Kisah Leluhur Betawi, dari Masyarakat Sungai hingga Kuasai Sunda Kelapa

Kisah Leluhur Betawi, dari Masyarakat Sungai hingga Kuasai Sunda Kelapa
info gambar utama

Masih membicarakan tentang ulang tahun Jakarta telah menginjak usia ke-494 pada 22 Juni 2021, kali ini kita mengangkat soal suku asli Jakarta, yang lazim disapa Orang Betawi.

Secara umum, Suku Betawi bermukim di Jakarta dan daerah-daerah penyangganya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sejak zaman kolonial Belanda, orang Betawi sudah ada di wilayah Jayakarta dan Sunda Kelapa yang kini menjadi Jakarta

Konon menurut para ahli sejarah, penduduk asli Betawi telah mendiami Jakarta dan sekitarnya sudah ada jauh sebelum Kesultanan Banten menyerbu Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1527, serta jauh sebelum Belanda mengambil alih Jayakarta dari tangan Banten dan mengubahnya menjadi Batavia

Menurut sumber literatur, penduduk asli Betawi dipercaya sudah ada sejak zaman Neoliticum sekitar 1.500 tahun sebelum masehi. Orang Betawi adalah penduduk Nusa Jawa, yang merupakan nenek moyang dari orang Sunda, Jawa, dan Madura.

Mereka berbahasa Kawi atau Jawa kuno, dan mengenal aksara ‘hanacaraka’ yang juga merupakan aksara Jawa dan Sunda. Pada abad ke-2 Masehi, hidup seorang pria bernama Aki Tirem di daerah Kampung Warakas (Jakarta Utara).

Kebetulan anak gadis Aki Tirem dipersunting oleh Dewawarman, seorang berketurunan India. Dewawarman mendirikan kerajaan Salakanagara pada tahun 130 Masehi yang merupakan cikal bakal penduduk Betawi.

Salakanagara berasal dari bahasa Kawi, ‘salaka’ berarti perak dan ‘nagara’ berarti kerajaan. Ridwan Saidi, sejarawan Betawi mengkaitkan kerajaan ini dengan laporan ahli geografi Yunani bernama Claudius Ptolomeus pada tahun 160 dalam buku Geografia, yang menyebut bandar di daerah Iabadiou (Jawa) bernama ‘Argyre’ yang artinya perak.

Soal letak Salakanagara, Ridwan menunjuk kepada daerah Condet. Alasannya karena di Condet salak tumbuh subur dan banyak sekali nama-nama tempat yang bermakna sejarah, seperti Bale Kambang dan Batu Ampar. ‘Bale Kambang’ adalah pasangrahan raja dan ‘Batu Ampar’ adalah batu besar tempat sesaji diletakkan.

Keberadaan suku Betawi juga dikonfirmasi arkeolog, yang membuktikan sejak 5.000 tahun yang lalu sudah ada masyarakat yang bermukim di pinggir Kali Ciliwung, antara lain di Condet. Sejarawan JJ Rizal juga mengatakan bukti yang menunjukkan adanya pemukiman di pinggir Kali Ciliwung 5.000 tahun yang lalu, yakni soal ditemukannya peralatan rumah tangga, di antaranya kapak perimbas.

Orang-orang Cina juga membuat peta sungai yang menyebut adanya kota bandar. Dapat dipahami bahwa masyarakat sungai di kota bandar Kalapa merupakan bentuk lanjut dari masyarakat sungai. Karena ada pengaruh ekspansi Sunda, maka kota ini kemudian lebih dikenal sebagai Sunda Kalapa.

(22 Juni 1956) - Peringati HUT Jakarta, Wali Kota Sudiro Bagikan Hadiah dan Beasiswa

Masyarakat sungai dan magnet Pelabuhan Sunda Kelapa

Masyarakat Betawi juga dikenal sebagai masyarakat sungai, yang dibuktikan dengan banyaknya nama tempat di Jakarta yang mengandung unsur air, misalnya Kalimalang, Rawasari, dan Setu Babakan.

Salah satu kelurahan di Condet, yakni Batu Ampar, konon berasal dari batu yang dipakai dalam kegiatan memasak manusia prasejarah di Jakarta. Karena itu, masyarakat sungai ini bisa disebut sebagai cikal bakal alias nenek moyang orang Betawi.

JJ Rizal menyatakan, salah satu bukti orang Betawi berasal dari masyarakat sungai adalah banyaknya mitos maupun folklor yang berhubungan dengan buaya. Bahkan, salah satu syarat dalam pernikahan cara Betawi adalah membawa roti buaya.

Masyarakat tepian sungai ini kemudian membentuk wilayah yang masuk dalam catatan Cina, yang disebut Kalapa. Setelah ada ekspansi masyarakat Sunda, kota ini kemudian dikenal sebagai Sunda Kalapa atau Kelapa.

Sanusi Pane (1955:27) dalam Sedjarah Indonesia menuliskan, Sunda Kelapa pada masa Pajajaran sudah dikenal sebagai kota pelabuhan internasional. Ia menjadi tempat bertemunya kaum pedagang dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Eropa dan Arabia (Timur Tengah).

Tentunya tak hanya orang-orang Eropa dan Timur Tengah, kaum saudagar lintas bangsa dari negeri-negeri Melayu, India, Jepang, juga Cina, juga sering berkunjung ke Sunda Kelapa. Bandar dagang yang selalu ramai ini memang dikenal sebagai segitiga emas Nusantara bersama Malaka dan Maluku.

Tapi menurut sejarawan Ridwan Saidi, Bandar Sunda Kelapa sebagai zona perdagangan tidak dikuasai oleh kerajaan manapun. Sama halnya dengan zona ekonomi Bandar Lampung, Tuban, dan Pasuruan, yang tak dikuasai kerajaan.

"Sunda Kelapa itu yang berkuasa orang Jakarta," ucap sosok yang karib dipanggil 'Babeh' itu.

Dengan jatuhnya pesisir Jakarta alias Sunda Kelapa dari Pajajaran dan Portugis, tambah beragam pula jenis orang yang menjamahnya, yakni orang-orang Jawa dari Kesultanan Demak, juga dari Cirebon. Penaklukan Kota Sunda Kelapa oleh Fatahillah, yang kemudian mengubah nama kota ini menjadi Jayakarta yang berarti “kemenangan”, membuat masyarakat asli Jakarta terus berevolusi.

Dirgahayu Jakarta, Kota dengan Wujud Nyata Penerapan Smart City di Masa Depan

Pada awal abad ke-17, wilayah Jayakarta dikelola oleh pejabat dari Kesultanan Banten seiring runtuhnya Kesultanan Demak. Namun, kedatangan orang-orang VOC dari Belanda yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen, berhasil mengambil-alih Jayakarta pada 1619. Nama Jayakarta pun kemudian dihilangkan dan diganti menjadi Batavia

Nama Betawi kemudian muncul, dan merupakan pemberian dari pihak Belanda. Usut punya usut, Betawi diambil dari nama Jakarta pada masa itu, yakni Batavia. Julukan kaum Betawi juga mulai populer pada 1918, saat Mohammad Husni Tamrin membentuk 'Kaum Betawi'.

Masuknya Belanda, membuat orang Betawi yang tadinya berciri masyarakat sungai berubah menjadi masyarakat benteng. Sifat inklusif dan suka bercampur--termasuk dalam urusan kawin--membuat terciptanya satu suku etnis tertentu yang ternyata, menurut JJ Rizal, “Jawa bukan, Sunda bukan”.

Masyarakat Betawi adalah kita

Komposisi penduduk Batavia sangat beragam. Tersusun atas orang-orang Sunda, Melayu (dari Sumatra dan Borneo), Jawa, Bali, Sulawesi, Timor (Nusa Tenggara, Maluku, dll), hingga orang-orang mancanegara beserta keturunannya (semisal Portugis, Belanda, Cina, Timur Tengah, India, Moor, dst).

Perpaduan masyarakat inilah yang sebenarnya telah membentuk suku baru yang lantas dikenal dengan nama Betawi, dan proses ini semakin kental selama masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Pada tahun 1930 dilakukan sensus dan ditemukan 80 ribu jiwa yang tidak bisa dideteksi suku bangsanya. Dengan kebudayaannya yang bercorak Hindis, yang menjadi salah satu aspek kebudayaan Betawi sekarang, kelompok ini dinamakan sebagai Betawi—berasal dari nama Batavia dalam pengucapan pribumi.

Selain Monas dan Kota Tua, Ini 5 Tempat Wisata Bersejarah di Jakarta

Pada masa itu, banyak sebutan untuk orang Betawi, seperti orang 'Betawi Kota', diperuntukkan bagi mereka yang menghuni kawasan kota Jakarta, seperti Tanah Abang dan Jatinegara. Adapula sebutan orang 'Betawi Ora' yang diperuntukkan bagi orang Betawi penghuni daerah penyangga Jakarta. Sementara itu, orang Betawi Kota menyebut kerabat mereka yang ada di daerah penyangga tersebut dengan julukan 'Betawi Udik'.

“… komponen penduduk yang berasal dari berbagai tempat dan golongan itulah yang pada akhirnya merupakan cikal-bakal pembentuk masyarakat yang mewujudkan ‘suku’ baru yang kita kenal sebagai Kaum Betawi, pemilik bahasa dan budaya Betawi, dengan ciri khasnya yang kita kenal sekarang,” nukilan dari buku ''Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya'' karya Muhadjir (2000:53) yang dikutip dari Tirto.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, pembauran lintas suku bangsa di Jakarta--nama untuk menggantikan Batavia--semakin menghebat. Migrasi besar-besaran terjadi setelah Jakarta ditetapkan sebagai ibukota negara. Orang-orang dari berbagai daerah berdatangan ke Jakarta.

"Sifat kebudayaan Betawi masa kini seharusnya mencerminkan asal-usulnya: progresif, berani, terbuka, cerdas, dan menghargai plurarisme," ucap JJ Rizal dalam Liputan6.

JJ Rizal menegaskan, pada masa ini ukuran kebetawian bukan pada keturunan, tetapi pada sebesar apa orang tersebut memahami dan ikut berbuat bagi Betawi. Masa lalu tak penting lagi, seperti banyak orang tua Betawi zaman dulu yang tak ingat tanggal lahir anaknya dan hanya ditandai dengan gejala alam.

"Yang terpenting sekarang, adalah bagaimana orang Betawi bertindak tidak merusak citra Betawi. Atau seperti kata MH Thamrin, “Mudah-mudahan pada sigra mendusin,” tegas Rizal.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini