Kurangi Konsumsi Beras, Begini Langkah Vietnam Meminimalisir Gas Rumah Kaca

Kurangi Konsumsi Beras, Begini Langkah Vietnam Meminimalisir Gas Rumah Kaca
info gambar utama

Pasca COP26 atau 2021 United Nations Climate Change Conference di Glasgow, banyak negara yang menggalakkan upaya-upaya mereka untuk menjaga lingkungan demi meminimalisir dampak perubahan iklim. Hal tersebut dilakukan negara-negara di seluruh dunia, tanpa terkecuali Vietnam, negara yang dijuluki sebagai negara lumbung padi Asia Tenggara.

Julukan itu nyata, berkat kondisi negara Vietnam yang merupakan salah satu negara pengekspor beras terbesar di Asia. Beras menjadi makanan pokok bagi orang-orang di Vietnam dan juga merupakan ekspor utama bagi perekonomian negara.

Vietnam merupakan salah satu dari banyak negara yang berkomitmen untuk mengurangi produksi gas rumah kaca pada COP26 di Glasgow. Untuk memenuhi komitmen tersebut, negara di Asia Tenggara perlu melihat beras yang awalnya dianggap sebagai salah satu ekspor utama negara dan makanan pokok, tetapi juga penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar kedua di antara bahan makanan setelah daging sapi.

Kini Vietnam melakukan tinjauan ulang mengenai beras sebagai penghasil metana yang besar di tengah perubahan iklim yang melanda negara-negara di dunia. Oleh karena itu, beras tidak bisa diproduksi seperti sedia kala, karena teknik penanaman yang lebih alternatif terhadap lingkungan juga diperlukan. Ini merupakan salah satu janji dari Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, untuk mengurangi emisi metana sampai angka 30 persen pada tahun 2030.

Pertanian padi di Sungai Mekong, sungai yang terkenal di daerah Vietnam, menghadapi tantangan ganda. Bukan hanya tanamannya yang menjadi sumber emisi dan harus diatasi dengan teknik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Perubahan iklim juga menyebabkan petani menghadapi kendala dalam menanam padi, terhitung sejak bulan Mei.

Cara Vietnam meminimalisir gas rumah kaca

Sawah © Unsplash/Sandy Zebua
info gambar

Sebagai salah satu tanaman yang memproduksi emisi, padi sebagai tanaman biji-bijian yang ditanam dengan permukaan yang harus tergenang air. Membuat tidak adanya pertukaran udara antara tanah dan atmosfer, berarti bakteri penghasil metana dapat berkembang biak. Ketika dilepaskan ke udara, gas tersebut lebih dari 25 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam memerangkap panas di atmosfer.

Bjoern Ole Sander, perwakilan negara Vietnam untuk International Rice Research Institute, mengatakan pertanian padi berkontribusi signifikan terhadap emisi metana di seluruh dunia. Di Vietnam, jumlah gas yang dilepaskan dari tanaman bahkan lebih tinggi dari rata-rata global.

Dari semua gas rumah kaca yang dihasilkan Vietnam, 15 persen berasal dari beras. Hal ini membuat para petani harus bekerja lebih ekstra untuk menemukan metode panen yang lebih ramah lingkungan.

Tantangan perubahan iklim dalam memproduksi tanaman, terkhusus padi. Sungai Mekong telah mengalami peningkatan kasus kekeringan dan banjir, sementara air laut menyusup lebih jauh ke wilayah dataran rendah. Para petani sangat terpengaruh oleh pola cuaca yang tidak stabil di wilayah tersebut.

Dikutip dari Aljazeera, sekitar 33.000 hektar padi rusak selama kekeringan dan 70.000 rumah tangga tidak memiliki cukup air untuk menanam padi atau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tekanan lingkungan telah mendorong pemerintah Vietnam untuk mengembangkan berbagai alternatif. Sekarang, pemerintah juga mendorong orang untuk menanam buah atau mendirikan peternakan ikan dan makanan laut. 

Pada tahun 2030, pemerintah berharap dapat mengurangi luas lahan untuk penanaman padi di Delta sebesar 300.000 hektare, 20 persen lebih kecil dari 1,5 juta hektare yang ditanam tahun ini.

Para peneliti sedang bereksperimen dengan teknik produksi baru yang akan mengurangi dampak bagi iklim dari proses penanaman padi. Teknik mitigasi yang sangat menarik adalah metode pembasahan dan pengeringan alternatif.

Jika dilakukan dengan benar, metode ini dapat mengurangi bakteri penghasil metana sekitar 50 persen. Selain itu, ia memiliki manfaat tambahan untuk mengurangi jumlah air yang dibutuhkan tanpa mempengaruhi hasil panen.

Untuk menerapkan teknik ini, petani membiarkan ketinggian air turun di bawah permukaan antara 10 dan 15 sentimeter. Setelah permukaan air turun, tanah dapat diairi kembali dan ladang berganti-ganti dalam siklus basah dan kering.

Namun, dukungan keuangan diperlukan untuk mulai menerapkan metode ini. Meskipun begitu, pemerintah Vietnam tengah mengusahakan untuk mulai mengimplementasikan.

Metode ini sembari mengakomodasikan perekonomian petani mereka yang sempat surut, dengan mendorong mereka masuk ke budidaya, seperti budidaya udang. Selain itu, Vietnam telah membuktikan komitmennya dengan langkah-langkah kecil untuk mengurangi gas rumah kaca dengan mengurangi produksi dan konsumsi beras.

Referensi:Kemlu | Aljazeera | Aljazeera News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini