Babi Rusa, Hewan Endemik Sulawesi yang Kian Sulit Dijumpai

Babi Rusa, Hewan Endemik Sulawesi yang Kian Sulit Dijumpai
info gambar utama

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki koleksi flora dan fauna, salah satunya adalah babi rusa atau babirusa. Spesies hewan langka satu ini hanya hidup di pulau Sulawesi.

Babi Rusa memiliki nama latin Babyrousa babyrussa Linnaeus, hewan ini merupakan jenis babi liar yang hidup di hutan tropis. Mereka dapat ditemukan di sekitar pulau Sulawesi, seperti Togean, Sulu, dan Buru.

Menempati hutan hujan dataran rendah, di mana terdapat aliran sungai, sumber air, rawa, dan kubangan air. Makanan utama mereka adalah buah dan umbi-umbian seperti kilo, tunas globa dan rebung, juga ulat atau cacing dalam lubang-lubang pohon yang telah membusuk.

Orang awam terkadang salah paham mengganggap babirusa sebagai hasil perkawinan antara babi dengan rusa. Padahal ketiga spesies ini memiliki karakteristik yang berbeda.

“Disebut babi karena secara taksonomi memang termasuk famili Suidae, semua babi masuk di sini. Sedangkan disebut rusa karena pengaruh taring atas [tusk] yang menyerupai tanduk rusa,” kata Abdul Haris Mustari, dosen di Departeman Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dikutip dari Mongabay, Rabu (28/4/2021).

Saat ini terdapat tiga spesies babi rusa yang masih hidup dan satu spesies yang hanya ditemukan dalam bentuk fosil. Tiga spesies itu adalah Babi rusa Sulawesi (Babyrousa celebensis), babi rusa berbulu lebat atau hairy babirusa (Babyrousa babyrussa) yang terdapat di Kepulauan Sula dan Pulau Buru, serta Babi rusa togean atau Togean Babirusa (Babyrousa togeanensis)

Sementara yang sudah punah adalah Babi rusa Bolabatu (Babyrousa bolabatuensis) yang ditemukan dalam bentuk fosil di semenanjung selatan Sulawesi. Namun, menurut Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) mengakui keberadaan satwa endemik ini di dalam kawasan konservasi itu semakin berkurang.

Dongeng dan sejarah Babi Rusa

Babi rusa dipopulerkan pertama kali di dunia Barat oleh Gulielmi Pisonis dalam bukunya, Indie Utriusque re Natural et Medica, yang diterbitkan di Amsterdam tahun 1658.

Dalam sampul buku berbahasa Latin dan berisi ramuan obat-obatan itu dilukis dua lelaki bersama dengan beberapa hewan aneh. Salah satunya adalah hewan seukuran anjing dengan empat taring yang mengerikan.

Sepasang taring tajam muncul dari moncong dan sepasang lainnya keluar dari hidung lalu melengkung hingga mendekati mata. Ekornya kecil dan melingkar, cuping telinganya kecil dan tegak ke atas, serta tapak kaki seperti rusa.

Konon, Pisonis menggambar sosok binatang aneh itu berdasarkan tengkorak babirusa sulawesi. Namun, bentuk tubuh dan kepala binatang ini aneh, menyebabkan banyak orang mengira binatang ini hanya ada di dunia dongeng.

Dua ratus tahun kemudian, naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, untuk pertama kalinya bersua dengan babirusa di hutan Sulawesi. Pada 1858, Wallace mengunjungi Sulawesi dalam perjalanannya menjelajah Nusantara.

Dia dibingungkan dengan keberadaan babirusa, yang menurut dia tidak ada padanannya dengan hewan lain di dunia.

Mengutip buku Jatna Supriatna, Melestarikan Alam Indonesia, sejarah kemunculan Babi Rusa terkait dengan masa Pleistosen, yaitu masa antara 100.000 sampai dengan 1,5 juta tahun yang lalu. Pada saat itu daratan benua tertutup oleh lapisan es.

Air membeku, sehingga suhu permukaan laut daerah tropis lebih dingin daripada suhu permukaan laut tropis saat ini. Pada akhir masa pleistosen atau sekitar 18.000 tahun yang lalu, permukaan air laut tropis turun hingga 120 meter.

Pada masa Peistosen inilah beberapa ahli memperkirakan ada hubungan antara “land bridge” antara beberapa pulau di Indonesia yang memungkinkan berlangsungnya percampuran antara fauna khas Asia (oriental) dengan fauna khas Australia di Pulau-pulau tersebut.

Diduga bahwa pada masa tersebut suatu jenis babi yang khas Asia telah mencapai Sulawesi dengan cara melintasi Kalimantan dan akhirnya berevolusi menjadi babirusa sebagaimana kita kenal sekarang.

Hutan Nantu Gorontalo, menjadi habitat bagi Babi Rusa untuk mempertahankan diri. Nantu disebut benteng terakhir di bumi bagi babirusa (yang total populasi liar sekitar 5000 ekor) dan satwa liar Sulawesi lainnya yang terancam punah.

Terancam punah

Habitat babirusa adalah hutan hujan dataran rendah. Satwa ini menyukai kawasan hutan yang terdapat aliran sungai, rawa, dan cerukan-cerukan air yang memungkinkannya mendapatkan air minum dan berkubang.

Babirusa juga mengunjungi mata air dan tempat mengasin atau sesapan [salt-lick] secara teratur, untuk mendapatkan garam-garam mineral yang membantu pencernaannya

“Babirusa sering terlihat mandi di kubangan yang airnya agak bersih dan tidak becek. Pada musim panas sering terlihat berendam di sungai. Babirusa sering mengunjungi sumber air panas yang kaya mineral seperti yang terdapat di Suaka Margasatwa Nantu di Gorontalo," ungkap Abdul Haris Mustari Mengutip Mongabay.

Hewan endemis Sulawesi ini memiliki ukuran tubuh panjang 85-105 cm, tinggi 65-80 cm, dan berat tubuh 90-100 kg. Binatang langka ini juga mempunyai ekor yang panjangnya sekitar 20 cm.

Babirusa betina hanya melahirkan sekali dalam setahun dengan jumlah bayi satu sampai dua ekor sekali melahirkan. Masa kehamilannya 125 hari hingga 150 hari.

Setelah melahirkan, bayi babirusa akan disusui induknya selama satu bulan. Setelah itu, bayi babirusa mencari makanan sendiri di hutan bebas. Hewan endemis ini dapat bertahan hingga berumur 24 tahun.

Babi rusa menganut sistem matriarkal. Artinya, kelompok mereka dipimpin oleh betina, sedangkan jantan dewasa hidup soliter dan bergabung dengan betina dewasa pada musim kawin. Mereka bakal membentuk koloni untuk bertahan hidup dari predator.

Menurut data BB TNLL, babirusa mengalami penurunan populasi. Pada data awal tahun 2013 jumlah populasi babirusa sebesar 74 sedangkan data 2018 mengatakan bahwa hanya terdapat 41 ekor.

Data ini menunjukan penurunan jumlah populasi sekitar 44 persen dalam kurun waktu 5 tahun. IUCN Red List, satwa endemis ini didaftarkan dalam kategori konservasi vulnerable (rentan) sejak 1986. Dan, oleh CITES binatang ini didaftar dalam Apendiks I yang berarti tidak boleh diburu dan diperdagangkan.

Berkurangnya populasi babirusa diakibatkan oleh perburuan untuk mengambil dagingnya yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Selain itu, rusaknya habitat utama hewan endemis ini dan jarangnya frekuensi kelahiran juga membuat satwa endemis ini semakin langka.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini