Merlep Ginting, Orang Karo yang Tak Bisa Baca-Tulis Penantang Jago Catur Belanda

Merlep Ginting, Orang Karo yang Tak Bisa Baca-Tulis Penantang Jago Catur Belanda
info gambar utama

Pada awal Maret 2021, sebuah pertandingan catur online lewat gim Chess.com membuat geger jagad maya. Seorang pemain catur asal Indonesia, Dadang Subur alias Dewa_Kipas, mengalahkan streamer Twitch dan YouTuber, Levy Rozman.

Levy yang memiliki nama akun "GothamChess" memang sudah punya nama di dunia internasional. Ia dikenal jago dalam urusan percaturan karena ia bergelar International Master (IM) dengan ELO (rating pemain dalam dunia percaturan) sebanyak 2.400.

Namun, Dadang yang tidak setenar namanya rupanya juga tidak pantas dipandang sebelah mata. Pemilik nama alias "Dewa_Kipas" pernah meraih juara 1 ketika bertanding di Singkawang, Kalimantan Barat.

Keduanya bertemu di online dan Dewa_Kipas maju sebagai pemenang. Sayangnya Dadang dianggap curang oleh pengguna Chess.com yang lain sehingga akunnya diserbu dengan ujaran kebencian bahkan berujung pemblokiran.

Dadang Subur, mantan atlet catur nasional.
info gambar

Padahal, seperti yang disebutkan sebelumnya, Dadang memang sudah jago sedari awal. Kekurangannya hanya satu, ia gagap teknologi layaknya orang tua pada umumnya, jadi memikirkan ia menggunakan cheat rasanya tidak mungkin dilakukan.

''Bapak tidak begitu mengerti tentang teknologi, saya yang menuntunnya untuk membuat akun, foto profil, mencari pertandingan, dan lain sebagainya,'' jelas Ali, anak Dadang, dikutip GNFI dari Kompas.

Serupa, tapi tak sama. Pada tahun 50-an juga ada orang Indonesia yang menantang orang asing lewat permainan catur. Ia juga punya kekurangan yang digembar-gemborkan oleh media pada masanya. Eits, tapi kekurangannya bukan gaptek seperti Dadang, melainkan tidak bisa membaca dan menulis. Namanya ialah Merlep Ginting.

Bakat Alam Pecatur Karo

Merlep Ginting adalah orang asli dari tanah Karo, sebuah daerah yang terletak di Sumatra Utara. Pada pertengahan 50-an, nama Merlep seringkali disebut di rubrik olahraga media berbahasa Belanda yang berbasis di Sumatra, Het Nieuwsblad voor Sumatra.

"Para pemain lain tidak bisa mengikuti langkah Merlep," lapor Het Nieuwsblad voor Sumatra terbitan 30 Maret 1955 dalam artikel 'Kampioenschap Schaken van Noord-Sumatra (Kejuaraan Catur di Sumatra Utara)'.

Catur menjadi bagian hidup masyarakat Karo sejak dulu. Tridah Bangun dalam Manusia Batak Karo menyebutkan, laki-laki Karo sangat gandrung dengan permainan catur. Tidak hanya orang dewasa, karena ada masanya di mana anak-anak ketagihan bermain catur di mana saja bahkan hingga di warung-warung.

Meriep neemt de leiding in schaaktournooi Meriep memimpin turnamen catur
info gambar

Merlep sendiri jago bermain catur, tetapi tidak bisa disamakan dengan jago-jago catur lainnya. Ia spesial, karena tidak dijejali teori atau mengikuti kursus-kursus tertentu. Bakatnya sepenuhnya dari alam lewat pengalamannya bermain di kampung-kampung Karo. GNFI kutip dari laman Karosiadi, Merlep tidak mendapuk dirinya jagoan catur agar lawan tidak takut ketika melawannya.

Merlep punya ciri khas sederhana, ia memakai pakaian adat bulang-bulang khas Karo. Ketika bermain ia kerap mengunyah sirih yang seolah menjadi energi pemberi konsentrasinya dalam memilih bidak yang harus dipindahkan.

Tantang Jawara Catur Belanda

Merlep tidak selamanya menjajal kemampuan pecatur Indonesia lain. Dalam sebuah kesempatan ia diminta melawan pecatur asing dari negeri Belanda.

Pada 1956, Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) mengundang Lodewijk Prins seorang salah satu pecatur terbaik Belanda. Bersama dengan Max Euwe, nama Prins besar di dunia catur. Dalam seperempat abad (1939-1965) ia menyandang gelar master catur karena menjuarai sejumlah turnamen di negaranya.

Prins datang ke Indonesia didukung organisasi nirlaba Stichting Culturele Samenwerking (Yayasan Kerjasama Kebudayaan) yang menjadi penyandang biaya. Selama di Indonesia ia menghabiskan waktu dua setengah bulan mengelilingi Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Adapun Prins mengadakan pertandingan di sejumlah kota besar, yakni Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Medan dan Pematang Siantar.

Merlep Ginting saat berhadapan dengan Lodewijk Prins.
info gambar

Tak hanya Merlep, Prins juga menjajal kemampuan Baris Hutagalung dan Arovah Bachtiar, pecatur Indonesia terbaik pada masanya. Namun, di antara ketiganya cuma Merlep yang mampu mengimbangi Prins dengan angka 1-1. Pertandingan catur antara Merlep dan Prins digelar di Gedung Bappenas (Gedung Loji), Menteng, Jakarta, pada 24 Februari 1956.

''(Merlep) tidak diberi teori apa pun. Selain itu, ia tidak bisa membaca atau menulis. Namun, ia berhasil memenangkan salah satu dari dua permainan,'' tulis sejumlah koran Belanda salah satunya IJmuisde Courant pada 17 Maret 1956.

Menurut kabar, Prins terkejut dengan permainan Merlep. Saat itu ia mengaku akan mengabadikan pengalaman bermain dengan Merlep dan pecatur Indonesia yang lain ke dalam sebuah buku sekembalinya ke Belanda.

---

Referensi: Karo.or.id | Karosiadi.com | Indonesiabase.com | Kompas.com | Star Weekly | De Nieuwsgier | Algemeen Indisch Dagblad: de Preangerbode | IJmuisde Courant

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini