Tapir Asia, Hewan Pemalu Asal Sumatra yang Terancam Punah

Tapir Asia, Hewan Pemalu Asal Sumatra yang Terancam Punah
info gambar utama

Warga perumahan Cendrawasih di Jalan Surya Garuda Sakti Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, dihebohkan dengan kemunculan seekor tapir liar di kolam ikan.

"Saya dengar suara keras sekali. Byuuur, seperti suara orang tercebur kolam, saya sangka ada anak yang jatuh ke kolam saya," kata Julaiha, pemilik kolam tempat tapir tersesat, seperti dikutip Antara, Rabu (21/4).

Ia mengatakan belum pernah melihat tapir seperti itu di sekitar rumahnya. Lokasi kolam ikan miliknya berbatasan dengan lahan sawit, tapi jauh dari hutan.

Julaiha kemudian menghubungi ketua RW setempat yang meneruskan ke aparat lainnya. Saat ini petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau sudah berada di lokasi tersebut.

Selang beberapa jam, tapir liar itu berhasil dievakuasi oleh petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Kepala BBKSDA Riau Suharyono mengatakan, saat dievakuasi, kondisi tapir dalam keadaan stres dan terluka di bagian kaki.

Satwa yang dilindungi tersebut enam jam terjebak di kolam ikan milik warga. Ia mengatakan belum bisa memastikan jenis kelamin tapir dewasa tersebut.

"Tim belum sempat memastikan jeni kelaminnya karena tapir masih stres. Tapi perkiraan saya ini kelaminnya betina," ujarnya.

Suharyono mengatakan untuk sementara tapir tersebut dititipkan ke Kasang Kulim untuk diobservasi dan pengobatan luka. Dirinya juga mengungkapkan belum bisa memastikan dari mana asal tapir liar itu.

"Kawasan hutan yang terdekat itu Tahura Sultan Syarif Hasim," katanya.

Hewan asal Sumatra yang hampir punah

Mempunyai nama latin Tapirus indicus, Tapir menjadi salah satu satwa langka dan dilindungi di Indonesia khususnya Pulau Sumatra. Secara alamiah, hewan ini sebenarnya tersebar di hampir seluruh Pulau Sumatra.

Meski demikian, mengingat banyaknya tutupan hutan alam yang telah mengalami kerusakan atau hilang. Hewan ini hanya ditemukan di kawasan-kawasan tertentu.

Menurut penelitian FMIPA Universitas Riau bersama WWF, spesies tapir yang terdapat di Sumatera adalah Tapir Asia (Tapirus Indicus, Desmarest 1819). Tapir ini berperan sebagai penebar biji dan penting untuk menjaga ekosistem hutan.

Tapir sebagian besar hidup di wilayah Amerika Selatan, dari Meksiko selatan hingga Brazil, Venezuela, sampai Paraguay. Tapir juga merupakan hewan khas lingkungan tropis di Asia, yakni di Burma, Thailand, Malaysia dan Sumatra, Indonesia.

Masa subur tapir dalam berkembang biak, masa kehamilannya relatif lama yakni 13 bulan. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) tapir hanya melahirkan satu bayi pada satu waktu.

IUCN sejak tahun 2008 menyatakan bahwa spesies satwa ini terancam punah sehingga diperlukan berbagai upaya konservasi untuk mempertahankan keberadaannya, terutama dalam hutan-hutan alam yang menjadi habitat aslinya.

Menurut daftar IUCN, ada empat spesies Tapir yang masuk daftar merah spesies yang terancam punah. Tapir gunung dan Tapir Baird terdaftar sebagai hewan yang terancam punah.

Hal ini karena populasinya mungkin telah menurun lebih dari 50 persen dalam tiga generasi terakhir. Selain itu, diperkirakan juga bahwa mereka akan mengalami penurunan masa depan lebih dari 50 persen dalam tiga generasi mendatang.

Tapir Asia, termasuk spesies tapir dari Indonesia, juga tergolong terancam punah karena perkiraan penurunan populasinya lebih dari 50 persen dalam tiga generasi berikutnya. Hampir punahnya mereka karena hilangnya habitat.

Hilangnya habitat, juga membuat tapir Brasil terdaftar sebagai spesies yang rentan karena penurunan populasi yang diperkirakan sedikit lebih besar dari 30 persen dalam tiga generasi terakhir.

IUCN juga memperkirakan bahwa laju penurunan saat ini dapat berlanjut hingga tiga generasi berikutnya, yakni 33 tahun.

Hewan pemalu paling primitif

Tapir merupakan hewan yang hidup sendiri (soliter), tapi sudah ada sekitar 20 juta tahun yang lalu dan tidak mengalami perubahan tubuh yang berarti. Ini membuat Tapir termasuk kategori mamalia paling primitif di dunia.

Rekaman fosil tapir pertama ditemukan dari periode Oligosen Awal (65,5 juta hingga 23 juta tahun yang lalu). Fosil nenek moyang tapir telah ditemukan di setiap benua kecuali Antartika.

Tinggi Tapir Asia mencapai 90 hingga 107 cm dengan bobot rata-rata 250 hingga 320 kg. Diperkirakan bobot terberat tapir asia adalah 500 kg.

Rata-rata, Tapir Asia dapat hidup sampai usai 30 tahun. Adapun yang membedakaan tapir Asia dengan Tapir lainnya yakni ukuran yang lebih besar dan pertumbuhan yang lebih cepat.

Secara morfologi tapir asia memiliki tubuh yang gempal besar dengan hidung menonjol menyerupai belalai atau moncong trenggiling. Struktur tubuhnya, tapir memiliki mata dan telinga yang kecil, serta hanya terdiri dari empat jari pada setiap kaki depan, dan tiga jari pada setiap kaki belakang.

Ciri khas yang menonjol dari hewan ini adalah moncongnya. Tapir menggunakan moncongnya yang fleksibel itu untuk mengambil makanan, memetik daun dan buah dari pohon seperti belalai pada gajah.

Setelah bisa mendapatkan makannya, moncong akan membawa makanan itu ke mulut mereka. Hewan ini pemakan tumbuhan tapi tidak tergolong ke dalam hewan ruminansia, pakannya terdiri dari rumput, daun tumbuhan, air dan ranting

Moncong juga berfungsi sebagai pelindung saat Tapir terancam. Dia akan menenggelamkan diri di sungai dan menggunakan moncongnya seperti snorkel.

Cara komunikasi satwa ini pun terbilang unik. Tapir-tapir asia berkomunikasi satu sama lain dengan cicitan dan siulan bernada tinggi.

Mereka juga tergolong satwa yang Pemalu, jika ada Hewan ataupun manusia maka mereka akan bersembunyi disemak-semak. Meski pemalu, mereka memiliki kemampuan berlari, mendaki dan berenang yang baik. Untuk menandai teritorinya, satwa ini akan menggunakan urin.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini