Bebegig Sukamantri, Kesenian dari Priangan Timur

Bebegig Sukamantri, Kesenian dari Priangan Timur
info gambar utama

Bebegig sukamantri merupakan sebuah tradisi kesenian yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat, lebih tepatnya di Sukamantri. Bebegig ini berwujud topeng yang besar menyeramkan. Biasanya berwarna merah, hijau, atau hitam dengan sepasang mata yang melotot, serta mempunyai dua taring gigi.

Topeng Bebegig ini terbuat dari kayu yang dipahat, kemudian disusun pada rangka kayu dan bambu. Nantinya, bebegig diberi ornamen-ornamen lain, seperti bunga hapaan, bubuay, pipicisan, daun waregu, dan caringin sebagai mahkota di atasnya. Untuk para orang yang menjadi bebegig, harus selalu memakai pakaian dari ijuk dan membawa kolotok atau genta.

Konon pada zaman dulu, bebegig ini digunakan untuk mengusir orang-orang yang berniat jahat terhadap sebuah desa di dekat hutan larangan. Hutan itu adalah Tawang Gantungan, sebelah Selatan Desa Sukamantri, Ciamis. Namun, seiring berkembangnya zaman, bebegig sekarang biasa dihadirkan pada saat momen-momen tertentu.

Biasanya, pada pentas kesenian diadakan setiap Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus, pada Hari Ulang Tahun Kecamatan Sukamantri, yaitu 23 Januari dan Hari jadi Ciamis pada 12 Juni. Setiap kali 3 hari besar itu tiba, orang-orang di Sukamantri selalu antusias menyambutnya. Entah itu hanya untuk sekadar menonton perhelatan acara atau turut serta menjadi bagian dengan menjadi bebegig.

Ada sebuah tradisi, yakni pada setiap akan tampil di perhelatan acara tertentu, bebegig tidak bisa langsung tampil begitu saja. Namun, ada sebuah ritual dengan setiap bebegig harus disimpan di makam leluhur. Kemudian, dilakukanlah doa bersama. Ini bermaksud supaya acara berjalan dengan lancar.

Makna Tradisi Bebegig

Tradisi Bebegig | Foto: Pokelagu
info gambar

Dilansir dari laman Budaya Kemendikbud, tradisi Bebegig di kawasan Sukamantri ini diadakan untuk mempererat tali persaudaraan dan kesatuan dalam menjaga, serta melestarikan budaya dan alam. Selain itu, bebegig juga merupakan simbol untuk pengembangan daerah dan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap daerahnya. Dengan maksud, bisa terjaga dan lestari dan terhindar dari segala kerusakan.

Konon, Bebegig ini berawal pada masa Kerajaan Sunda yang hendak menikahkan Putri Dyah Pitaloka dengan Raja Hayam Wuruk saat di Lapangan Bubat. Namun, saat menunggu kedatangan rombongan Kerajaan Majapahit, rombongan Kerajaan Sunda diserang oleh prajurit bertopeng yang keluar dari hutan sehingga terjadilah perang Bubat.

Kesenian Bebegig ini hanya ada di Kecamatan Sukamantri saja. Setidaknya ada lima padepokan Bebegig di Sukamantri, yakni Prabusampulur, Baladewa, Bragajati, Batara dan Margadati.

Bahkan, pada tahun 2016 Kecamatan Sukamantri ini berhasil menorehkan sejarah baru dengan menggelar penampilan terbanyak kolotok, atau genta yang berkolaborasi dengan tarian tradisional dan tentunya Bebegig Sukamantri. Penampilan 604 kolotok ini dengan 320 bebegig berikut penarinya, dicatat sebagai rekor dengan jumlah terbanyak versi original Rekor Indonesia (ORI). Yang membuat lebih membanggakannya lagi adalah ekor ini dilakukan pada saat ulang tahun Kecamatan Sukamantri ke-12.

Selain memecahkan rekor tadi, Bebegig Sukamantri pernah tampil pada Acara Asia Africa Festival 2019 di Bandung. Asia Africa Festival 2019 digelar oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai bentuk peringatan dari Konferensi Asia-Africa ke-64 dengan mengusung tema “Culture for The World”.*

Referensi: Kemdikbud

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FE
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini