Estonia, Keajaiban Sang Harimau Baltik

Estonia, Keajaiban Sang Harimau Baltik
info gambar utama

Mungkin, kita sering menyamakan kawasan Baltik dengan Kawasan Balkan. Bisa jadi, kawasan Balkan lebih populer di telinga orang Indonesia dibandingkan Baltik, karena konflik Balkan di tahun 90an yang melibatkan hampir semua negara-negara di kawasan tersebut, seperti Serbia, Bosnia Herzegovina, Kroasia, Kosovo, Montenegro, dan lainnya.

Sementara, kawasan Baltik yang terletak di Laut Baltik ada jauh di utara, dan negara-negara di kawasan Baltik hanya ada tiga negara, yakni Latvia, Lituania dan Estonia, dan ketiganya sering secara kolektif disebut sebagai Negara Baltik.

Mereka dulunya selama lima dekade dikuasai oleh pemerintahan komunis Uni Soviet, dan ketika Soviet bubar, banyak negara-negara bekas negara adidaya tersebut masih menderita tingkat korupsi yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang stagnan, kecuali tiga negara Baltik tersebut, yang seringkali dianggap sebagai keajaiban ekonomi Eropa Timur, harimau-harimau Baltik.

Setiap negara Baltik diklasifikasikan sebagai ekonomi berpenghasilan tinggi oleh Bank Dunia saat ini. Selain itu, mereka semua berada di 40 negara teratas dalam hal Indeks Pembangunan Manusia.

Inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan: apa kebijakan yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Baltik begitu kuat? Juga, bagaimana kebijakan ini dapat diterapkan lebih lanjut untuk membantu membuat Eropa Timur setara dengan tetangga Baratnya yang lebih dulu maju dan makmur?

Uni Soviet menguasai dan memasukkan tiga Negara Baltik Latvia, Lithuania dan Estonia selama Perang Dunia Kedua. Sebagai bagian dari Uni Soviet, perusahaan-perusahaan di ketiga negara tersebut dikelola oleh negara dan memakai sistem manajemen hierarkis kaku yang berbasis di Moskow. Setiap negara Baltik kemudian menjadi bergantung pada energi impor, bahan mentah, dan keuangan publik yang dikelola Uni Soviet.

Ketika Soviet runtuh, negara-negara Baltik memerdekakan diri pada tahun 1991. Sayangnya, keruntuhan ini juga menyebabkan jatuhnya banyak sektor ekonomi negara-negara Baltik dan keseluruhan sistem perbankan Soviet. Di ketiga Negara Baltik, inflasi mata uang mencapai 1.000 persen pada tahun 1992.

Resesi ekonomi yang dihasilkan sangat parah, terutama untuk Lithuania, yang mencatat penurunan PDB sebesar 35 persen. Ekonomi Baltik terus menurun sampai tahun 1995. Ketika baru akan mulai pulih, keruntuhan keuangan Rusia pada 1998 kembali menyebabkan resesi .

Mari fokus ke satu negara paling menonjol, yakni Estonia.

Setelah memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991, Estonia, sebuah negara kecil berpenduduk 1,3 juta orang di tepi Laut Baltik, ditinggalkan sebagai daerah terpencil yang miskin tidak berfungsi. PDB per kapita negara itu sekitar 2.000 dolar AS, sektor industrinya hancur, upah riil juga makin tidak bernilai, inflasi merajalela, dan persediaan makanan juga sangat langka sehingga harus dijatah.

Bekas pabrik Soviet yang diprivatisasi dan dalam banyak kasus, tidak beroperasi lagi setelahnya. Pabrik Volta di jalan Tööstuse Tallinn pernah mempekerjakan hampir 3.000 orang dan memproduksi pembuat wafel, setrika, radiator, dan motor listrik untuk seluruh pasar Soviet. Saat ini, bekas kompleks industri adalah kantor bagi pengembangan real estat modern. Foto oleh Volta Kvartal.
info gambar

Namun, keadaan menyedihkan ini tidak berlangsung lama: dalam waktu kurang dari satu generasi, Estonia mengubah dirinya menjadi salah satu negara yang paling maju secara teknologi dan dinamis secara ekonomi di dunia; negara yang sekarang digambarkan oleh Bank Dunia sebagai ekonomi pasar bebas berpenghasilan tinggi. Tapi bagaimana keajaiban Estonia terjadi?

Setelah 50 tahun pendudukan, Estonia tiba-tiba diberi kesempatan untuk memulai dari awal lagi. Mereka memiliki pilihan untuk melanjutkan dengan sistem yang mirip dengan apa yang telah mereka alami di bawah Soviet atau mulai membangun negara yang sama sekali baru dari bawah ke atas, memilih model sosial dan ekonomi yang mereka inginkan. meniru dan menyesuaikan diri dengan konteks sosial dan geografis mereka yang unik.

Estonia dengan cepat memutuskan bahwa mereka akan bergerak membangun negerinya seperti negara-negara Eropa barat. Seperti juga tetangganya, Latvia dan Lithuania, Estonia kemudian melompat cepat ke Barat, menggunakan strategi "terapi kejut" eksperimental yang langsung menciptakan ekonomi pasar bebas dan ikatan yang lebih dalam dengan negara-negara barat seperti AS, Eropa Barat, dan negara-negara Skandinavia terdekat.

Negara ini mengeluarkan mata uangnya sendiri yang sepenuhnya dapat dikonversi (negara pasca-Soviet pertama yang melakukannya), perusahaan publik dan tanah tiba-tiba diprivatisasi, dan orang-orang mulai meninggalkan ketergantungan pada negara.

“Kami memilih untuk membuka ekonomi dan kami memprivatisasi hampir semua perusahaan publik,” jelas Karel Lember, seorang analis ekonomi di Kementerian Urusan Ekonomi dan Komunikasi Estonia.

“Kami memiliki tetangga seperti Swedia dan Finlandia yang membeli banyak perusahaan Estonia dan membawa banyak pengetahuan dan transfer teknologi.”

Estonia menjadi anggota Uni Eropa dan NATO pada tahun 2004, lalu masuk menjadi wilayah Schengen pada tahun 2007, dan zona euro pada tahun 2011, yang sepenuhnya mengintegrasikan dirinya dalam lembaga sosial-ekonomi dan keamanan Barat.

Pada saat merdeka, Estonia sepenuhnya bergantung secara ekonomi pada Rusia, dengan 92 persen perdagangannya mengarah ke negeri tersebut. Kini, jumlah ini telah turun menjadi hanya 6,1 persen, dengan sebagian besar perdagangan menuju ke arah lain: Skandinavia, Eropa Tengah, dan Amerika Serikat.

Hasil ekonomi dari poros ini sangat fenomenal, pasar kecil yang berada di tepi Uni Eropa dalam waktu singkat telah meningkat menjadi salah satu ekonomi paling dinamis di dunia, peringkat ke-17 di Indeks Kebebasan Ekonomi, ke-30 di Indeks Pembangunan Manusia, dan ke-16 dalam daftar Kemudahan Berbisnis menurut Bank Dunia.

PDB Estonia sekarang telah mencapai 25,92 miliar dolar AS ( dengan 38.820 dolar AS per kapita) dengan tingkat pengangguran hanya 4,4 persen – terendah dalam lebih dari 20 tahun.

Negara-negara Baltik lainnya, Latvia dan Lituania, yang sering dibandingkan dengan Estonia, mengikuti jalan pembangunan yang serupa pasca-kemerdekaan dan memperoleh hasil-hasil positif yang serupa.

Latvia, tetangga Estonia di selatan, menempati urutan ke-19 dalam Daftar Kemudahan Berbisnis Bank Dunia dan memiliki PDB per kapita sebesar $25.063, sedangkan Lituania berada di urutan ke-14 dan memiliki PDB per kapita sebesar $29.524.

Dalam hal teknologi, Estonia melompat ke depan ke ujung tombak teknologi, melompati banyak negara-negara yang lebih dulu mapan. Orang Estonia mungkin tak pernah mempunyai buku cek ataupun telepon rumah, karena langsung beralih ke kartu bank dan ponsel.

Estonia seolah mengadopsi semua teknologi-teknologi baru, dan hal ini membuat mereka berada paling depan dalam adopsi teknologi baru, bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa Barat.

Estonia adalah negara yang rakyatnya paling terkoneksi dengan internet, dengan koneksi yang cepat, bahkan ketika di dalam hutan pun, koneksi 4G juga mampu terjangkau. Negara ini juga membangun fasilitas-fasilitas wifi gratis di ribuan tempat di seluruh negara yang berpenduduk kecil tersebut.

Rasa lapar akan teknologi baru ini mengubah negara Baltik yang kecil ini menjadi salah satu 'sarang' inovasi global, dengan perusahaan rintisan muncul dengan beberapa teknologi paling 'disruptif' di awal abad ke-21. Kazaa, platform berbagi file terkenal yang pernah menjadi program yang paling banyak diunduh, awalnya dikembangkan di Estonia.

Setelah Kazaa muncul Skype, yang dikembangkan di pinggiran Tallinn, ibukota Estonia, yang kemudian dijual ke eBay seharga 2,6 miliar dolar AS, dan akhirnya diakuisisi oleh Microsoft seharga 8,5 miliar dolar AS.

Tim yang mengembangkan Skype terpecah dan menciptakan serangkaian aplikasi dan perusahaan populer lainnya, seperti TransferWise, Ambient Sound Investment, dan Starship Technologies–sebuah perusahaan yang membuat robot pengiriman yang bisa dilihat sedang diuji di jalan-jalan Tallinn, Bern, dan London.

Sebuah mobil pengiriman parsel self-driving dari Cleveron - yang pendirinya, Indrek Oolup (di foto), menjadikan Estonia tempat untuk menjalankan bisnisnya | Theneweconomy.com
info gambar

Diuntungkan dengan populasinya yang kecil dan kemauannya yang kuat untuk selalu mengadopsi dan beradaptasi dengan teknologi baru, Estonia mengubah dirinya menjadi tempat pengujian langsung untuk sistem sosial digital yang inovatif.

Semua layanan sosial dan lembaga pemerintah negara terhubung secara digital, artinya informasi yang dibagikan antar entitas, dan orang dapat berpindah dengan mulus dari satu perangkat ke perangkat lainnya dari kenyamanan perangkat elektronik pribadi mereka.

Pengenalan sistem tanda tangan elektronik nasional membuat praktik pencetakan dan scan hampir tak ada lagi di sana. Pemilu bisa diikuti oleh seluruh rakyat yang memberikan suara dari rumah dari komputer maupun smartphone mereka.

Kewarganegaraan digital Estonia, menjadi yang termaju di dunia | worksup.coom
info gambar

Saat ini, 99 persen layanan publik, termasuk pengajuan pajak dan pemungutan suara publik, tersedia secara digital untuk orang Estonia, dan solusi ini memungkinkan negara tersebut menghemat lebih dari 800 tahun waktu kerja dan 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) setiap tahun, menurut sebuah laporan baru oleh perusahaan konsultan PwC.

Sementara Estonia mengubah dirinya menjadi ekonomi kecil yang sangat dinamis dalam beberapa dekade, negara ini masih menghadapi beberapa tantangan inti yang membawa reputasinya sebagai keajaiban ekonomi sedikit lebih dekat ke bumi.

Menjadi negara kecil berpenduduk sedikit lebih dari satu juta orang, sangat bergantung pada ekspor (72,2 persen dari PDB), yang membuat negara itu bergantung pada ekonomi mitra dagang utamanya, yaitu Finlandia, Swedia, dan Latvia.

Karena ekspor utama Estonia adalah hal-hal seperti peralatan penyiaran, minyak bumi olahan, mobil, dan bangunan prefabrikasi, krisis ekonomi kecil di Uni Eropa dapat membuat ekonomi Estonia sangat terdampak.

Selain itu, kurangnya investasi untuk proyek infrastruktur besar juga menjadi masalah. Sementara pusat-pusat populasi negara itu sepenuhnya modern, daerah-daerah pedalaman dirasa cukup tertinggal.

Dan sementara China tertarik untuk berinvestasi di infrastruktur Estonia melalui inisiatif Belt and Road Initiative (BRI, or B&R), Estonia sejauh ini mengadopsi sikap hati-hati UE, meskipun ini dapat berubah dalam waktu dekat.

Sementara itu, salah satu masalah terbesar di negara yang dikenal dipimpin oleh kaum muda ini ironisnya adalah penduduknya yang menua dengan cepat. Lebih dari 17,7 persen penduduk Estonia berusia di atas 65 tahun, yang dengan cepat menguras sumber daya negara dan menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang akan merawat mereka–terutama karena populasi Estonia diperkirakan akan berkurang secara signifikan dalam waktu dekat.

Secara keseluruhan, Estonia berhasil membangun ekonomi dan sistem sosialnya dari awal, melampaui banyak negara yang sebelumnya lebih maju dengan mengambil risiko pada teknologi terbaru, menopang pembangunan dengan utang, dan menerapkan layanan publik yang inovatif.

Tapi berapa lama negara bisa tetap di depan ketika negara-negara Baltik lainnya serta negara-negara besar melalui Eropa Timur sekarang maju dengan banyak strategi yang sama?

Transformasi Estonia (juga Latvia, dan Lituania) sangat mengagumkan. Banyak negara bekas Soviet lainnya terus berjuang melawan korupsi yang merajalela, salah urus ekonomi, dan tingkat kemiskinan yang tinggi. Namun, negara-negara Baltik ini secara kolektif menunjukkan bagaimana menggunakan sektor publik dan swasta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengatasi kemiskinan.

Melalui investasi dalam kebebasan ekonomi, undang-undang anti-korupsi yang kuat, dan keinginan untuk memerintah secara lurus dan bersih, model Baltik berfungsi sebagai bukti empiris bahwa keajaiban ekonomi mungkin terjadi terlepas dari apapun masa lalunya.

Sumber:

Horra, Luis Pablo de la. “How Estonia-Yes, Estonia-Became One of the Wealthiest Countries in Eastern Europe: Luis Pablo De La Horra.” FEE Freeman Article, Foundation for Economic Education, 23 Mar. 2018, https://fee.org/articles/how-estonia-yes-estonia-became-one-of-the-wealthiest-countries-in-eastern-europe/.

“Estonia: The Rise of the Baltic Tiger.” DHL, https://www.dhl.com/global-en/home/about-us/delivered-magazine/articles/2019/issue-2-2019/estonia-the-rise-of-the-baltic-tiger.html.

“How the Baltic States' Economies Exploded Post-U.S.S.R.” BORGEN, 28 Mar. 2021, https://www.borgenmagazine.com/baltic-states-economies/.

“The Estonian Economic Miracle.” The Heritage Foundation, https://www.heritage.org/report/the-estonian-economic-miracle.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini