5 Tokoh Bangsa dengan Sepak Bola, dari Hobi Masa Kecil hingga Alat Perjuangan

5 Tokoh Bangsa dengan Sepak Bola, dari Hobi Masa Kecil hingga Alat Perjuangan
info gambar utama

Sepak bola menjadi olahraga yang sangat digemari di Indonesia. Di tengah minimnya prestasi Tim Nasional (Timnas), rumitnya jadwal kompetisi hingga bentrokan antar suporter, pertandingan sepak bola masih tetap ditunggu.

Bedasarkan Survei dari Skala Survei Indonesia (SSI), membuktikan bahwa 90.8 persen publik Indonesia tahu olah raga sepak bola, dan 47,6 persen menyukainya. Selain sepak bola, bulu tangkis juga menjadi olahraga yang cukup populer di Indonesia dengan menempati urutan ke-2 dengan catatan 18,8 persen, disusul kemudian bola voli 12,4 persen.

Bagi bangsa Indonesia, sepak bola memang tidak hanya dimaknai sebagai pertandingan olahraga. Tapi juga sebagai identitas diri, bukti kecintaan hingga alat perjuangan.

Seperti kita ketahui, terbentuknya Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) pada 1930 dianggap sebagai bagian dari keresahan yang memuncak dan menghantui klub-klub pribumi (termasuk Tionghoa) atas perlakuan diskriminatif Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB), perkumpulan sepak bola Hindia Belanda.

Baca jugaSejarah Hari Ini (19 April 1930) - PSSI Berdiri di Yogyakarta

Sebelumnya, NIVB tak menganggap sama sekali keberadaan bond (klub) pribumi, baik sebagai anggota atau pun penonton. Perhatian NIVB hanya diberikan kepada bond-bond Belanda dan anggota pemain kulit putih.

Kondisi ini membuat para tokoh nasional seperti Bung Karno dan Bung Hatta sangat mencintai sepak bola dan menjadikannya alat untuk melawan kolonialisme. Para Bapak Proklamator Indonesia ini berdiri di barisan terdepan untuk mempersatukan rakyat lewat olahraga sepak bola.

Tapi ternyata bagi beberapa tokoh Nasional, sepak bola tidak hanya menjadi alat perjuangan, tapi juga hobi mereka sehari-hari selain berpolitik.

Penasaran siapa saja tokoh nasional yang menyukai permainan sepak bola? Berikut beberapa namanya yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Ir Soekarno

Masa kecil Soekarno di Mojokerto tak banyak bersentuhan dengan sepak bola. Ia lebih banyak bermain jangkrik, sumpit, memanjat pohong, dan adu gasing. Saat itu, sepak bola mulai populer di Hindia-Belanda, termasuk di kalangan Bumiputera. Sayang, Soekarno tak gandrung dengan permainan yang konon berasal dari negeri Tiongkok itu.

“Ada permainan di mana seorang anak bangsa Indonesia dari jamanku tidak dapat menunjukkan keahliannya. Misalnya perkumpulan sepak bola,” kenang pria yang akrab dipanggil Bung Karno dalam otobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, ''Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat''.

Soekarno kecil pernah ikut klub sepak bola, tetapi tak lama. Ia tak betah dirundung oleh anak-anak keturunan Belanda. Selain itu, sepak bola kala itu tersusup praktik diskriminasi: anak-anak Belanda tidak mau bermain dengan anak-anak bumiputera.

Keterlibatan Bung Karno pada sepak bola kembali muncul pada tahun 1932, ketika Dirinya baru keluar dari penjara Banceuy, Ia mendapat ajakan untuk meramaikan sebuah turnamen sepak bola yang dihelat oleh PSSI.

Saat itu PSSI sedang menggelar kompetisi yang disebut Stedenwerd II di Jakarta. Sebelum laga antara Voetbal Indonesia Jakarta (VIJ) versus Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram (PSIM), Soekarno didaulat menyampaikan orasi politik sekaligus sepakan pertama.

Pasca kemerdekaan, salah satu peran Soekarno di sepak bola Indonesia adalah saat Timnas meraih medali perunggu usai mengalahkan India di perebutan peringkat ketiga dalam ajang Asian Games 1958.

Peran Soekarno kala itu adalah keberhasilan dirinya memasukkan nama Antun 'Tony' Pogacnik ke dalam Timnas. Itu karena Soekarno berhasil meyakinkan Yugoslavia, yang saat itu masih dilatih Pogacnik, untuk melepas pelatihnya ke Timnas Indonesia.

"Saat Indonesia tertarik kepada Antun 'Tony' Pogacnik, dirinya kala itu masih melatih Timnas Yugoslavia. Namun entah bagaimana caranya Indonesia dan Soekarno kala itu dapat menghubungi induk sepak bola Yugoslavia, dan menyarankan Indonesia agar lebih dulu melakukan kerja sama," tulis majalah Bolavaganza (Agustus 2017).

2. Mohammad Hatta

Wakil Presiden, Mohammad Hatta pernah menjadi pemain bertahan yang tangguh di tim sepak bola. Dia bahkan mempersembahkan juara Piala Sumatra Selatan selama 3 tahun berturut-turut. Kehebatan pria yang akrab dipanggil Bung Hatta ini bahkan membuatnya mendapatkan julukan ‘Onpas Seerbar’ (sulit diterobos) dari orang-orang Belanda. Walau begitu, Hatta bukan pemain yang suka bermain kasar.

Jika lawannya bermain kasar, Bung Hatta selalu berkata: “Tidak baik bermain seperti itu. Kita berolahraga untuk mencari persahabatan dan untuk kesehatan.”

Pada masa remaja, Hatta pernah bergabung dengan klub sepakbola bernama Young Fellow. Walaupun berisi sejumlah anak-anak Belanda, Hatta menunjukkan bahwa ia bisa tampil baik. Akhirnya Bung Hatta selalu terlihat menonjol dan mampu meghadirkan prestasi.

"Saya bermula bermain sepakbola di tanah lapang, dengan memakai bola biasa yang agak kecil ukurannya, bola kulit yang dipompa. Saban sore pukul 17.00, saya sudah di tanah lapang. Kalau tidak bermain sebelas lawan sebelas, kami berlatih menyepak bola dengan tepat ke dalam gawang dan belajar menembak ke gawang,” tulis Bung Hatta dalam buku ''Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi''.

Kegemarannya terhadap sepak bola tak pernah hilang meski diasingkan pemerintah Hindia Belanda ke Boven Digul, Papua. Bersama Sutan Sjahrir, Mohamad Bondan, dan beberapa tahanan politik lainnya, Hatta menggelar friendly match antara pendatang baru dan penghuni lama Boven Digul pada 1935.

3. Tan Malaka

Tan Malaka lahir di Nagari Padam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, pada 2 Juni 1897. Tan merupakan anak dari Rasad Chaniago (Ayah) dan Sinah Simabur (Ibu). Sejak kecil, Tan Malaka sudah sangat akrab dengan sepakbola. Tan Malaka begitu cakap saat menggiring bola kala masih belia.

Tapi berbeda dengan anak kecil sebayanya yang tinggal di Sumatera Barat. Tan Malaka juga memiliki sifat keras, pemberani dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata teman sebayanya. Hal inilah yang membuatnya pada usia 16 tahun bisa melanjutkan pendidikannya ke Rijks Kweekschool di Harleem, Belanda.

Di Belanda sejak tahun 1913, kegemaran Tan Malaka dalam bermain sepak bola semakin terasah. Dengan postur yang hanya 165 cm, Tan Malaka terkenal sebagai pemuda yang memiliki kecepatan di atas lapangan, dengan posisi bermainnya sebagai penyerang.

Selama bermain sepak bola di Belanda itu juga ada sebuah kisah menarik dari Tan Malaka. Di mana dirinya terkenal sebagai pemain yang enggan menggunakan sepatu atau lebih memilih nyeker di atas lapangan. Selain juga keengganannya menggunakan jaket tebal ketika bermain di musim dingin. Sehingga membuatnya divonis dokter mengidap penyakit radang paru-paru.

Saat kembali ke Hindia Belanda, Tan Malaka juga menjadikan sepak bola sebagai alat perjuangan. Saat itu sampai membuat tim sepak bola dengan nama Pantai Selatan. Lewat klub Pantai Selatan itulah Tan Malaka mencoba menggelorakan semangat kemerdekaan para pemuda lewat ajang kejuaraan lokal di sekitar Bayah hingga Rangkasbitung.

Dalam kisahnya, Tan Malaka diceritakan sering mentraktir para pemain tim sepak bola yang berlaga dalam kejuaraan tersebut, usai pertandingan.

4. Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir diketahui sudah menggilai sepak bola sejak remaja di Kota Bandung, pasca-pindah dari Sumatra Barat pada 1926. Bahkan bagi Bung Kecil--panggilan akrabnya--sekolah tak boleh menganggu kegilaannya terhadap sepak bola.

Di kota berjuluk Parijs van Java itu, Sjahrir melanjutkan pendidikannya Algemeene Middelbare School (AMS, setara Sekolah Menengah Atas/SMA) di Bandung Selatan, di mana Sjahrir sempat numpang tinggal di Jalan Pungkur.

Dalam sepak bola, Sjahrir terkenal sebagai penyerang tengah yang tangkas dan pandai. Sebagaimana biografinya yang dituliskan Rudolf Mrazek, Sjahrir yang punya postur kecil, sanggup memanfaatkan kelebihannya itu untuk merumput sebagai penyerang tengah yang gesit.

Dirinya bahkan tampil level 'tarkam' bersama klub Voetbalvereeniging Poengkoer dan kemudian LUNO (Laat U Niet Overwinnen). Tim itu merupakan perkumpulan yang hanya berisikan kawan-kawan Sjahrir yang tinggal di Jalan Pungkur dan sekitarnya.

Hampir setiap pertandingan yang digelar, selalu dimenangkan tim yang diperkuat Sjahrir. Sikapnya yang tidak arogan dan mengedepankan sportivitas, membuahkan jalinan persahabatan baru dengan para anggota tim lawan, baik pribumi maupun para pemuda kulit putih.

Sjahrir kembali bersentuhan dengan sepak bola saat pengasingan di Boven Digul. Bersama Hatta dan para tahanan politik lainnya yang baru datang, mereka sempat ditantang pertandingan bola dengan para tahanan lama.

Meski diperkuat striker gesit seperti Sjahrir dan gelandang tangguh macam Hatta, tim mereka kalah 1-3 dari tim yang terdiri dari para tahanan lama Boven Digul. Tapi sepak bola dianggap menjadi hiburan bagi para tokoh nasional ini saat harus jauh dari perjuangan.

5. MH Thamrin

Mohammad Husni (MH) Thamrin merupakan sosok yang sangat berjasa melahirkan persepakbolaan di Jakarta. Thamrin boleh jadi berjasa bagi Persija yang saat itu masih bernama Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), hingga bisa memiliki lapangan.

Sebagai penggila bola, Thamrin juga mendesak pemerintah Belanda memperhatikan sepak bola yang kala itu hanya dinikmati keturunan Belanda. Klub sepak bola pribumi tak boleh merumput di lapangan-lapangan bond atau liga sepak bola Eropa.

Dia memang memandang sepak bola sebagai alat perjuangan dan penumbuh rasa kebangsaan untuk golongan anak bangsa. Dia berikhtiar mewujudkan gagasannya lewat lapangan sepak bola.

Lain itu, dia juga mendukung penuh pergantian nama VBB (Voetball Bond Boemipoetera) menjadi VIJ. Bagi Thamrin, VIJ adalah wujud revolusioner kebangsaan. Hubungan Thamrin dan VIJ terus terbangun, hingga masuk ke dalam struktur VIJ sebagai pelindung (beschermer).

Dirinya juga menghubungkan VIJ dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya, seperti Otto Iskandardinata. Otto yang berjuluk 'Si Jalak Harupat', kelak namanya menjadi stadion di Jawa Barat yang biasa dipakai Persib Bandung.

Otto dan Thamrin pernah melakukan pertandingan eksebisi dua kali pada 1932 dan 1933. Mereka mengajak tokoh-tokoh pergerakan nasional mengolah bola di lapangan. Selain itu, dirinya mengajak Soekarno membuka kompetisi PSSI pada 16 Mei 1932. Tak lama setelah Soekarno keluar dari penjara Sukamiskin, Bandung.

Konten di atas sebagian memakai konten yang ada di Wikipedia. Untuk melihat yang lainnya, silakan klik tautan berikut Arsip Wikipedia. Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini