Kisah Pawang Hujan, Para Komunikator Alam dalam Tradisi Masyarakat Nusantara

Kisah Pawang Hujan, Para Komunikator Alam dalam Tradisi Masyarakat Nusantara
info gambar utama

Seiiring musim hujan tiba, pawang hujan akan turut dilibatkan dalam kegiatan guna melancarkan acara. Profesi ini sudah mengakar kuat dalam tradisi di Nusantara yang dipercaya hingga kini.

Misalnya saja yang terjadi pada Musyawarah Nasional (Munas) VIII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Guna mengantisipasi cuaca buruk dan mengamankan jalannya Munas, panitia lokal tidak segan-segan menurunkan 10 pawang hujan sekaligus.

"Mereka menjalankan tugasnya mulai hari ini. Kita tidak mau takabur, kita hanya berikhtiar mudah-mudahan tidak terjadi hujan besok," ucap Kordinator Lokal Media Center Munas VII Kadin Indonesia, La Ode Rahmat Apiti yang dilansir dari Pena Sultra, Selasa (5/10/2021).

Hal yang sama dilakukan pada pelantikan 17 Kepala Daerah Jawa Tengah di Lapangan Pancasila Simpanglima, Semarang, Rabu (17/2/2016) silam. Saat itu Kabiro Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Sinoeng Rachmadi, mengatakan pihaknya menyiapkan pawang hujan.

"Kita memang minta dukungan pawang hujan," kata Sinoeng yang dikabarkan Liputan6.

Menurut Yahya Andi Saputra, penggunaan pawang hujan oleh para pejabat pemerintah dan masyarakat bukanlah hal aneh. Pada zaman dahulu, masyarakat Betawi telah mengenal istilah dukun pangkeng, mereka disebut selalu ada dalam acara hajatan.

"Hajat apapun, seperti pernikahan, sunatan, syukuran rumah baru, pasti dukun pangkeng dilibatkan." Ucap pria yang merupakan budayawan dan ahli sejarah Betawi dari Lembaga Kebudayaan Betawi.

Tanaman Yang Cocok Ditanam Pada Musim Penghujan

Istilah dukun pangkeng ini muncul karena saat melakukan kegiatannya mereka duduk di dalam sebuah kerangkeng bambu. Sang dukun ini akan melakukan ritualnya dalam kamar yang tertutup rapat.

Adapun dalam ritual itu, si empunya hajat harus menyajikan sesajen seperti kopi pahit dan kopi manis, kembang turuh rupa, telur ayam kampung, aneka jajanan pasar, hingga pendupaan.

Selama melakukan ritual, ujar Yahya, semua sesajen tersebut disimpan di dalam kerangkeng bersama sang dukun yang merapalkan mantra.

"Masyarakat Betawi percaya dukun pangkeng punya kemampuan memindahkan energi hujan dari satu tempat ke tempat lain," Yahya menuturkan. Namun tidak hanya itu, dukun pangkeng pun dianggap mampu menarik minat warga agar datang ke lokasi hajatan.

Tradisi pawang hujan dalam budaya Nusantara

Pawang hujan bagi masyarakat perkotaan, semisal Jakarta mungkin saja sekarang sudah tidak laku. Kisah-kisah tentang pawang hujan makin sulit dijumpai.

Namun jauh di pelosok desa, dalam tradisi-tradisi ritual di Jawa, pawang hujan masih menemukan eksistensinya. Lewat pesta-pesta pernikahan, khitanan, dan sejenisnya, pawang hujan adalah sosok penting di balik layar.

Pawang hujan juga akan beradu sakti. Sering kali dia harus melawan pawang hujan lainnya bila dalam satu wilayah berdekatan terdapat acara dan pesta. Siapa yang menang ditentukan dari langit yang paling cerah.

"Namanya sayup tak tersebut bila hujan tak jadi datang, namun mendapat hujatan dan cacian bila hujan turun, apalagi dengan derasnya," ucap Aris Setiawan, pengajar di ISI Surakarta yang dikutip dari Jawapos.

Kisah Tunggal Panaluan, Tongkat Sakti Para Datu Batak Toba

Masyarakat Jawa mengenal orang-orang pintar yang dianggap bisa memindahkan hujan. Mereka adalah para sesepuh yang dimintai doa oleh orang-orang yang memiliki hajatan. Para sesepuh itu tidak perlu datang ke tempat acara.

Biasanya, mereka enggan meminta bayaran. Sebab, jika meminta upah kesaktian mereka akan dicabut oleh sang Mahakuasa. Mereka yakin, zat yang tak kasat mata itu berpengaruh terhadap kelangsungan kehidupan manusia.

Dalam tradisi keraton di Jawa, pawang hujan bahkan memiliki kedudukan yang prestisius. Di Keraton Kasunanan Surakarta, misalnya, terdapat pawang hujan yang sangat terkenal, bernama Haknyo Ramiyono yang baru meninggal pada tahun 2014.

"Setiap acara-acara penting di keraton dan sekitarnya, dia tidak hanya bertugas membersihkan langit dari awan gelap, tetapi juga menangkal setiap hal berbau transendental yang berpotensi mengganggu jalannya acara," beber Aris.

Aris menjelaskan kesaktian Haknyo sebagai pawang hujan didapatkan dari garis keturunan. Hal inilah yang menjadikan keahlian pawang hujan tidak semata diperoleh dari laku proses belajar, tetapi juga menyangkut urusan genetika.

"...Karena itu, tidak semua orang dapat menjadi pawang hujan. Pawang hujan adalah orang-orang terpilih," tegasnya.

Namun cukup sulit untuk melacak awal mula kemunculan profesi pawang hujan ini. Beberapa hanya bisa dilihat dari beragam tradisi pada setiap daerah.

Semisal dalam cerita rakyat Betawi, tentang dewa-dewi yang diturunkan ke bumi, mereka dikenal sebagai nenek dan aki Bontot. Pasangan tua itu mengajari manusia mengelola Bumi, mengenali tanda-tanda alam dan hewan, serta memperkenalkan dengan alam gaib.

Cerita ini dituturkan secara turun menurun dan tetap lestari di tengah masyarakat Betawi. Kisah nenek dan aki Bontot juga menjadi dasar eksistensi dari profesi unik yang ada dalam masyarakat Betawi, yakni pawang hujan.

"Yang begini sudah muncul jauh-jauh hari. Zaman Hindu-Buddha, zaman sebelum Islam. Jadi sudah cukup tua ilmu perdukunan ini,” sebut Yahya.

Tak cuma di masyarakat Betawi atau Jawa, di berbagai tempat lain berlaku pula hal serupa. Sebagai contoh di Bali, masyarakat menggunakan jasa pawang hujan yang disebut Nerang Hujan. Sementara, di Riau pawang hujan dikenal dengan istilah Bomoh.

Konsepsi para pawang hujan memang tidak menghilangkan hujan. Dia hanya bermain-main dalam konteks waktu, menunda, mempercepat, atau mengalihkannya.

Selain itu pawang hujan, terutama di Jawa, hadir sebagai antitesis dari ritual-ritual mendatangkan hujan yang tersebar di berbagai penjuru negeri.

Misalnya tradisi meminta hujan dengan Tari Gundala-Gundala, pada masyarakat Karo, Sumatra Utara (Sumut), atau Tradisi Gebug Ende, Karangasem, Bali yang harus saling pukul dengan rotan untuk mendatangkan hujan.

Para komunikator alam yang mulai hilang

Memasuki zaman teknologi, profesi pawang hujan mulai ditinggalkan. Manusia kini memang tak butuh pawang hujan. Mereka tahu kapan hujan akan datang lewat ramalan cuaca yang terpampang di layar handphone.

Selain itu profesi ini pun tak menjanjikan pamrih ekonomi. Akibatnya, hampir semua pawang hujan berusia senja, melayani dengan tulus demi kebaikan kepada sesamanya. Seorang pawang hujan menempa dirinya dengan berbagai kearifan, terutama ikhtiar menjaga alam dan lingkungan sekitar.

Daeng Lusing (45) mengaku pekerjaan sebagai pawang hujan bukan semata untuk mencari keuntungan. Tetapi lebih dari itu, ada tanggung jawab moral untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Juga, sebagai cara mengingat keagungan budaya leluhur yang kian hari makin tergerus gelombang modernitas.

"Sejak masih muda, di umur 20 tahun sudah jadi pawang," kata pawang hujan asal Desa Pao di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), dikutip dari IDN Times.

Daeng Lusing remaja kala itu, dipercaya oleh sang nenek untuk meneruskan ilmu pawang hujan. Dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, kemampuan itu disebut sebagai pangngissengang atau pengetahuan yang menjadi pegangan.

Budaya Jadi Harapan Besar Generasi Muda untuk Masa Depan Indonesia

"Ada semacam ilmu batin yang nenek lihat di saya mungkin, makanya langsung dipercaya," ucapnya.

Selama ini memang masyarakat melihat profesi ini secara parsial, tentang sosoknya yang lekat berbau kelenik. Padahal pawang hujan sebenarnya adalah manusia yang sangat sadar dan peduli pada alam-lingkungan.

"Dia mampu melihat tanda-tanda. Menyertakan doa-doa dengan sesaji yang sejatinya sarat makna,", ucap Imaniar lewat tulisannya yang berjudul Objek-Objek dalam Ritual Penangkal Hujan.

"Beberapa benda prosesi itu, misalnya, sapu lidi sebagai simbol menyapu keburukan dalam diri. Janur, cabai, bawang merah dan bawang putih, atau hasil bumi lainnya sebagai wujud syukur dan persembahan kepada Sang Pencipta," tambahnya.

Selain itu eksistensi pawang hujan yang telah mengakar dalam jejak tradisi di negeri ini. Mungkin menjadi pertanda bahwa manusia tidak lagi bersyukur, tak mampu merawat alam, tak mampu berdialog dengan Tuhan-nya, tak mampu membaca tanda-tanda selayaknya pawang hujan.

"Hujan memang urusan alam dan Tuhan. Tapi, manusia terpilih dapat ”berdialog-berkomunikasi” dengannya," ucap Eva Junalisah dalam Peranan Pawang Hujan dalam Pelaksanaan Pesta Pernikahan pada Etnis Jawa.

"Pawang hujan berpedoman pada sebuah tesis sederhana bahwa tidak ada kepastian di dunia ini, manusia hanya memohon dan berdoa, termasuk untuk urusan hujan." pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini