangat persatuan. Jika ditinjau dari segi teks dan konteksnya, liriknya memberi kita informasi tentang bangsa Indonesia yang begitu beragam, tetapi bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Lirik ini juga mengemukakan bahwa hidup dengan sesama adalah untuk saling hidup akur dan rukun, bukan untuk berselisih.

Teks hipogram dalam pupuh Dangdanggula yang menyatakan jika semboyan Bhineka Tunggal Ika harus menjadi nilai yang terpatri dalam laku kehidupan, agar dapat hidup damai dalam sebuah rajutan harmoni yang indah. Adapun lirik dari Pupuh Dangdanggula adalah sebagai berikut.

Pupuh Dangdagula

Lambang RI
jero ngandung harti
lamun bener di amalkeun nana
persatuan tangtu tembong
teu cukup ku di sebut
atawa na apalna biwir
bhineka tunggal ika
maksudna gumulung
kabeh sèlèr-sèlèr bangsa beda-beda
tatapi asal sagetih
beda tapi sa asal


Tandak panambih

Hiji basa
hiji bangsa
basa bangsa indonesia
hiji bangsa
hiji nusa
nusa tunggal nusantara
seler-seler suku bangsa
ti wewengkon mana mana
saka suka saka duka
wujud bangsa Indonesia

(Terjemahaan Bahasa Indonesia)

Lambang RI (Republik Indonesia)

Mengandung makna yang sangat dalam

Jika benar dalam mengimplementasikannya

Persatuan pasti tampak

Tak cukup hanya dilisan

Atau hafal dibibir saja

bhineka tunggal ika

maksudnya adalah bersatu (harmoni)

semua generasi penerus bangsa berbeda-beda

tetapi tetap satu tumpah darah

berbeda tetapi satu asal

satu bahasa

satu bangsa

bahasa bangsa indonesia

satu bangsa

satu nusa

nusa tunggal nusantara

para generasi suku bangsa

di berbagai tempat dimana mana

baik senang maupun susah

wujud bangsa Indonesia

Lirik di atas merupakan sebagian kecil contoh dari Pupuh dalam rumpun Kawih Sunda yang notabene selalu memiliki intisari kebajikan, nasihat, doa, dan mengajak manusia untuk mencapai kemuliaan dan kerukunan.

Dengan begitu, sudah dapat dipastikan bahwa Pupuh sebagai salah satu bagian dari kearifan lokal seni Sunda dapat dijadikan sebagai salah satu upaya untuk mengembangkan wacana kebangsaan dalam konteks deradikalisasi agama, ras, dan suku/etnis di Indonesia.

Upaya ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan perlu terus dikembangkan, karena hal ini menjadi penting bagi keberlangsungan berbangsa. Sebagaimana kita ketahui, Pancasila merupakan dasar negara yang juga menjadi pandangan hidup masyarakat Indonesia.

Pandangan hidup ini menjunjung tinggi persatuan di tengah keragaman dan bermuara pada terwujudnya keadian sosial. Semboyan persatuan kita, Bhineka Tunggal Ika menjadi semboyan yang tepat di tengah bangsa majemuk yang terus diuji.

Jika dihubungkan dengan proses pembentukan budi pekerti untuk saling menghormati, peranan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam seni tradisional seperti pupuh Sunda dan musik (berkualitas baik) adalah membantu penghalusan rasa, di mana ia berperan sebagai pembangunan karakter bangsa.

Namun, walaupun musik dan nilai-nilai pada seni tradisional mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan budi pekerti. Hal ini tidak berarti bahwa hanya dengan seni tradisional saja maka persoalan intoleransi, radikalisme, dan perselisihan akan terselesaikan. Seni tradisional menjadi langkah awal dalam meneguhkan nilai persatuan. Setelah itu baru strategi pendidikan budi pekerti dapat diterapkan melalui dialog, keteladanan, pembiasaan, dan pengajaran.

Dengan demikian, upaya menangkal deradikalisasi ras, suku, dan agama, penguatan nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika melalui wawasan kebangsaan dan nasionalisme menjadi sangat penting. Hal ini bukan sebatas taktik strategis, melainkan upaya menghadirkan substansi “kenyataan” yang selama ini belum terpahami. Substansi itu adalah nilai-nilai etis ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan, dan keadilan yang dimuliakan oleh Pancasila dalam meneguhkan nilai keindonesiaan.*

Referensi: Arif Budiman. 2017. Panembang Unggul dalam Tembang Sunda Cianjran. Tesis untuk Program Magister di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung | Setiap Hidayat, dan N. Syamsuddin Ch. Haesy. 2004. Sangkakala Padjajaran (Upaya Awal Mengeja dan Menyingkap Makna Rumpaka. Jakarta Selatan: Padepokan Seni Budaya Sangkakala Padjajaran, Pusat Studi Kebangsaan Nusa Sentra. Penerbit: Bina Rena Pariwara | Yeni Rachmawati. 2005. Musik Sebagai pembentuk Budi Pekerti. Yogyakarta: Jalasutra.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini