Refleksi Kemerdekaan: Pemuda Pendiri Bangsa

Refleksi Kemerdekaan: Pemuda Pendiri Bangsa
info gambar utama

“Beri aku 1.000 orangg tua, Niscaya aan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda Niscaya akan kuguncangkan dunia,” demikian kata Soekarno (Bung Karno).

Saya menulis artikel ini bermula ketika melihat unggahan senior saya alumni SMA Negeri 2 Surabaya, Pak Syafei Atmodiwiryo di akun FB nya (Pak Syafei alumni SMA 2 tahun 1950an dan saya alumni tahun 1970. Pak Syafei juga senior saya di BULOG, seorang alumni IPB angkatan 60 dan pencipta hymne nya IPB) tentang foto Letkol Slamet Riyadi saat penyerahan kota Solo ke TNI tanggal 12 November 1949.

Pak Letkol ini terlihat berjabat tangan dengan mayor jendral F. Mollinger disaksikan Kolonel J.H.M.U.LE Ohl. Para perwira bule itu terkejut ketika melihat musuhnya dalam pertempuran itu anak muda yang usianya 22 tahun.

Sebelumya tanggal 7-11 Agustus 1949 Letkol Slamet Riyadi memimpin pasukan TNI melancarkan serangan kota dan membuat tentara penjajah Belanda kewalahan dan akhirnya menawarkaan gencatan senjata dan menyerahkan kota Solo ke TNI.

Dalam foto itu, terlihat Letkol Slamet Riyadi dengan sikap tegak menunjukkan kepercayaan dirinya sebagai bangsa Indonesia kepada perwira penjajah itu. Saya bangga melihat foto itu sekaligus banggga sebagai rakyat Indonesia.

Jangankan perwira Belanda itu yang terkejut, saya saja juga terkejut dan terkagum karena usia 22 tahun Slamet Riyadi ini sudah Letkol dan memimpin pasukan perang. Berarti pahlawan kita ini sudah faham strategi perang, strategi logistik tempur, menganalisa informasi intelijen tentang kekuatan musuh, merencanakan pertempuran dsb.

Saya terkejut karena waktu saya seusia beliau saya masih mahasiswa yang cengengesan, dan tentu tidak memiliki kemampuan seperti Letkol Slamet Riyadi itu.

Sekadar mengingatkan kita semua, terutama generasi muda, ternyata para pendiri bangsa ini dulu banyak anak-anak mudanya, pantas Bung Karno begitu percayanya pada potensi pemuda sampai beliau mengucapkan kalimat tentang pemuda yang terkenal itu.

Kalau kita mempelajari sejarah maka kita dapati misalnya Dr. Soetomo itu usia 23 tahun sudah lulus Fakultas Kedokteran Belanda STOVIA (beliau lahir tahun 1888), dan tiga tahun sesbelum lulus dokter beliau mendirikan organisasi pelajar yang memiliki cita-cita kemerdekaan yaitu Budi Utomo pada tahun 1908.

Kita juga ingat bahwa Jenderal Soedirman tercatat sebagai Panglima Tentara dan Jenderal Republik Indonesia pertama dan termuda dalam sejarah. Pada umur 30 tahunan beliau sudah keluar masuk hutan bersama para pejuang untuk bertempur melawan penjajah.

Bung Hatta sebagai salah satu proklamator kemerdekaan juga pada usia-usia 25 tahun keatas sudah aktif dalam pergerakan kemerdekaan; bahkan beliau telat kawin karena aktif berjuang itu.

Presiden pertama kita, Soekarno, atau lebih dikenal dengan panggilan Bung Karno yang sepantaran dengan Bung Hatta, pada usia belia sudah masuk Hogere Burger School atau HBS tahun 1915 di jalan Wijayakusuma Surabaya (yang nantinya menjadi sekolah SMA saya dengan senior saya pak Syafei itu).

Dalam usia yang belasan tahun itu, Bung Karno sudah berguru politik pada HOS Tjokroaminoto. Pada usia muda Bung Karno juga kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) jurusan teknik Sipil (beliau salah satu dari tiga pribumi yang kuliah disitu).

Pada usia muda itu pula beliau sudah aktif berdiskusi politik degan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Dr. Douwes Dekker. Bung Karno sebelum kuliah di Bandung, sudah menjadi anggota Jong Java cabang Surabaya pada tahun 1915.

Pada tahun 1926--saat beliau berusia 26--sudah mendirikan Algemeene Studie Club yang terinspirasi dari Indonesische Studie Club-nya Dr. Soetomo. Organisaasinya ini menjadi cikal bakal berdirinya organisasi politik yang digagasnya yakni Partai Nasional Indonesia atau PNI.

Sejarah dunia juga mencatat, bahwa pemuda itu berhasil menjadi pemimpin dunia. Tengok saja Iskandar Agung atau Alexander The Great sudah menjadi raja di usia 20 tahun, dan menaklukkan berbagai wiayah dan mendirikan kekaisaran yang terluas wilayahnya yaitu dari Yunani sampai ke India.

Presiden Amerika Serikat yang terkenal yaitu John F. Kennedy, menjadi presiden AS termuda di abad 20, yaitu di usia 40 tahunan. Muamar Khadafi dari Libia itu di usia muda berhasil mengambil kekuasaan negara dan menjadi presiden (tahun 2011 Khadafi di bunuh rakyatnya sendiri ketika terjadi perang saudara).

Dari sejarah bangsa Indonesia--maupun dunia--kita bisa menyaksikan bahwa para pemudalah yang banyak berjuang mendirikan negara (tentu juga didampingi generasi yang lebih tua).

Saya membayangkan di era modern dengan kemajuan IT yang sangat cepat ini, banyak bermunculan anak-anak muda milenial yang tampil di barisan terdepan untuk membangun bangsa ini. Pemuda di zaman ini sangat beruntung karena mengalami kemajuan diberbagai bidang dengan berbagai kemudahan-kemudahan karena kemajuan teknologi, dan karena itu sepantasnya mereka ini berada di garis terdepan.

Para pejuang kita dulu yang dengan berbagai kekurangan fasilitas, kondisi kemiskinan dsb tidak menyurutkan jiwa mudanya untuk menggapai cita-cita yang tinggi yaitu Kemerdekaan. Karena itu dalam menyambut Hari Kemerdekaan ini, kita bisa berpesan:

“To Indonesian Youth Now is Your Turn!”

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Penulis aktif menulis di Koran Jawa Pos, Surya, dan rutin menulis di GNFI. Beberapa tulisannya acapkali dimuat/dikutip Koran Malaysia dan Thailand. Penulis juga tersohor sebagai akademisi sekaligus profesional di kota kelahirannya, Surabaya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

AH
AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini